Minggu 22 September 2019, 00:10 WIB

Lezatnya Kekunoan dalam Kekinian

Suryani Wandari Putri | Weekend
Lezatnya Kekunoan dalam Kekinian

MI/Rizky Noor Alam
Bebek goreng rempah

LEMBARAN tempe yang diiris tipis itu satu per satu masuk ke adonan tepung yang sudah dibumbui. Bumbu yang digunakan tergolong sederhana, hanya bawang putih bubuk, garam, merica, ketumbar, dan daun bawang, tidak lupa ditam­bahkan air.

Sepintas adonan itu mirip adonan untuk tempe mendoan, hanya lebih kental sehingga saat digoreng tidak banyak adonan yang terbuang karena terlalu encer dan tidak melekat di tempe.

Empat lembar tempe itu kemudian digoreng dengan api besar, lalu diangkat meski belum matang sempurna. Konsep basah dan setengah matang memang menjadi signature dalam memasak penganan asal Purwokerto, Jawa Tengah itu.

Menariknya cara penyajian di Restoran Wulangreh di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, itu berbeda dari biasanya. Sang pemilik, Renny Ajeng, berinovasi bagaimana tempe mendoan bisa disukai banyak orang. “Ide awal sebenarnya dari konsep angkringan yang semua makanan disajikan bisa kembali digoreng atau dibakar,” kata Renny ketika ditemui Media Indonesia, Sabtu (13/9).

Inovasi itu yang membuat Renny mencoba membakar tempe mendoan dengan diberi tambahan bumbu rempah pilihan. Sempat trial and error, ia akhirnya menghadirkan tempe mendoan dengan gaya dan rasa baru. “Kunci kelezatannya ada di bumbu bakar dan itu rahasia dapur,” ungkapnya.

Ia hanya mengatakan salah satu bahannya ialah kecap manis. Penggunaan kecap terlihat dari bumbu oles saat proses pembakaran menggunakan api yang cukup besar.

Suara desisan api bertemu bumbu itu juga menciptakan warna kecokelatan, bahkan cenderung hitam pada permukaan mendoan. “Harus dibolak-balik terus supaya tidak gosong,” kata Renny sambil mendampingi koki restoran. Aroma sedikit gosong itu justru membuat sensasi berbeda ketika menikmati tempe.

Tidak hanya sensasi rasa dari tempe mendoan. Hidangan itu disajikan dengan pendamping sambal ulek yang pedas beserta taburan daun bawang di atasnya. Tampilan hidangan yang dibanderol Rp24 ribu itu sederhana, tapi menyimpan rasa yang lezat. Hidangan tempe mendoan bakar itu diklaim Renny sangat disukai pengunjung vegetarian.

Saat berkunjung ke sini, perempuan asal Semarang itu menyaran­kan mencoba bebek goreng rempah. Bebek berukuran sedang itu disajikan dengan nasi putih dan lalapan berupa selada dan timun.

“Yang spesial bumbunya meresap karena diungkep lebih 4 jam, apalagi pakai bumbu yang cocok di lidah,” kata Renny. Sayang Renny tak mau membeberkan lebih jauh tentang ekplo­rasinya terhadap bumbu rempah yang ia gunakan terhadap bebek goreng rempah khas Sunda itu.

Proses masak dengan bumbu itu ternyata membuat bau amis khas bebek tidak tercium saat hidangan itu disajikan. Daging bebeknya empuk, rempahnya terasa hingga bagian dalam. Sangat pas disantap dengan nasi hangat dan lalap, tidak lupa sambal bawang ulek yang pedas.

Sepintas, sambal ulek yang disajikan pada tempe mendoan dan bebek rempah mirip. Perbedaannya hanya pada penggunaan kecap di sambal ulek untuk tempe mendoan.


Es Jamu

Menikmati hidangan Wulangreh paling cocok dimakan langsung di tempat ini. Pasalnya, restoran yang berbentuk rumah itu memiliki suasana yang nyaman untuk berlama-lama.

Gemercik air terdengar dari kolam di sisi depan rumah. Sejumlah kursi vintage dengan aneka ragam bentuk ditempatkan di bagian luar. Tidak hanya itu, ada sejumlah ruangan untuk workshop, latihan menari, mural aksara, atau wayang.

Tak hanya itu, musik yang dipilih membuat kita betah berlama-lama dengan mengenang dari mana kita berasal. “Konsepnya memang ingin menghadirkan kekunoan dalam kekinian karena memang kami melihat belum ada yang menawarkan kebudayaan di tengah hiruk pikuknya Jakarta,” kata Renny.

Unsur kekunoan itu tampak pada minuman yang disajikan. Ada empat jenis jamu yang mungkin sulit ditemukan di tempat lain. Keempat jamu itu, yaitu beras kencur, kunir asam, gula asam, dan wedang uwuh yang terbuat dari bahan alami, seperti jahe, kayu secang, cengkih, dan kayu manis.
Keempat minuman ini disajikan dengan tambahan es batu.
Tidak hanya melepaskan dahaga, tetapi juga minuman ini menyegarkan tubuh dan memulihkan tenaga setelah menembus kemacetan kota. Tak mengherankan jika minuman ini menjadi pilihan pertama para pengunjung. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More