Sabtu 21 September 2019, 10:25 WIB

Perusahaan Pengguna APL di Tapanuli Diminta Lindungi Orangutan

Ardi Teristri Hardi | Nusantara
Perusahaan Pengguna APL di Tapanuli Diminta Lindungi Orangutan

Antara/Septiana Perdana
Seorang aktivis mengenakan pakaian orangutan saat kampanye orangutan Sumatera dan Tapanuli di Medan, Sumatera Utara, Senin (13/5)

 

WILAYAH Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, yang sebagian kecil wilayahnya telah ditetapkan sebagai kawasan area penggunaan lain (APL)
untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan tersebut juga menjadi habitat bagi orangutan di Tapanuli.

Saat ditemui pada Kongres Primata 2019 di Yogyakarta, Jumat (20/9), aktivis dan pemerhati lingkunga Emmy Hafild menyampaikan pesan agar perusahaan yang menggunakan APL di kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumut, turut menjaga kelestarian lingkungan dan melindungi orangutan.

Menurut Emmy, yang paling mengkhawatirkan adalah operasional pertambangan di daerah tersebut. Pasalnya, perusahaan tambang sering melakukan peledakan dalam kegiatan mereka sehingga bisa mengganggu orangutan.

Emmy pun mengatakan, kawasan hutan di Batang Toru, di luar APL yang sudah ditetapkan sejak 2004, yang saat ini berstatus hutan lindung bisa dinaikkan menjadi suaka alam.

Sementara itu, kawasan APL ataupun bekas perkebunan yanh tidak dimanfaatkan bisa dikonservasi agar ikut menjaga kelestarian orangutan.

"Kalau lahan (yang tadinya area perkebunan) di situ direhabilitasi dengan tanaman-tamanan yang menjadi sumber makanan Orangutan, tempat itu bisa
sanctuary bagi orangutan," kata Emmy.

Dengan cara itu, konflik dengan  manusia karena orangutan mendatangi ladang untuk mencari makan bisa diminimalkan. Di sisi lain, pemerintah daerah bisa memperolah pemasukan dengan menjadikannya ekowisata minat khusus.

Orangutan terbilang binatang yang suka makan. Pada musim durian, misalnya, mereka bisa menghabiskan 30 buah durian.

Menurut Emmy, perusahaan yang berada di kawasan APL harus membuat mitigasi dampak lingkungan menjaga kelestarian alam, termasuk  orangutan.

"Yang bisa membuat Orangutan tetap lestari adalah ketersediaan makanan yang cukup dan meminimalkan konflik dengan manusia," kata dia.

Emmy mencontohkan perusahaan yang telah menerapkan mitigasi dampak lingkungan dan peduli terhadap pelestarian lingkungan adalah PLTA Batang
Toru. Mereka sudah melakukan analisis lingkungan dan sosial atas pembangunan, termasuk dengan menggandeng lembaga internasional, PanEco.

PLTA Batang Toru dikerjakan oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE). Senior Adviser on Environment PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) Agus Djoko Ismanto sependapat dengan Emmy pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di kawasan APL.

"Kami sudah melakukan berbagai studi, geologi, hidrologi, kegempaan, ekonomi, lingkungan, hingga sosial sejak 2008," kata Agus.

Agus mencontohkan, kajian yang sudah dilakukan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA).

Proyek tersebut ulai dikerjakan sejak 2017 dan ditargetkan dapat beroperasi 2022. PLTA ini nantinya akan berkapasitas 510 MW.

Agus menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kawasan hutan di Batang Toru sekitar 138 ribu hektar. PLTA
Batang Toru hanya menggunakan 122 hektare di kawasan APL.

Mengenai orangutan Tapanuli, saat ini PT NSHE sebagai pengelola PLTA BatangToru telah menjalin kerjasama dengan Yayasan PanEco yang berpusat di Swiss.Kerja sama itu  didukung penuh oleh pemerintah Indonesia untuk mengamankanmasa depan orangutan Tapanuli serta habitatnya di ekosistem Batangtoru.

Salah satu tujuan kerja sama itu adalah menerapkan strategi konservasi yang komprehensif di areal habitat orangutan tersebut, melalui suatu pendekatan multi-pihak. (OL-09)
 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More