Sabtu 21 September 2019, 16:10 WIB

Panen Protein Berbekal Lalat dan Sampah

Abdillah M Marzuqi | Weekend
Panen Protein Berbekal Lalat dan Sampah

MI/Abdillah M Marzuqi
Staf Biomagg memeriksa bak-bak plastik berisi larva lalat (maggot/belatung).

RIBUAN, bahkan lebih, lalat terkumpul di ruang yang dikelilingi jaring itu. Sungguh bukan pemandangan yang menyenangkan, malah menjijikkan jika mengingat pengetahuan umum bahwa lalat merupakan pembawa banyak bibit penyakit.

Namun, di pengolahan sampah organik milik Biomagg yang terletak di Depok, Jawa Barat, itu lalat-lalat tadi sangatlah berharga. Lalat tersebut menjadi motor utama untuk mengubah sampah organik menjadi sumber protein alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai industri, mulai pertanian, peternakan, hingga kosmetik.

“Fokus kita mengolah sampah organik, khususnya limbah makanan untuk kita ubah menjadi sumber protein alternatif yang alami untuk pertanian,” terang Chief Executive Office Biomagg Aminudi kepada Media Indonesia, Selasa (10/9).

Ia menjelaskan jika Biomagg sesungguhnya bukan hanya nama usaha, melainkan juga sistem pengolahan sampah organik dengan teknologi biokonversi untuk menghasilkan sumber protein terbarukan dan pupuk alami dengan menggunakan lalat tentara hitam atau yang disebut black soldier fly.

Perusahaan Biomagg berdiri pada Oktober 2015, setelah setahun meriset metode perkembangbiakan lalat hitam pada sampah organik.  

Ada dua kegiatan utama yang dilakukan Biomagg, yakni melakukan pengumpulan sampah organik dan peternakan lalat. Sampah organik harus dipisahkan terlebih dahulu dari sampah anorganik. Amin mengaku masih perlu usaha lebih untuk memilah sampah kendati sudah mengedukasi para pemasok sampah organik.

“Sedikit-sedikit masih ada. Oleh karena itu, kami pilah. Setelah itu, kami cacah, lalu kami lakukan fermentasi. Fermentasi ini kita harapkan bisa meningkatkan nutrisi sampah di limbah makanan itu dan mengurangi bau,” terang Amin.

Sistem Biomagg menghasilkan maggot atau belatung yang memiliki banyak manfaat. Maggot mampu mengurai sampah organik dengan cepat sekaligus mereduksi bau sampah organik.

Maggot lalat tentara hitam punya kandungan protein tinggi yang bisa digunakan sebagai pakan. “Kita punya ini peternakan lalat. Dia akan menghasilkan telur. Inilah yang nantinya menetas dan menjadi mini larva atau mini maggot. Inilah yang nantinya akan mengurai sampahsampah yang telah kita cacah tadi,” tegas Amin.

Saat ini Biomagg mempunyai kapasitas kelola sampah organik 1,5 ton per hari. Dari jumlah tersebut, maggot yang didapat sekitar 10% dari berat sampah karena keberadaan maggot sangat bergantung pada sampah organik sebagai bahan makanan maggot.

Selain itu, dihasilkan pupuk cair dan pupuk padat. Besarannya sekitar 20% dari bobot sampah, sedangkan pupuk padat dari kotoran maggot dengan hitungan 10% dari berat sampah.

Lalat yang mati pun bisa digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan, menurut Amin, kandungan kitin pada selongsong maggot lalat tentara hitam bisa dijadikan pupuk dan berpotensi menjadi material alternatif untuk kosmetik dan produk lain. “Kami bekerja sama dengan beberapa peneliti untuk kitin ini digunakan sebagai bahan baku kosmetik,” ucapnya.

Maggot itu nantinya menjadi kepompong dan kembali menjadi lalat. Dari jumlah maggot yang dihasilkan, 10%-20% digunakan untuk indukan
kembali, sedangkan sisanya dipanen untuk sumber protein alternatif.

“Sebenarnya diseluruh fase mini larva bisa dijadikan pakan. Tinggal yang terbaik adalah ketika ia masih di fase larva putih,” lanjut Amin.

Larva akan berubah warna menjadi hitam ketika sudah siap untuk menjadi kupu-kupu. Pada saat itu, larva sudah tidak butuh makan lagi. Larva itu akan ditempatkan pada ruang jaring untuk menjadi kupu-kupu lalu bertelur dan dipanen.

Siklus lalat tentara hitam hanya 44 hari, yang terdiri atas 9 hari lalat, 3 hari menjadi telur, 18 hari menjadi larva, 14 hari menjadi pupa, lalu menjadi lalat lagi.

Di lokasi hari itu, salah satu staf Research and Development Biomagg Zahrotun Nisa, menunjukkan pemanenan telur lalat. Telur itu berada di bak-bak berisi potongan kayu.

Sayang, hari itu panen tidak terlalu banyak, hanya 3,7 gram. Nisa mengungkapkan, biasanya ia memanen 200 gram telur. Untuk 1 kg sampah, dibutuhkan 1 gram telur lalat black soldier fly.

Lalat yang tak suka kotor

Lalat tentara hitam punya kebiasaan menarik. Meskipun hidup di antara sampah basah, ternyata lalat tentara hitam tidak mau bertelur di medan basah. Ia memang suka dengan aroma sampah organik. Karena itu akan menjamin keturunannya, lava akan cukup makan sampai tiba proses kepompong.

“Kalau lalat lain mau tempat kotor, tapi dia enggak mau. Dia cuma mau baunya,” terang Nisa.

Amin menuturkan bahwa bioteknologi  lalat tentara hitam sangat relevan dan aplikatif jika dibandingkan dengan metode insinerator dan pembakaran yang saat ini banyak digunakan untuk mengelola sampah basah.

“Limbah makanan itu memiliki kandungan air yang sangat tinggi sehingga akan sangat sulit dan sangat perlu energi besar untuk membakar limbah makanan ini sehingga teknologi ini sangat relevan dan sangat aplikatif dan tepat guna untuk mengolah sampah atau limbah basah,” jelasnya.

Oleh karenanya, ia berharap agar pengolahan sampah organik Biomagg bisa tersebar dan diterapkan luas. Menurutnya, Biomagg efektif sebagai sumber protein terbarukan yang terjangkau. Apalagi, Indonesia saat ini mengimpor lebih dari 90%  sumber protein berupa tepung ikan.

“Kita impor banyak sekali sumber protein, padahal Indonesia itu memiliki kekayaan protein yang sangat tinggi, salah satunya dari serangga. Indonesia adalah negara tropis memiliki keanekaragaman hayati serangga yang sangat besar. Salah satunya ialah lalat tentara hitam,” tegasnya. (Zuq/M-1)



 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More