Jumat 20 September 2019, 22:30 WIB

Ruang Relaksasi masih Longgar

M Ilham RA | Ekonomi
Ruang Relaksasi masih Longgar

ANTARA
Menko Perekonomian Darmin Nasution

 

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai masih terdapat ruang pelonggaran kebijakan moneter yang dimiliki bank sentral untuk mendukung penguatan pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan relaksasi itu masih dapat dilakukan selama tingkat suku bunga acu­an berada dalam kisaran di atas nol persen.

“Positif itu masih punya ruang, kebijakan moneter itu kehilangan kemampuan kalau tingkat bunga nol atau kurang,” kata Darmin di Jakarta, kemarin.

Ia juga menambahkan penurunan suku bunga acuan 7-day reverse repo rate (BI7DRR) merupakan langkah tepat dalam menanggapi kondisi perekonomian global terkini.

“Kebijakan moneter masih berfungsi untuk memengaruhi. Ini memang mengantisipasi negara lain. Mereka juga turun policy rate. Kalau kita tidak turun, nanti terlalu tinggi,” ujar Darmin.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) untuk ketiga kalinya secara beruntun memangkas suku bunga acuan.

Pada Kamis (19/9), BI kembali menurunkan BI 7-day reverse reporate sebesar 0,25% menjadi 5,25% yang dilengkapi dengan rangkaian pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mencegah dampak dari semakin melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Pemangkasan beruntun suku bunga acuan sejak Juli hingga September 2019 itu merupakan kebijakan antisipatif guna mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, di tengah situasi terus melambatnya ekonomi global akibat perang dagang AS - Tiongkok.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung, dalam kon­­ferensi pers kemarin, menyampaikan pe­longgaran kebijakan makroprudensial BI merupakan bagian dari bauran kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Artinya, kalau kredit itu lagi turun, kita do­rong supaya pertumbuhan ekonomi tidak semakin lemah. Kalau kredit lagi kuat-kuatnya, lagi tinggi-tingginya pertumbuhan, kita agak rem supaya ekonominya tidak terlalu menimbulkan instabilitas,” katanya.

Diakuinya, saat ini tren yang terjadi pada kredit perbankan tengah mengalami pelemahan. Oleh karena itu, pelonggaran kebijakan makroprudensial itu dilakukan.


Dongkrak konsumsi

Di kesempatan berbeda, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai penurunan suku bunga acuan Bank Indone­sia (BI) akan mendongkrak kinerja sektor konsumsi dan kredit modal kerja karena ba­nyaknya permintaan menjelang momen akhir tahun.

“Momentum Natal dan libur akhir tahun biasanya permintaan naik dan ini akan menstimulus kinerja ekonomi. Pada saat seperti itu, upayanya dilakukan mulai sekarang,” katanya.

Wakil Direktur Indef itu menambahkan, penurunan suku bunga acuan akan lebih banyak mendorong sektor-sektor yang perputaran ekonominya berlangsung cepat seperti konsumsi dan modal kerja untuk perdagangan.

Kinerja sektor yang meningkat, lanjut dia, akan turut menggairahkan pertumbuhan sektor riil yang biasanya akan terlihat sekitar tiga bulan setelah kebijakan moneter itu dike­luarkan.

“Keputusan BI menurunkan suku bunga acuan BI7DRR sangat tepat saat ruang penurunan suku bunga masih terbuka,” ujarnya (Ant/E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More