Sabtu 21 September 2019, 20:40 WIB

Batik Tulis Istimewa dari Sriekandi Patra

Dwi Tupani G | Ekonomi
Batik Tulis Istimewa dari Sriekandi Patra

MI/Dwi Tupani
Wawan (depan), bersama pembatik Sriekandi Patra, Tari, Sri, dan Ifa, saat ikut workshop di Desa Tawangsari, Kabupaten Boyolali.

 

DARMAWAN namanya, biasa dipanggil Wawan. Usianya sekitar 15 tahun. Jika anak-anak seusianya pergi ke sekolah di pagi hari, Wawan justru terlihat serius membatik sebuah kain sepanjang 2,5 meter dengan menggunakan kuas.

"Saya enggak bisa kalau pakai canting. Makanya saya (membatik) pakai kuas," ucapnya saat ditemui di Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (20/9).

Wawan terus membatik sambil duduk bersila. Ia bercerita ceplas-ceplos bahwa ia cuma terlambat satu hari dari target menyelesaikan selembar kain batik selama satu minggu.

"Cuma terlambat satu hari. Harusnya kan ada kompensasi," ucap Wawan.

"Kompensasi? Dispensasi kali maksudnya?" tanya rekan-rekan media sambil tertawa, saat berkunjung ke rumah warga desa yang juga workshop tempat Wawan membatik.

Wawan merupakan satu dari lima orang yang mengikuti program Difablepreneur Sriekandi Patra di Desa Tawangsari. Program itu merupakan bagian dari CSR PT Pertamina (persero) Marketing Operation Region (MOR IV), Terminal BBM Boyolali.

Setelah dilihat lebih dekat, Wawan ternyata tidak bisa menggerakkan bagian bawah tubuhnya karena kaku. Dalam kesehariannya bekerja membatik, ia diantar jemput dan dibopong oleh orangtuanya ke tempat workshop.

"Alhamdulillah sekarang sudah ada kursi rodanya. Sebelumnya mobilitas Wawan lebih terbatas lagi," ungkap Community Development Officer, Pertamina MOR IV, Noor Azharul Fuad, pada kesempatan yang sama.

Di tempat itu bukan hanya ada Wawan. Ada tiga anggota lainnya yaitu Sri, Tari, dan Ifa. Sementara satu anggota lainnya, Yuni, kini tinggal di Yogyakarta. Mereka berselisih beberapa tahun di atas Wawan.

Menurut Noor,  Sri, yang dulu dikenal sebagai orang bisu pemarah, kini bisa sering senyum. Ia menjadi lebih ramah setelah punya keterampilan membatik dan lebih banyak bersoasialisasi.

"Orang-orang ini awalnya seperti dijauhi masyarakat. Hingga akhirnya terlihat potensi bahwa kaum disabilitas bisa membatik," katanya.

Anggota lainnya,Tari, tinggal di lain desa. Ia rela membayar tetangga untuk antar jemput dia agar bisa ikut program difablepreneur.

"Karena pernah sakit dan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Tari enggak pernah keluar rumah," kata Noor.

Setelah mendapatkan fisioterapi, perempuan berusia 30 tahun ini akhirnya bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan lebih baik. Ia kini yang menjadi desainer penggambar motif sekaligus pembatik yang paling baik di kelompok tersebut.

"Semua batik di sini yang menggambar Bu Tari, dia desainernya. Baru kemudian yang lain yang menyanting (menebalkan gambar dengan canting)," tutur Noor.

Baca juga: Japangmas untuk Pangkas Rantai Distribusi Tengkulak

Noor bercerita, program difablepreneur bermula saat pihaknya memetakan kelompok rentan di Desa Tawangsari yang berjarak beberapa kilometer dari Terminal BBM Boyolali. Di Desa Tawangsari ternyata ditemukan 29 orang difabel yang kondisinya kurang baik.

"Dari pemerintah daerah setempat, tidak ada data anak disabilitas. Adanya data masyarakat miskin. Sementara masih banyak warga yang menyembunyikan anak disabilitas," ungkap Noor.

Hal ini terjadi pada kasus Ifa. Menurut Noor, awalnya orangtua Ifa menolak anaknya ikut program karena dianggap lemah otak, sehingga lebih baik tinggal di rumah saja. Kurangnya dukungan keluarga membuat Noor harus mengantar jemput Ifa ke lokasi workshop.

"Setelah beberapa waktu berjalan dan dilihat hasilnya, orangtua Ifa akhirnya mau mengantar jemput anaknya membatik. Ifa ini yang paling rapi membatik motif yang kecil-kecil," tambahnya.

Noor mengenang suka-duka mengumpulkan warga disabilitas ikut program ini di 2017. Menurutnya, peserta pertama yang mau ikut program Difablepreneur Sriekandi Patra bernama Yuni Lestari, 27, seorang penderita cerebral palsy.

"Salah satu kisah sukses kami adalah Yuni. Dia penderita cerebral palsy. Hanya satu tangan kiri yang bekerja normal. Sementara anggota tubuh lainnya kaku, berjalan pun ia sulit," tutur Noor.

Yuni, kata Noor, kemudian diberi alat bantu berjalan (walker) dan pelatihan fisioterapi dan psikososial. Ia pun mendapat kesempatan magang dan keterampilan membatik di workshop PT Zola Permata Indonesia di Yogyakarta. Yuni sekarang mendapat kerja di Bantul, dan tinggal di sana bersama suaminya.

"Itu juga awalnya enggak mudah. Orangtua  Yuni harus diyakinkan dengan jaminan Bu Lurah (Tawangsari) agar anaknya boleh ikut pelatihan di Jogja."

Menurut Noor, meski sudah terampil membatik tidak lantas membuat Yuni lupa akan desanya. Ia yang meyakinkan warga lainnya untuk ikut program difablepreneur tersebut. Bahkan  Yuni menjadi guru bagi empat anggota lainnya, termasuk Wawan.

Dibantu relawan

Di 2018, Terminal BBM Boyolali, PT Pertamina MOR IV menggelontorkan dana hingga Rp100 juta untuk mengembangkan progran difablepreneur tersebut. Namun Noor mengakui, Pertamina tidak bekerja sendiri dalan menjalankan program tersebut. Ada empat relawan ibu rumah tangga yang membantu hingga akhirnya workshop Sriekandi Patra bisa beroperasi sejak 9 April 2018.

"Salah satunya Ibu Sri Maryatun yang mau rumahnya dijadikan workshop Sriekandi Patra ini," kata Noor.

Tun, sapaan Sri Maryatun, mengaku bersama tiga ibu rumah tangga lainnya tergerak untuk membantu program ini karena mereka berempat memiliki latar belakang relawan di lingkungan. Mereka aktif sebagai kader posyandu dan juga PKK.

"Kami berempat mau membantu anak-anak di sini. Karena kalau enggak dibantu enggak bakalan bisa (berjalan program ini)," tuturnya.

Dengan bantuan empat relawan, workshop di rumah Sri Maryatun ini bisa beroperasi setiap hari Senin - Jumat, pukul 09.00 WIB - 15.00 WIB.

"Jam kerjanya (para pembatik) memang lebih pendek dari jam kerja pabrik. Mereka pun tidak dipaksakan target tertentu," ungkapnya.

Akan tetapi, dengan keterampilan membatik yang semakin baik, lanjut Tun, anggota Sriekandi Patra ini rata-rata bisa menyelesaikan satu kain baik dalam 10-15 hari.

Keterampilan membatik anggota difablepreneur tersebut tidak kalah dengan yang ada di pasaran. Karya batik tulis Wawan dan empat orang lainnya terlihat apik dan juga bernilai ekonomi. Misalnya kain batik persegi untuk sarung bantal ukuran 30 cm x 30 cm dihargai Rp100 ribu. Sementara kain batik tulis sepanjang 2,5 meter dihargai Rp750 ribu.

"Awalnya memang mereka membatik kain kotak untuk sarung bantal. Makanya di workshop paling banyak sarung bantal. Namun kemudian keahlian mereka berkembang jadi bisa membuat selendang, dan juga kain panjang 2,5 meter," tambah Tun.

Uang hasil penjualan batik tersebut, kata dia, digunakan untuk membayar upah para pembatik dan juga diputar untuk modal usaha. Ia menyebut, penggambar batik mendapat upah Rp100 ribu per lembar kain, dan penyanting mendapat upah Rp100 ribu per lembar kain.

Baca juga: Pertamina MOR I Latih Petugas SPBU Sumut soal Keselamatan Kerja

Saat ini kelompok Srikandi Patra, melalui bantuan GM Region Pertamina MOR IV, sedang dalam tahap mematenkan motif batik Lembu Patra ke Dirjen HAKI.

"Batik dengan motif ini sudah dipakai menjadi seragam di Terminal BBM Boyolali setiap hari Rabu," ujar Operation Head Terminal BBM Boyolali PT Pertamina (persero) MOR IV, Mangku Hidayat Basuki di tempat sama.

Mangku mengatakan, untuk terus mengembangkan program difablepreneur, alokasi dana CSR 2019 dialokasikan untuk membangun sarana dan prasarana workshop Sriekandi Patra yang ditargetkan selesai Oktober 2019.

"Setelah workshop jadi, fokus CSR tidak cuma membatik, tetapi memjadi pusat kegiatannya difabel. Kalau ada dari desa lain yang ingin memberdayakan kelompok difabel, mereka bisa belajar di workshop," ulas Mangku.

Ia optimistis, dengan memberdayakan masyarakat difabel, Pertamina tidak hanya memberdayakan masyarakat yang sebelumnya 'tidak dianggap', tetapi juga mengubah nasib mereka kelak. (A-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More