Minggu 22 September 2019, 00:50 WIB

Eksotika Minahasa

Tosiani | Weekend
Eksotika Minahasa

MI/Panca Syurkani
Danau Linow

HARI masih pagi ketika kami memasuki kawasan bukit Mahawu di Kelurahan Kakaskasen Tiga, Tomohon Utara, Minahasa, Sulawesi Utara, pada suatu akhir pekan di penghujung Juli silam. Lokasi Bukit Mahawu terletak di ketinggian antara 900 hingga 1.200 meter dari permukaan laut (mdpl).

Jaraknya sekitar 30 kilometer dari Kota Manado, dengan menempuh jalan menanjak, berkelok, cenderung sempit dengan lebar jalan sekitar 6 meter. Untungnya kondisi aspal cukup bagus sehingga perjalanan 1,5 jam dapat dilalui dengan lancar.

Matahari mengintip dari balik perbukitan sesampainya kami di pintu utama. Masih ada jalanan lebih menanjak dengan kemiringan hampir 60 derajat harus dilalui untuk sampai ke puncak bukit. Saat itu, udara terasa sejuk dingin dengan angin gunung sesekali menerpa.

“Untuk masuk ke lokasi bukit, bia­sanya pengunjung dikenai biaya tiket Rp50 ribu per orang. Tiket itu bisa ditukar dengan kopi gratis di kafe yang ada di area ini,” jelas Steven, salah seorang pengunjung.

Kawasan ini dikenal dengan sebutan Bukit Doa Mahawu. Sebuah tempat wisata religi bagi penganut kristiani. Di sini ada sebuah gereja dengan atap melengkung bak busur di bagian depan dan belakang.

Di sekitar gereja, tumbuh bunga-bunga liar berwarna kuning, dengan latar belakang penampakan Gunung Lokon. Eksotika tempat ini membuat banyak pengunjung berdatangan untuk melakukan foto prewedding di sekitar lokasi. Banyak pula yang memilih menikah di gereja tersebut.

“Setiap hari selalu ada yang berkunjung, biasanya mereka melakukan foto prewedding. Ada juga yang menikah di gereja,” ujar Tante Vina, seorang penjaga kafe Bukit Mahawu. Di Tanah Malesung, alias Minahasa, tante ialaah sapaan untuk perempuan muda yang telah menikah.


Woloan

Puas berfoto-foto di Bukit Doa Mahawu, kami melanjutkan wisata ke Bukit Linow. Mestinya, hanya sekitar 30 menit berkendara untuk sampai ke danau yang menjadi pamor bukit tersebut. Namun, di tengah perjalanan, kami singgah di lokasi pembuatan rumah panggung khas Minahasa secara bongkar pasang (knock down) di daerah Woloan.

Henri Pontoh, 46, warga Tomohon Kolongan, Tomohon Barat, yang menjadi Kepala Tukang di industri rumah panggung tersebut, menjelaskan, rumah panggung dibuat dari kayu besi aliwowos yang sengaja didatangkan dari daerah Gorontalo. Tiap satu unit rumah dijual dengan dengan kisaran harga antara Rp80 juta hingga Rp400 juta.

“Kami memenuhi pesanan rumah panggung, kebanyakan dari luar daerah, seperti dari Bandung, Bogor, dan sekitar Jawa. Biasanya untuk penginapan. Kalau pesanan dari daerah sekitar Minahasa dan Manado biasanya untuk tempat tinggal,” tutur Henri.

Pesanan rumah dikerjakan 10 tukang kayu yang sangat terlatih. Mereka dibayar Rp200 ribu per hari. Henri sendiri sudah bekerja dalam industri pembuat­an rumah panggung khas Minahasa itu selama dua tahun terakhir.

Ia menjelaskan, hal yang membedakan rumah panggung khas Minahasa dari rumah panggung di daerah lainnya ialah bentuk atap rumah dan jumlah tangga. Misalnya, rumah panggung khas Toraja atapnya dibuat lengkung seperti model rumah Minang. Adapun rumah panggung Minahasa atapnya cenderung datar hanya sedikit tonjolan menyerupai segitiga mirip model rumah-rumah di Jawa. Rumah Minahasa juga memiliki tangga di sebelah kanan dan kiri.


Danau Linow

Dari situ, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Linow. Menjelang ketibaan, mulai tercium bau belerang dari kawasan danau. Aromanya serupa bau kentut manusia sehingga jika tidak menyadarinya, bisa saja seisi kendaraan saling tuding siapa yang melepas ‘bom’ tersebut.

Semakin mendekati danau, bau be­lerang kian santer. Konon Danau Linow memang merupakan jejak letusan Gunung Mahawu ratusan tahun silam dan memiliki kandungan sulfur cukup tinggi di dalamnya.

Adapun nama Linow berasal dari bahasa Minahasa, yakni Lilinowan yang bermakna tempat berkumpulnya air. Danau Linow memiliki warna yang berubah-ubah, dari hijau, biru, hingga kuning. Perubahan warna ini lantaran terpengaruh unsur belerang yang tersimpan, mengendap di dalam danau, beradu dengan pencahayaan dari sinar matahari.

Meski aromanya sedikit mengusik, menghabiskan waktu di tepi danau seluas 34 hektare itu terasa menyenangkan saat cuaca cerah. Banyak bebek berenang di pinggiran danau, dan sesekali melintas burung elang, menandakan nuansanya masih sangat alami. Pemandangan ini bisa dinikmati sembari menyantap sepiring pisang goreng dan secangkir kopi hangat.


Puncak Tetetana

Seusai berleha di tepian danau, kami beranjak menuju Puncak Tetetana. Konon dari lokasi ini, pengunjung dapat melihat ke seluruh bagian Kota Manado. Perjalanan ke Tetetana ditempuh sekitar 30 menit dari Danau Linow, dengan kondisi jalan pegunungan yang sempit, berkelok, penuh tanjakan dan turunan.

Kabut tebal menutupi jarak pandang dari kendaraan hanya sekitar 5-10 meter saja. Karenanya, kendaraan harus melaju sangat hati-hati. Di kiri dan kanan jalan tampak lahan pertanian warga terpahat dalam terasering-terasering yang menjadi bonus pemandangan alami sepanjang perjalanan.
Siang itu kami kurang beruntung. Kabut semakin tebal sesampai kami di Puncak Tetetana. Bahkan, gerimis pun ikut turun. Alhasil, tak tampak pemandangan ke seluruh penjuru Manado dari puncak ini.

Kurangnya informasi mengenai dinamika cuaca Puncak Tetetana ini membuat kami sangat minim persiapan dan perbekalan, terutama untuk mengatasi hawa dingin. Hiburan kami di puncak itu hanya melihat tanaman bunga dan menghirup udara segar. Namun, tak butuh lama sebelum sebagian dari kami mulai menggigil. Akhirnya, pelesiran hari itu pun kami akhiri dengan kembali ke penginapan. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More