Minggu 22 September 2019, 08:00 WIB

Pengusaha Tiongkok Buka Pasar Sarang Walet Indonesia

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Pengusaha Tiongkok Buka Pasar  Sarang Walet Indonesia

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

 

INDONESIA terus berupaya meningkatkan kerja sama perdagangan dengan Tiongkok yang merupakan salah satu pasar terbesar dunia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita baru saja melakukan pertemuan bilateral dengan Executive Deputy Director of the Administrative Committee of Guangxi Pingxiang Integrated Free Trade Zone, Wang Fanghong, di Guangxi, Tiongkok, Jumat (20/9).

Dalam pertemuan itu, Indonesia meminta akses pasar lebih besar bagi produk asal Tanah Air untuk masuk ke ‘Negeri Tirai Bambu’, terutama buah-buahan dan sarang walet.

“Guangxi dan Fujian itu zona perdagangan bebas, daerah dengan status ekonomi khusus. Dua provinsi itu bisa menjadi pintu masuk bagi produk Indonesia,” kata Enggartiasto melalui keterangan resmi, kemarin.

Pemerintah Tiongkok pun menyambut permintaan itu dengan positif. Kedua negara kemudian melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Edible Bird’s Nest Processing Project Settled In.

Dengan kesepakatan itu, Tiong kok berkomitmen menyerap produksi sarang burung walet setengah jadi dari Indonesia melalui dua provinsi tersebut untuk kemudian diolah menjadi produk jadi.

Sebelumnya, para pelaku usaha dalam negeri kesulitan mengirim sarang burung walet ke Tiongkok. Pasalnya, pemerintah setempat hanya mengizinkan impor untuk produk olahan jadi.

“Kita harus bisa mengoptimalkan peluang ini. Tiongkok membuka diri menerima berbagai produk dari Indonesia dan kita harus memanfaatkan itu sebaik-baiknya,” ujar Enggar.

Di sisi lain, para pelaku usaha makanan dan minuman yang berstatus usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia juga didorong agar memanfaatkan peluang perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang mulai diterapkan akhir 2019.

“Perjanjian dagang dengan berbagai negara tidak hanya menga­komodasi pelaku usaha besar. Pelaku UKM memiliki hak sama untuk mendapat akses pasar ke negara mitra. Ini yang perlu dipersiapkan. Pelaku UKM harus bisa memproduksi komoditas makanan dan minuman dengan kualitas baik dan kemasan apik sehingga menarik serta mampu bersaing di luar negeri,” ungkap Direktur Kerja Sama ­Pengembangan Ekspor Kemendag, Marolop Nainggolan, kemarin.

Australia juga membangun pusat pengembangan pangan untuk membantu pelaku UKM  yang ingin memunculkan produk-produk inovasi. (Pra/X-3)

Baca Juga

Antara/Umarul Faruq

Akibat Pandemi, Kerugian Negara Bisa Capai Rp 316 Triliun

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Selasa 02 Juni 2020, 20:13 WIB
Angka itu mengacu perhitungan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020, yakni 2,97%. Pandemi covid-19 mengoreksi proyeksi...
MI/Bary Fathahilah

KSPI: New Normal? PSBB Saja Banyak Tidak Patuh

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Selasa 02 Juni 2020, 19:11 WIB
Pemerintah diminta mengganti istilah new normal menjadi physical distancing yang terukur. Sebab, dinilai lebih mudah dipahami masyarakat...
DOK BUKOPIN

Mengenal Lebih Dekat KB Kookmin Bank

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 02 Juni 2020, 19:09 WIB
Bank yang berbasis di Korea tersebut tercatat sebagai bank dengan pencapaian net income terbesar di Korea sepanjang tahun...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya