Sabtu 21 September 2019, 22:22 WIB

Manusia dan Perubahan Iklim

Adiyanto, Wartawan Media Indonesia | Opini
Manusia dan Perubahan Iklim

Dok.Mi
Adiyanto

SABTU (21/9) akhir pekan ini, dunia merayakan dua hal penting, yakni World Clean Up Day, hari bersih-bersih lingkungan dan World Peace Day, hari perdamaian internasional.

Gerakan yang pertama (World Clean up Day) digagas Rainer Nõlvak, pengusaha yang juga aktivis lingkungan dari Estonia. Gerakan sipil yang mula dilakukan pada 2008 ini,  bertujuan menghimbau orang di seluruh dunia untuk bergabung dengan serangkaian acara bersih-bersih sampah.

Sedangkan hari Perdamaian Dunia merupakan program yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-bangsa yang dimulai sejak 38 tahun silam. Tujuan dari gerakan ini adalah memperkuat cita-cita perdamaian di seluruh dunia. Secara kebetulan, tema World Peace Day tahun ini, Climate Action for Peace, nyambung dengan gerakan yang pertama. Masalah perubahan iklim memang telah menjadi sorotan dalam satu dekade terakhir.

Seperti diungkapkan sejarawan Yuval Noah Harari, dalam bukunya Homo Deus, kecil kemungkinan (bukan berarti mustahil) terjadi perang di masa kini. Sebab, menurut dia, manusia saat ini sangat memperhitungkan untung rugi. Daripada berperang (dalam artian konflik bersenjata) yang akan memakan biaya besar, manusia atau negara cenderung untuk saling bekerja sama sambil mengupayakan keuntungan. Amerika Serikat, misalnya, kini mungkin harus berpikir seribu kali untuk menyerang Iran atau Korea Utara. Beda dengan Jerman di era Hitler yang main hajar, atau zaman suku-suku kuno yang masih barbar.

Selain perang, persoalan lainnya yang kerap jadi momok manusia di masa lalu adalah kelaparan dan wabah penyakit. Dua persoalan itu, kata Harari, kini juga relatif berhasil diatasi manusia. Sekarang diabetes justru lebih menakutkan ketimbang busung lapar. Di dunia kesehatan, inovasi bioteknologi telah berhasil menangani ancaman virus dan bakteri yang dulu dapat jadi pemusnah massal.

Salah satu musuh bersama yang paling nyata umat manusia saat ini justru adalah ancaman perubahan iklim. Sebab, bencana kekeringan, banjir, atau badai, tidak hanya menjadi ancaman bagi negara-negara miskin, tapi juga negara kaya. Dan dari semua bencana itu, manusia ikut andil di dalamnya.

Di tengah kesibukan rutinitas harian, seperti bekerja dan mengurus keluarga, persoalan sedotan dan kantong plastik mungkin saja bukan jadi urusan utama kita. Tapi, mau tidak mau atau suka tidak suka, dampak dari bahan-bahan itu bisa menjadi ancaman bagi masa depan anak-cucu, juga bagi keberlangsungan planet ini. Itu yang harus diingat.

Makanya, upaya mewujudkan perdamaian kini bukan lagi sekadar mencegah perang tapi juga membangun kesadaran tentang kesia-siaan untuk saling bunuh dengan berbagai jenis senjata, beserta dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Begitu pun dengan upaya mengatasi perubahan iklim, tidak bisa sekadar mereduksi bahan-bahan yang sukar didaur ulang atau menghentikan pemakaian aerosol yang dapat melobangi ozon, melainkan juga harus dibangun kesadaran akan bahaya itu semua bagi mata rantai atau siklus kehidupan seluruh mahluk, terutama manusia.

Sebab, meski dibekali otak yang lebih baik dari simpanse, manusia tidak selalu digerakan oleh rasionya. Akal sehatnya kadang tumpul dan dapat berakibat pada kekerasan dan keserakahan. Perang dan segala kerusakan yang terjadi di muka bumi ini adalah mungkin. Oleh karena itu, kita sebagai manusia, jangan pernah lelah untuk selalu saling mengingatkan. Seperti kata John Lennon, War is over (if you want it).(A-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More