Sabtu 21 September 2019, 14:20 WIB

Sutopo, tidak sekadar Menyebar Info

Mochamad Husni | Weekend
Sutopo, tidak sekadar Menyebar Info

Ist
Cover Buku Sutopo Purwo Nugroho: Terjebak Nostalgia

TIGA tahun lalu, saya menulis buku tentang public relations atau hubungan masyarakat (humas). Meskipun reputasi sangat dipengaruhi program dan kegiatan publikasi di media massa dalam membangun citra, di situ saya paparkan bahwa pada akhirnya karakterlah yang paling menentukan, baik karakter institusi maupun orang-orang di dalamnya.
Ia bahkan menjadi roh yang melandasi seluruh pikiran, perkataan, dan cara bertindak. Maka itu, disorot publik atau tidak, humas senantiasa konsisten dengan reputasi yang hendak (telah) ditanamkan ke benak publik.

Rasanya tak berlebihan bila kita melekatkan kesan pejabat berkarakter
seperti itu pada sosok bernama Sutopo Purwo Nugroho.

Buku tentang sepak terjang, prinsip hidup, kecintaannya pada pendidikan
dan ilmu pengetahuan, juga penguasaannya seputar kebencanaan yang menjadi materi utama pekerjaan, serta ketulusannya sebagai pegawai dari sebuah lembaga negara dapat disimak di buku Sutopo Purwo Nugroho: Terjebak Nostalgia, terbitan Literati pada Agustus 2019.

Berjuang melawan kanker

Ini kisah tentang pribadi luar biasa yang bekerja sebagai Humas Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Juli lalu meninggal dunia setelah gigih melawan kanker paru-paru stadium IVB.

Tentu saja, di atas karya Fenty Effendy, penulis buku-buku inspiratif bermuatan gagasan dan spirit menarik dari tokoh, seperti Jusuf Kalla, Karni Ilyas jurnalis terkenal, Warsito penemu rompi antikanker itu, pada buku ini juga dipaparkan bagaimana seharusnya seorang humas mengemban profesinya.

Humas membangun sistem koordinasi pengumpulan data lapangan, engage dengan para pekerja media, responsif, accesible, serta cepat menyampaikan berita agar masyarakat mengetahui tentang apa yang terjadi sehingga mereka dapat mengambil tindakan tepat.

Perannya sebagai orang yang harus serbapaham dan punya data ilmiah serta
akurat makin terasa dibutuhkan mengingat negara kita berada di ring of fire Pasifik yang rentan terhadap berbagai bencana alam yang sulit diprediksi, seperti gempa, letusan gunung, juga banjir yang mengancam keselamatan masyarakat. "... dia menggarisbawahi soal kebijaksanaan,
wisdom, dalam menyampaikan pemberitaan. Sebanyak apa pun informasi yang bisa diberikan, tetap harus ada dosis. Ada rambu-rambu: apa manfaat dari berita itu? Menimbulkan kepanikan tidak?" (halaman 142)

Melawan hoaks

Tak aneh bila ia termasuk berdiri paling depan melawan hoaks. Sutopo memahami betul betapa gelisah dan berbahayanya bila masyarakat terpapar kabar palsu. Dengan segala daya, tanpa pandang jam kerja, bahkan kondisi kesehatan, ia mengabarkan informasi sebenarnya.

Humas, pada praktik yang diterapkan Sutopo, memang wajib menyampaikan
informasi kepada masyarakat. Namun, harus selektif juga. Pertimbangan ini penting, apalagi mengingat sang tokoh bekerja di lembaga penanganan bencana. Besar kemungkinan masyarakat justru panik dan timbul kekacauan lebih parah bila humas ceroboh mengumbar data dan fakta ke tengah masyarakat.

Yang tidak kalah menarik, keterampilannya sebagai pejabat humas, bukan
didapat dari bangku kuliah. Sejak S-1 di UGM hingga meraih doktor di IPB, studinya tak jauh dari geografi dan hidrologi. Itu sebabnya kariernya bermula di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Lantaran penguasaannya yang mendalam terhadap mitigasi bencana dan hidrometeorologi sebagai bencana paling sering menghantam Tanah Air (banjir, longsor, puting beliung), ia ditarik ke BNPB sebagai Direktur Pengurangan Bencana. Empat bulan kemudian, Sutopo dipercaya sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Kapusdatinmas) dan bertugas hingga akhir hayatnya.

Jurus dan strategi berkomunikasi ia serap dari lapangan. Saat ia menjalankan tugas sehari-hari, terutama di bawah pimpinan Syamsul
Maarif, jenderal yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan TNI.

Semua skill kehumasannya makin excellent berkat passion dan karakter
Sutopo yang sangat kuat sebagai pekerja di ranah pelayanan publik. Sutopo begitu cepat menyusun informasi dan lincah bermanuver dengan jaringan media sosial yang ia kelola sendiri, walau kondisi fisik tengah menahan serangan penyakit mematikan. Ini sebagian pelajaran berharga yang bisa kita petik untuk kehidupan.

"Spirit saya dari Bapak (Suharsono Harsosaputro--ayahnya). Bapak selalu berprinsip bagaimana caranya membantu orang lain. Punya apa-apa diberikan ke orang lain. Saya kasih uang, pasti uangnya dikasih ke orang lain. Saya cuma punya ilmu, pengetahuan saya, pengalaman saya, tentang kebencanaan. Itu yang saya bagikan untuk khalayak." (halaman 184)

Kombinasi itu semua membuat ia menunjukkan dedikasi tinggi dan sungguh
layak menyandang outstanding spokesman. Sutopo, memang humas yang

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More