Sabtu 21 September 2019, 01:30 WIB

Anak dan Asap

Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih dan Lektor di FK UKDW Yogyakarta | Opini
Anak dan Asap

ANTARA
Kabut Asap

SAAT ini kita dalam kondisi darurat kabut asap karena terjadinya kebakaran hutan yang menghasilkan asap berbahaya, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Pada fase akut, pajanan utama yang berbahaya dari asap ialah respons organ dan emosional, terutama pada anak. Asap terdiri atas partikel organik yang sangat kecil, droplet cairan, gas seperti CO atau CO2, dan bahan organik volatil lain, seperti formaldehida dan akrolein. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan tindakan untuk mengurangi pajanan asap terhadap saluran napas anak, yang dapat dilakukan dengan cara tetap berada di dalam ruangan dengan jendela dan pintu tertutup. Tutup setiap akses ke luar ruangan, apabila memungkinkan air conditioner (AC) dihidupkan dalam mode re-circulate dengan mengganti filter secara teratur. Pada periode berkurangnya kepekatan asap, buka ventilasi dan bersihkan rumah dari partikel debu yang sudah sempat menumpuk di dalam rumah.

Hindari aktivitas dalam rumah yang dapat menambah kontaminasi, seperti memasak dengan gas, kompor propane, merokok, menyedot debu, dan membakar kayu/furnace. Tambahkan ruangan atau sistem penyaringan udara terpusat untuk menyingkirkan partikel di udara (hindari pembersih udara yang dapat menghasilkan zat berbahaya ke dalam ruangan). Gunakan pelembab udara (humidifier) atau bernapas lewat kain basah untuk menjaga kelembapan membran mukosa jalan napas anak.

Selain itu, meminimalkan aktivitas anak di luar ruang untuk mengurangi hirupan kontaminan udara. Apabila keluar menggunakan mobil, tutup jendela dan ventilasi mobil, pasang AC mobil pada mode recirculate. Populasi berisiko tinggi, harus segera mencari tempat dengan udara yang bersih, misalnya, di rumah, rumah kerabat, atau tempat umum yang berudara lebih bersih yang disediakan. Penutupan sekolah dan tempat aktivitas perlu dipertimbangkan jika kualitas udara sangat buruk. Namun, pada kondisi tertentu, sekolah justru dapat menjadi tempat atau ruang­an yang aman untuk anak, serta tempat untuk pemantauan aktivitas anak.

Anak diimbau jangan bermain di dekat asap, gunakan sarung tangan, baju lengan panjang, celana panjang, cuci buah dan sayur segar sebelum dimakan, jangan membuang abu di saluran pembuangan air, karena akan menyebabkan sumbatan, sebaiknya abu dibuang di tempat sampah. Selain itu, perlu diingatkan bahwa masker cat, debu, atau bedah tidak efektif mencegah terhirupnya atau inhalasi partikel halus di udara bebas.

Masker yang menyaring hingga 95% partikel berukuran 0,3 um (N95) hanya efektif bila dipakai dengan tepat pada wajah. Tersedia pula N99 dan N100 dalam bentuk full face atau half face dengan filter HEPA, tidak nyaman saat dipakai. Masker berukuran lebih kecil dari standar sesuai bila dipakai untuk anak, produsen masker tidak menyarankan masker tersebut untuk anak. Bila anak terpapar pajanan asap yang parah hingga memerlukan masker, sedapat mungkin bawa anak ke tempat dengan udara yang lebih bersih. Ganti masker bila sudah kotor, ditandai dengan perubahan warna masker atau bernapas melalui masker terasa menjadi bertambah sulit.

Obat-obat esensial yang dapat diberikan, meliputi pemberian obat antiinflamasi steroid dan pemberian bronkodilator (salbutamol). Pemberian obat-obat tersebut hanya atas indikasi medis oleh dokter dan tidak digunakan untuk jangka panjang. Pemberian suplementasi oksigen yang menggunakan kanula nasal, masker, ataupun oksigen dalam kemasan, baik di dalam maupun di luar lingkungan rumah sakit, seharusnya sesuai dengan indikasi medis oleh dokter, misalnya, terdapat pneumonia atau serangan asma berat. Suplementasi oksigen temporer tidak memberikan manfaat yang optimal selama kualitas udara lingkungan masih buruk.


Evakuasi

Evakuasi harus mempertimbangkan kadar paparan asap saat dilakukan evakuasi jika dibandingkan dengan berdiam di dalam ruangan. Jika dilakukan evakuasi, harus diorganisasi dengan baik untuk menghindari makin panjangnya waktu evakuasi dan meningkatnya paparan asap. Saat pelaksanaan evakuasi, harus disiapkan obat-obatan yang biasa digunakan pasien dan keluarga paling tidak untuk 5 hari. Evakuasi dilakukan ke penampungan berudara bersih (cleaner air shelter), baik berupa tempat umum seperti sekolah, aula, gedung olahraga, hotel, musala atau masjid, kantor, dan gedung serbaguna yang telah disiapkan untuk dijadikan penampungan berudara bersih.

Penampungan berudara bersih tersebut dilengkapi dengan sanitasi yang baik, penyediaan air bersih, sarana pembuangan, dan pengelolaan sampah. Teknologi pembuatan penampungan berudara bersih berdasarkan kemampuan lokal dengan menutup setiap ventilasi dengan plastik dan melengkapi ruangan dengan sistem penyaringan udara, seperti air conditioner, air purifier, atau air humidifier. Untuk anak dengan kebutuhan medis khusus, misalnya, suplementasi oksigen dan ventilator, evakuasi dilakukan ke lokasi aman yang memiliki kualitas udara baik. Untuk anak yang telah dievakuasi ke cleaner air shelter, tapi tidak menunjukkan perbaikan gejala atau bahkan memburuk dalam lima hari, seharusnya dievakuasi lanjutan ke lokasi yang lebih aman dengan kualitas udara baik.

Kondisi darurat asap dapat menimbulkan stres psikologis dan kecemasan pada anak yang bermanifestasi sebagai gelisah, mengeluh sakit, mimpi buruk, regresi, perilaku sulit atau tidak kooperatif, ketakutan, dan regresi. Dengan demikian, orangtua atau pengasuh sedapat mungkin harus mempertahankan rutinitas keluarga yang biasa dilakukan. Orangtua dapat lebih memberikan perhatian khusus, misalnya, membantu ekspresi anak melalui musik, seni, membuat buku harian, memberi pelukan, serta lebih sabar dalam menghadapi tingkah laku anak yang tidak biasa.

Semoga saja bencana kabut asap ini dapat segera berakhir dan semua anak akan dapat kembali ceria dengan bermain di luar ruang. Sudahkah kita ikut membantu?

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More