Sabtu 21 September 2019, 10:38 WIB

Plan Indonesia Terus Wujudkan Kesetaraan Hak Anak Perempuan

mediaindonesia.com | Humaniora
Plan Indonesia Terus Wujudkan Kesetaraan Hak Anak Perempuan

Istimewa
Yayasan Plan International Indonesia memberikan ‘Kanaga Award’.

 

PLAN International Indonesia (Plan Indonesia) telah berkarya selama 50 tahun memperjuangkan hak-hak anak. Bermula di Yogyakarta pada 1969, kini Plan Indonesia bekerja di tujuh provinsi. Saat ini sedikitnya ada 36 ribu anak dampingan Plan Indonesia, khususnya di terutama anak perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sebagai organisasi hak anak, kami akan terus berjuang untuk mendukung kesetaraan hak anak perempuan. Karena kami ingin anak-anak perempuan dapat menikmati kesempatan yang setara untuk pendidikan, pekerjaan, dan hal lainnya sehingga mereka dapat lebih berdaya,” ungkap Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan International Indonesia di Jakarta, Jumat (20/9).  

Pada 2017, Plan International Indonesia bertransformasi menjadi Yayasan Plan International Indonesia. Perubahan ini bertujuan untuk menjangkau lebih banyak anak dan anak perempuan di Indonesia. Selain itu, perubahan ini juga bertujuan untuk kemitraan jangka panjang dan penggalangan sumber daya yang lebih luas untuk dampak pembangunan yang berkelanjutan.

Sebagai puncak acara perayaan 50 tahun, Plan International Indonesia menggelar malam apresiasi pada Jumat (20/9) yang mengangkat tema ‘Journey for Equality’.

Yayasan Plan International Indonesia memberikan ‘Kanaga Award’, yaitu apresiasi kepada individu maupun institusi yang telah mendukung kerja Plan International Indonesia dalam usaha untuk mewujudkan kesetaraan hak anak, terutama anak perempuan.

Penghargaan tersebut  diberikan kepada Keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono X, Bupati Rembang Abdul Hafidz, Direktorat Jendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementrian Dalam Negeri Zudan Arif Fakrullah, Atlet Bulu Tangkis Jonatan Christie, PT BTPN, dan pejuang hak anak di Sumba Timur, Selia Narwasti Nangi.

Pada malam apresiasi itu, Plan Indonesia turut menggandeng sejumlah anak dampingannya maupun organisasi anak yang menjadi mitra kerja untuk terlibat dalam acara di antaranya, Galatia Patrisius (anak dampingan Plan Indonesia di NTT), dan anak-anak dari Glowing Star, organiasi anak disabilitas.

Selain itu, seniman cilik Jaimee Maulana yang berusia 12 tahun turut ambil bagian dalam perhelatan ini. Bersama anak-anak dan kaum muda berbakat dampingan Yayasan Plan International Indonesia, Jaimee membuat karya kolaborasi.

Desain kolaborasi tersebut mengangkat tema kesetaraan anak-anak perempuan dan diimplementasikan dalam bentuk totebag dan scarf untuk tujuan penggalangan dana publik.

“Aku senang bisa sama-sama membuat gambar dan hasilnya digunakan untuk membantu anak-anak juga,” ungkap Jaimee.

Untuk menjalankan visi yang mengedepankan hak dan kesetaraan bagi anak perempuan, Yayasan Plan International Indonesia menggerakkan Girls Fund, sebuah inisiatif pendanaan publik untuk kepentingan anak perempuan yang terpinggirkan.

Girls Fund memiliki tiga fokus area dalam pendanaan, yaitu: beasiswa (Girls School), dukungan pendanaan untuk kelompok organisasi kaum muda untuk pemberdayaan perempuan (Girls Initiatives), dan dukungan pembangunan infrastruktur untuk anak-anak terpinggirkan, khususnya perempuan (Safe Space for Girls).  

“Kerja-kerja kami belum selesai dan masih banyak pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Diantaranya permasalahan perkawinan usia anak, dan juga tinginya persentase penganggur usia muda,” ungkap Dini. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More