Minggu 22 September 2019, 03:20 WIB

Merayu Paris dengan Detail Adati

Suryani Wandari | Weekend
Merayu Paris dengan Detail Adati

MI/ADAM DWI/PIUS ERLANGGA
BUSANA LISA FITRIA, ALI CHARISMA, SAPTO DJOJOKARTIKO

"DEMAND etnik hanya 20%," ujar Ali Charisma dalam jumpa pers Road to  La Mode Sur La Seine a Paris, di Jakarta, Jumat (20/9). Sesuai dengan namanya, acara tersebut ialah rangkaian awal dari peragaan yang akan digelar akhir September di atas perahu pesiar Boreas yang melintasi Sungai Seine, Paris, Prancis. 

Peragaan yang diikuti 18 label Tanah Air tersebut terselenggara atas kerja sama Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan dukungan beberapa kementerian.

Ali yang juga Ketua Nasional IFC mengungkapkan, jika koleksi yang dibawanya mengikuti dengan selera pencinta mode di Paris. Dengan permintaan unsur etnik yang minimal, desainer asal Bali itu membawa koleksi resor yang ringan dengan detail pola bunga tiga dimensi di bagian dada hingga lengan.

Palet putih digunakan untuk koleksi yang terdiri atas gaun maxi, gaun berpotongan dada rendah, hingga jumpsuit. Sementara itu, kesan mewah sekaligus feminin bak dewi-dewi dimunculkan lewat potongan-potongan ekstra panjang melambai ataupun rumbai, baik pada lengan maupun outer menerawang.

"Koleksi ini adalah pakaian resor yang terinspirasi oleh pantai matahari dan langit di Bali yang merupakan tempat yang saya sebut rumah dan surga," ungkapnya. Ali melanjutnya gaya ringan melambai juga sekaligus sebagai representasi air laut yang diembus angin. 

Sementara itu, meski minim, unsur adati ia masukkan lewat penggunaan batik cap dari Yogyakarta. Keberadaannya yang minimal membuat unsur adati itu tidak terlihat jelas, tapi menjadi kejutan kecil yang unik.
Desainer lainnya, Lisa Fitria, juga berstrategi dengan batik. Meski begitu, ia menerapkan unsur adati dalam porsi banyak.

Lisa lebih memilih motif batik yang disematkan pada sepatu boots tingginya dengan motif batik dalam koleksi berjudul Lady Rider  Vol.02 ini. "Masih terinspirasi dengan dunia pencinta motor seperti Muffest sebelumnya. Muffest lebih pada gaya motif jalanan motor moge, sedangkan kali ini gaya motor sport," ungkap Lisa.

Dari sini, tentu sudah dapat ditebak gaya busana yang terinspirasi dari dunia penggemar otomotif ini lebih edgy dan sporty. Ia juga  menggunakan kekayaan lokal Indonesia dengan mengubah denim yang diproses batik dengan motif kawung yang bekerja sama dengan artisan batik ternama dari kota Semarang, yaitu Wastra Batik By Olif Kinanthi. "Umumnya di market adalah denim yg di-print motif batik, tapi koleksi saya denim yang diproses batik. Namun, karena bahan kainnya tebal, perlu proses pewarnaan berulang-ulang baru kemudian proses di-lorod," kata Lisa menceritakan teknik pewarnaan pada denimnya.

Yang unik, potongan bagian depan celana denim itu ditempelkan begitu saja di bagian rok berbahan tile. Tampilannya semakin edgy dengan kombinasi kain tenun lurik bermotif garis dalam warna monokrom.

Desainer lain yang ambil bagian ialah Deden Siswanto. Desainer senior asal Bandung itu masih menerapkan ciri khasnya yang serbatumpuk dan padu padan beragam material adati. 

Kali ini, ia mengemasnya dalam gaun-gaun trapesium berleher tinggi dan bertumpuk. Volume set busana itu masih ditambah lagi dengan outer dalam warna yang lebih cerah dan motif yang lebih atraktif.

Dalam satu set busana itu, Deden bisa mencampur kain batik dan songket, tanpa digunting. Kemudian, ada pula lapisan kain katun ataupun tile yang menciptakan tampilan warna berbeda saat menjadi lapisan atas batik. Meski memilih tajuk Wayang Ti Dahyang untuk koleksinya, Deden tidak memasukkan motif wayang. 

"Tak ada motif wayang, saya hanya pakai siluetnya yang trapesium sehingga batik yang digunakann lebar dengan memakai teknik no cutting serta manipulasi bahan," kata Deden.

Tumpang-tindih kain adati juga ditampilkan Sofie dalam koleksinya berjudul Utiltarianism. Ia menggunakan bahan lurik dan tenun tradisional. 

"Ini terinspirasi dari dari kaum urban yang gemar mengeksplorasi untuk utility atau kebahagiaan dan kepuasan. Saya memadukan motif dan style dengan ciri khas gaya asimetris," jelas Sofie. Para desainer berharap koleksi yang mereka bawa bisa menggaungkan potensi industri fesyen Indonesia di Paris.

Sulaman
Pada peragaan mode berbeda yang berlangsung bulan lalu, Sapto Djokokartiko juga bermain dengan unsur etnik. Pada koleksi bertajuk Wisik yang diperagakan Selasa (20/8) di Jakarta, Sapto terinspirasi perayaan seni dan wayang dari kota kelahirannya di Sriwedari, Solo, Jawa Tengah.

"Setiap kali saya pulang ke Solo, saya selalu menyempatkan untuk menonton pertunjukkan wayang. Meski sudah banyak adaptasi modern dan kontemporer dari cerita pewayangan, tampaknya penikmatnya masih dari generasi yang tua," kata Sapto.

Meski mengambil wayang sebagai inspirasi, Sapto tak menuangkannya secara gamblang membentuk wayang langsung, hanya mengambil sedikit demi sedikit motif wayang, seperti sampur, modang, dan tirto tedjo, lalu dikombinasikan dengan motif lain yang ia kreasikan sendiri.

Motif-motif itu kemudian hadir dalam sulaman ke atas kain dalam bentuk outer, gaun maxi, atasan draperry, hingga jaket panjang untuk pria ataupun perempuan.

Yang menarik, meski inspirasi wayang Solo, Sapto tidak menggunakan warga Sogan, ia malah menyuguhkan warna-warna netral dan neon. "Karya ini bisa dikatakan keluar dari zona nyaman saya," pungkasnya. (M-1)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More