Sabtu 21 September 2019, 02:30 WIB

Segera Tarik Vape dari Pasar

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Segera Tarik Vape dari Pasar

Ist
Vape

 

DESAKAN untuk melarang peredaran rokok elektrik (vape) di Indonesia terus menguat, menyusul banyaknya negara yang telah mene­rapkannya. Langkah awal bisa dilakukan dengan menarik semua jenis vape dari peredaran.

Penegasan itu diutarakan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau kepada Media Indonesia, saat dihubungi di Jakarta, kemarin. Komnas mendorong pelarangan semua kegiatan yang berkaitan dengan vape, mulai konsumsi, penjualan/pembelian, distribusi, hingga impor.

“Kami inginnya pelarangan total karena kalau ada pembatasan-pembatasan, sudah pasti nanti dicari celahnya (regulasi) sama industri yang akan dijadikan jalan keluar mereka jualan,” cetus Manajer Komunikasi Komnas Pengendalian Tembakau Nina Samidi.

Nina menilai, pemerintah lamban dalam menangani peredaran rokok elektrik yang kini banyak dikonsumsi anak dan remaja. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan­ Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan nyatanya tidak efektif dalam mengatur vape. Dibutuhkan peraturan presiden sebagai solusinya­. “Ini jalan keluarnya supaya tidak tumpang-tindih aturan,” sergahnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Penny K Lukito menyatakan, rokok elektrik ialah barang berbahaya. Badan POM pun menganggap rokok elektrik barang ilegal karena tidak memiliki izin edar. Ia pun bingung ketika vape resmi dikenai cukai sejak 1 Oktober 2018.

Senada, Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menuturkan, pihaknya menolak vape karena bahayanya sama dengan rokok konvensional.

Untuk itu, imbuhnya, Kemenkes akan meminta agar Kementerian Keuangan mengenakan biaya cukai yang tinggi pada vape. “Cukai yang dikenakan dengan tinggi atau bahkan sangat tinggi apabila memungkinan,” sahut Anung.

Dalam menyikapi kekosongan aturan, Kemenkes akan merevisi PP 109/2012 dengan memasukkan vape ke dalamnya, sebagai salah satu turunan produk tembakau.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan tidak ada rokok atau pengganti rokok yang tidak berbahaya dan lebih aman dikonsumsi. Penyakit asma dan gangguan paru-paru ialah ancaman serius bagi para pengisap vape. Uap dari rokok elektrik juga sama berbahayanya apabila terpapar pada orang di sekitar.

Adam Hergenreder, 18, me­ngonsumsi­ vape selama dua tahun terakhir. Ia termasuk salah satu dari 27 pasien pengonsumsi vape di Illinois, Amerika Serikat, yang dirawat karena gangguan pernapasan. Dilansir dari Chicago Tribune, Hergenreder mengalami kejang-kejang dan tak bisa bernapas tanpa bantuan tabung oksigen. Dari hasil rontgen, pemuda 18 tahun ini memiliki gambaran paru-paru seperti orang berusia 70 tahun. (Ind/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More