Sabtu 21 September 2019, 22:50 WIB

Suh Katresnan

Ono Sarwono | Weekend
Suh Katresnan

MI
Pigura

DALAM sejarah manusia hingga saat ini, perbedaaan kerap kali menjadi penyebab permusuhan dan perpecahan. Perbedaan yang sejatinya anugerah, justru tidak jarang dijadikan sumbu pertikaian. Ini kesesatan hidup yang sering terulang akibat lenyapnya rasa eling.

Bangsa ini mesti bersyukur memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Maknanya, meskipun bangsa ini beraneka ragam suku, ras, budaya, bahasa, agama, dan kepercayaan tetap satu kesatuan. Inilah pedoman kebangsaan yang sophisticated, yang mesti dijunjung tinggi sampai kapan pun.

Dalam hal menghargai, bahkan memuliakan pruralisme sebagai kodrat jagat, ada cerita menarik dalam dunia wayang yang bisa dijadikan renungan inspiratif. Ini kisah yang dilakoni putra-putri Raja Mandura, Prabu Basudewa. Mereka seperti tidak menyadari adanya perbedaan, lakunya hanya saling meleburkan diri sehingga terwujudlah keluarga yang utuh, menyatu, dan harmonis hingga akhir hayat.


Saling ngemong

Menurut kisahnya, Prabu Basudewa memiliki tiga putra dan satu putri, yakni Udawa, Kakrasana, Narayana, dan Lara Ireng alias Bratajaya. Sejak lahir, keempat bersaudara itu memiliki warna kulit yang berbeda satu sama lain. Watak dan kepribadian mereka pun tidak sama.

Namun, selama hidup mereka tidak pernah menyinggung, membicarakan, dan mempersoalkan perbedaan mereka satu sama lain. Sejak kecil hingga dewasa, yang mereka kedepankan sikap saling ngemong. Ini sikap saling mengerti, memahami, dan menghargai satu sama lain.

Udawa lahir dari rahim Ken Sayuda yang kemudian bernama Ken Sagopi. Ia putra sulung Basudewa. Kulitnya sawo matang. Wataknya pendiam, setia, dan suka mengalah, yaitu dengan senang hati mengubur dalam-dalam egonya semata-mata demi kerukunan saudara atau keluarganya.

Yang menarik, dari sosoknya yang gagah perkasa, ternyata Udawa dikenal sebagai lelaki yang gampang menangis. Hatinya gampang tersentuh bila melihat hal-hal menyedihkan sehingga air matanya mudah tumpah. Di sisi lain, ia juga sosok yang suka bercanda dan melawak.

Dewasanya, Udawa menjadi patih di Negara Dwarawati. Raja negara itu ialah Narayana, yang tidak lain adiknya sendiri lain ibu. Dalam mengembang tugasnya, Udawa sangat patuh dan loyal terhadap raja.

Kakrasana berkulit putih kemerah-merahan. Wataknya keras, lurus, dan jujur. Dalam pakeliran, ia digambarkan temperamental dan cepat marah, tetapi cepat pula ‘dingin’. Kakrasana juga mudah meminta maaf bila merasa bersalah, meski kepada rakyat jelata sekalipun.

Kakrasana lahir kembar bersama Narayana dari rahim Dewi Mahendra. Ia anak yang sangat patuh dan berbakti kepada orang tua. Kepribadiannya yang demikian itu sudah tampak ketika masa kecil di Dusun Widarakandang. Ia menurut semua perintah ayah angkatnya, Antagopa.

Siapa saja yang mengganggu atau memusuhi bapaknya, akan berhadapan dengannya. Ketika berladang atau bekerja di sawah, Kakrasana tidak akan berhenti atau pulang jika tidak diperintah Antagopa.

Ketika Prabu Basudewa lengser keprabon (turun takhta), Kakrasana yang menggantikannya bergelar Prabu Baladewa. Di bawah kepemimpinannya, Mandura menjadi negara yang semakin makmur dan ayem tenteram.

Meskipun menjadi raja, ikatan kekeluargaan dengan saudara-saudaranya tidak luntur. Baladewa bisa dikatakan jlag-jlig (sering) mengunjungi Narayana yang menjadi raja Dwarawati. Sebagai kakak, ia menempatkan diri sebagai pengganti orangtua kepada adik-adiknya.

Uniknya, hubungannya dengan Narayana ketika sudah sama-sama menjadi orang tua, Baladewa seperti memerankan diri sebagai ‘cantriknya’. Barangkali ini dilatarbelakangi pemahamannya bahwa Narayana merupakan titisan Bathara Wisnu, dewa keadilan dan ketenteraman. Keyakinannya, setiap ucapan dan langkah Narayana merupakan berkah dan kebenaran.

 
Paling pintar

Nayarana sejak lahir berwarna kulit hitam cemani. Berbeda dengan Kakrasana, Narayana ialah tipe anak mbeling (bandel). Bersama tiga saudaranya, semasa kecil Narayana tinggal di Dusun Widarakandang dengan ayah angkat mereka, Demang Antagopa.

Narayana juga bukan orang rumahan seperti Kakrasana. Ia suka pergi hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Hanya Udawa yang selalu menemani kegemaran Narayana masuk-keluar desa.

Namun, kegemaran Narayana meninggalkan rumah bukan untuk mblayang atau dolan. Ia menawaitukannya sebagai laku prihatin. Laku untuk mencari ilmu dan ngelmu, serta menimba pengalaman dan belajar menyerap berbagai persoalan hidup dari siapa pun. Maka itu, tidak aneh bila Narayana juga bergaul dengan bajingan dan begundal.

Di antara ketiga saudaranya, Narayana paling pintar. Ia wasis (pandai) bicara dan cermat membaca semua peristiwa yang bakal terjadi di dunia. Bahasa lain, ia memiliki kecerdasan lahir dan batin.

Narayana pernah menjadi utusan dewa untuk memulihkan ketenteraman Kahyangan yang ketika itu dijajah Yudakalakresna, Raja Negara Dwarakawestri. Berkat keberhasilannya mengemban misi, dewa menyerahkan kekuasaan Dwarakawestri kepada Narayana. Sebagai raja, Narayana bergelar Prabu Sri Bathara Kresna. Nama negara itu pun diubah menjadi Dwarawati.   

Adapun Bratajaya yang beribu Dewi Badrahini berkulit kuning langsat. Mungkin karena satu-satunya perempuan di antara kakak-kakaknya, ia sangat manja. Namun, ada keistimewaannya, kemanjaannya itu sangat ampuh untuk meredam amarah Kakrasana setiap kali murka.

Dewasanya Bratajaya dipersunting Arjuna, kesatria Pandawa yang dari garis ibu ialah adik sepupunya. Dari perkawian itu lahirlah Abimanyu. Kelak, Abimanyu yang menikahi Dewi Utari, menurunkan raja besar pascaperang Bharatayuda, yakni Parikesit.   

Meski sudah menjadi orang tua dan hidup berpisah, hubungan kekeluargaan antara Udawa-Baladewa-Kresna-Bratajaya terus terjalin dengan baik. Mereka saling mengasihi meski dalam beberapa hal, termasuk politik, mereka berbeda sikap, bahkan berseberangan.  


Napas kehidupan

Nilai kisah ini ialah katresnan atau rasa kasih sayang. Itulah yang mereka pupuk dan pelihara bersama-sama. Inilah yang menjadi suh (pengikat) harmonisasi hubungan mereka.
Perbedaan bukan menjadi perpecahan, melainkan justru menjelma sebagai penguat persatuan serta pelangi keindahan persaudaraan mereka.

Dalam konteks kebangsaan, katresnan yang secara kodrati dimiliki setiap insan itulah yang mesti menjadi napas kehidupan kita dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan demikian, bangsa plural ini niscaya abadi hidup rukun dan utuh dalam bingkai negara kesatuan. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More