Minggu 22 September 2019, 02:50 WIB

Menolak Menjadi Pengecut

(Zuq/M-3) | Weekend
Menolak Menjadi Pengecut

MI/AGUNG WIBOWO
Guru Besar Tetap di Departemen Manajamen Hutan (MNH) Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB)

SEBAGAI ilmuwan dengan segudang aktivitas, Herry Purnomo mengaku menikmati beragam kegiatan, terutama berkolaborasi dengan peneliti lain. Ketika bekerja dengan ilmuwan asing, adrenalinnya terpacu. Pasalnya, ia ingin membuktikan ilmuwan Indonesia tidak bisa disepelekan. Baginya, setiap kolaborasi juga punya kompetisi.

"Jadi, saya selama di CIFOR menemukan semangat, adrenalin karena kempetitornya enak, kolaboratornya juga enak," ucap Herry ketika ditemui di kantornya di Bogor, Kamis (19/9).
Herry mengaku tidak pernah minder ketika berhadapan dengan para peneliti asing atau dari universitas terbaik dunia. Sebaliknya, Herry mengaku makin bersemangat untuk memberikan yang terbaik.

"Kalau saya adrenalinnya tumbuh kalau ngomong kayak gitu-gitu, presentasi di depan ilmuwan Cambridge (University). Senang. Termotivasi," tambahnya.
Karakter itu tidak lepas dari pendidikan yang diberikan orangtuanya. Saat ia menjadi mahasiswa baru, ia sempat bangga menyandang status mahasiswa. Namun, yang ia lihat tidak sesuai.

"Saya punya pengalaman saat menjadi mahasiswa baru. Begitu pulang dari IPB ke Lumajang, saya jalan-jalan ke pertanian. Sebagai mahasiswa baru saya bilang ke bapak, gimana ini bertani kok cara memupuknya salah," kenang Herry.

Sang bapak meminta Herry mengerjakan cara bertani yang benar, tidak sebatas ucapan atau kritik. "Bisanya kok ngomong saja. Kalau mau kerjakan, ya kerjakan. Ubahlah sesuatu. Masak di sekolahkan jauh ke Bogor, bisanya cuma ngomong doang. Kalau cuma ngomong, itu banyak," ucap Herry sambil menirukan cakapan bapaknya, yang selalu ia kenang.

Seiring dengan pergaulan internasionalnya, Herry banyak bersentuhan dengan budaya asing. Menurutnya budaya asing yang baik harusnya ditiru, bukannya dimusuhi. 

"Memang etika internasional biasanya saling menyanjung, saling memuji. Kayak kalau dua kesebelasan di Liga Inggris mau beradu, mereka tidak saling meremehkan, saling menyanjung. Kalaupun mereka akhirnya menang tetap saja disanjung, tidak dicela. Budaya gitu seharusnya kita tiru, menyanjung lawan," tambahnya.

Menurutnya, seseorang harus bersyukur ketika mendapat kompetitor yang seimbang. Tidak mudah menemukan lawan sebanding. "Kan menjadi lawan yang seimbang, penting juga. Kita tidak bisa sendirian. Kalau kita menang, kan senang kalau lawan mengapresiasi," terusnya.

Sopan
Bila dari bapaknya, Herry mendapakan pendidikan karakter. Dari sang ibu, ia belajar kesantunan. 
"Kalau dari ibu saya, kalau ada orang yang lebih sukses. Satu-satunya alasan karena dia lebih baik. Sudah selesai, gak ada alasan lain," tambahnya.

Herry ingat ketika sang ibu mengatakan dia pengecut karena mencari alasan dari kekalahan. Bagi ibunya, seorang yang kalah semestinya berbesar hati mengakui kekalahannya. Tidak perlu mencari kambing hitam.
"Saya dulu suka main basket. Tim kita kalah. Terus ditanya sama ibu saya hasilnya. Saya bilang kalah karena kita belajar semua jadi gak sempat latihan. Ibu saya bilang itu cuma alasan, itu namanya pengecut," ujar Herry sembari mengenang masa SMA.

"Kalah ngaku saja kalah. Bagus. Gak usah banyak alasan," tambahnya menirukan ucapan sang ibu dalam bahasa Jawa.
Ibunya mungkin tidak sengaja mengatakan hal itu. Tapi bagi Herry, itulah kebaikan yang diturunkan orangtua pada anak.

"Itu mungkin gak sengaja, tapi itu membekas banget. Jadi, kalau ada orang lebih baik, lebih berhasil, ya karena dia lebih baik saja. Simpel saja," sambungnya.
Hingga saat ini, Herry mengaku masih menjaga karakter itu. Ia selalu bersikap positif, siap kalah sembari berusaha sekerasnya, termasuk saat bermain tenis dengan mahasiswanya.

Herry memang nama besar dalam dunia akademis dan keilmuwan. Di meja akademis, ia selalu menang dari mahasiswanya. Namun, ia sadar tidak semua bisa ia menangkan. Ia berbesar hati untuk mengakui keunggulan mahasiswanya di lapangan tenis. Karena ia merasa banyak orang lain yang lebih baik. "Jadi, kalau di bimbingan (akademis) saya selalu menang lawan mahasiswa, tapi kalau main tenis, kan belum tentu," pungkasnya. (Zuq/M-3)


 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More