Minggu 22 September 2019, 01:30 WIB

Mengubah Pandangan Dunia melalui Foto

Marzuqi Abdillah | Weekend
Mengubah Pandangan Dunia melalui Foto

MI/Marzuqi Abdillah
Pengunjung menyaksikan karya-karya foto jurnalistik terbaik di dunia yang ditampilkan dalam pameran World Press Photo 2019 di Erasmus Huis

BOCAH perempuan itu menangis. Gambar itu sudah cukup memberikan kesan tangis yang menggebu dan bisa jadi disertai suara yang keras. Tangisan keluar dari mulut bocah yang terbuka lebar. Kesan itu kuat dengan posisi pengambilan gambar wajah dari samping. Bocah itu menghadap ibunya yang sedang diperiksa petugas.

Foto itulah yang dinobatkan sebagai World Press Photo of the Year pada kontes World Press Photo 2019. Gambar itu merupakan karya fotografer John Moore dengan judul Crying Girl on the Border.

Foto itu menjadi salah satu yang dipamerkan dalam pameran World Press Photo 2019 di Erasmus Huis Jakarta. Pergelaran yang menampilkan karya-karya foto jurnalistik terbaik di dunia itu berlangsung akhir September 2019.

Selalu ada kisah di balik foto, sama seperti Crying Girl on the Border yang di balik itu ada cerita tentang anak bernama Yanela Sanchez dari Honduras yang menangis ketika dia dan ibunya, Sandar Sanchez, ditangkap petugas perbatasan AS di McAllen, Texas, AS. Foto itu diambil pada 12 Juni 2018. Sandra Sanchez dan putrinya menyeberangi Rio Grande dari Meksiko. Selama sebulan, mereka melakukan perjalanan melalui Amerika Tengah dan Meksiko untuk sampai di AS demi mencari suaka.


Menyentuh hati

Ketika tiba di perbatasan, justru ia ditangkap terkait dengan kebijakan nol ­toleransi yang diumumkan Presiden ­Amerika Serikat, Donald Trump. Imigran yang melewati perbatasan Amerika Serikat bisa ditangkap dan dituntut pidana.
Akibatnya, banyak orangtua yang ditangkap kemudian terpisah dari anak-anak mereka karena dikirim ke berbagai fasilitas penahanan.

Setelah foto itu terbit dan menyebar ke seluruh dunia, otoritas AS mengonfirmasi bahwa Yanela dan ibunya belum ada di antara ribuan imigran yang dihukum. Meski demikian, kemarahan publik membuat Presiden Donald Trump mengubah kebijakan tersebut pada 20 Juni.

Foto selalu bisa berbicara lebih. Ada cerita dan narasi besar di baliknya.

“Saya pikir gambar ini menyentuh hati banyak orang, seperti yang saya miliki karena memanusiakan cerita yang lebih besar. Ketika Anda melihat wajah Yanela dan dia sudah berusia lebih dari 2 tahun sekarang, Anda benar-benar melihat kemanusiaan dan keta­kutan melakukan perjalanan yang begitu panjang dan melintasi perbatasan di tengah malam,” terang John Moore dalam keterangan tertulis yang termuat di website worldpressphoto.org.

John Moore ialah fotografer senior dan koresponden Getty Images.  Selama 17 tahun, dia tercatat telah memotret di 65 negara di enam benua dan dipublikasikan secara internasional. Sejak kembali ke AS pada 2008, ia berfokus pada masalah imigrasi dan perbatasan.

World Press Photo 2019 di­ikuti 4.738 fotografer dari 129 negara dengan total 78.801 foto yang diseleksi juri independen, yakni Nana Kofi Acquah, Yumi Goto, Alice Martins, Whitney Johnson, Paul Moakley, ­Maye­-­­e Wong, dan Neil Aldridge. Mereka merupakan fotografer profesional.

Penilaian para juri didasarkan pada keakuratan, keadilan, dan preferensi. Peserta harus mematuhi kode etik. Semua gambar pemenang diverifikasi secara ketat untuk memastikan karya itu dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. “Detail dalam gambar itu menarik. Dari sarung tangan yang dikenakan petugas patroli perbatasan hingga fakta bahwa tali sepatu telah dilepas,” terang salah satu juri Whitney Johnson.

World Press Photo Foundation percaya pada kekuatan menunjukkan dan pentingnya melihat cerita visual berkualitas. Berawal pada 1955, ketika sekelompok fotografer Belanda menyelenggarakan kontes internasional untuk mengekspos karya mereka kepada audiensi global. Sejak itu, World Press Photo berkembang menjadi kompetisi fotografi paling bergengsi di dunia. Mereka bertujuan menghubungkan dunia dengan kisah-kisah penting di tengah arus kemajuan teknologi informasi yang turut memengaruhi perkembangan jurnalisme. “Kami mendukung kondisi yang memungkinkan jurnalisme visual dan penceritaan, termasuk kebebasan berekspresi, kebebasan menginvestigasi, dan kebebasan pers,” terang para juri dalam pengantar pameran.

Selain World Press Photo of the Year, ada pula penghargaan World Press Photo Story of the Year. Pada kategori itu, terpilih foto berjudul The Migrant Caravan karya fotografer Pieter Ten Hoopen. Foto itu mendokumentasikan karavan migran terbesar dengan 7.000 pelancong, termasuk setidaknya 2.300 anak-anak.

World Press Photo 2019 mengompetisikan berbagai kategori, yakni lingkungan, berita umum, proyek jangka panjang, alam, potret, olahraga, dan spot news. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More