Sabtu 21 September 2019, 11:55 WIB

Rambo di Persimpangan Humanisme

Fathurrozak | Weekend
Rambo di Persimpangan Humanisme

IMDB
Salah satuaadegan dalam film Rambo: Last Blood (2019).

Setelah seluruh seri Rambo tidak menampilkan sisi personal secara eksplisit, kembalinya sosok Rambo dalam Last Blood seolah ingin menampilkan sosoknya sebagai jagoan dengan sensibilitas humanisme. Meski pada akhirnya kembali menunjukkan sisi barbarnya.

Rambo 5 atau Last Blood merupakan garapan sutradara Adrian Grunberg, yang melakukan debutnya dalam film Get The Gringo, dibintangi Mel Gibson. Pada debutnya itu, Grunberg mengambil latar Meksiko untuk menuangkan kisah Mel. Termasuk memberi porsi adegan kaburnya Mel yang melewati perbatasan Amerika-Meksiko.

Seolah menandaskan intensitasnya, untuk menggarap seri kelima dari karakter Rambo pun Grunberg kembali menggunakan Meksiko sebagai latar permasalahan dalam plot si veteran perang.

Kisah bermula ketika keponakannya, Gabriella (Yvette Monreal) ngebet untuk bertemu dengan ayahnya yang sudah meninggalkan dia dan ibunya. Gabrie tinggal bersama Rambo (Sylvester Stallone, of course) dan neneknya Maria (Adriana Barraza). Gabrie pun ingin ke Meksiko, ketika seorang teman kecilnya yang tinggal di Meksiko berhasil melacak keberadaan ayahnya.

Premis mulai dibangun ketika Gabrie nekad pergi meski Rambo
dan neneknya melarang. Secara premis, tidak ada yang baru dari Last Blood. Ini merupakan film tipikal tokoh utama yang sudah pensiun dari kekelaman masa lalu, lalu terpantik lagi naluri keberingasannya akibat ada kelompok yang 'menyenggol' ranah personal. Ini seperti halnya yang dilakukan Liam Neeson dalam Taken 2, atau Keanu Reeves yang harus kembali menjadi Boogey Man karena kematian anjingnya dalam seri waralaba
karakter John Wick.

Yang memberikan perbedaan dari Last Blood ialah tentu pada permasalahan yang dihadapi. Grunberg memberikan konflik kekinian dalam plot. Gabrie terjebak pada kartel perdagangan manusia untuk dijadikan pekerja seks di Meksiko.

Dalam suatu laporan The Guardian pada Juni silam, diberitakan regulasi dekriminalisasi pekerja seks oleh pemerintah Meksiko menjadi salah satu upaya menanggulangi perdagangan manusia. Dalam publikasi The Guardian yang mencatut laporan Departemen Luar negeri Amerika Serikat, dikutip para pengamat yang mengaitkan antara hilangnya dan pembunuhan perempuan
dan perdagangan manusia dengan kelompok-kelompok kriminal terorganisir.

Permasalahan itu divisualkan oleh Grunberg di depan layar dengan porsi tebal. Sayangnya, intrik yang disajikan teramat ringan. Intrik yang sebenarnya memiliki potensi untuk digarap secara lebih koheren, justru hanya terlihat sebagai hidangan pembuka, sebelum akhirnya Rambo kembali menjadi brutal.

Kekuatan Intensitas Kekerasan
Ada beberapa yang sebenarnya patut disorot secara lebih mendalam. Misalnya, bagaimana serangkaian upaya Carmen Delgado (Paz Vega), jurnalis independen yang tengah menginvestigasi kelompok kriminal Martinez bersaudara dalam perdagangan manusia dan pekerja seks.

Sayangnya Carmen hanya ditampilkan dalam salah satu pengintaiannya di bar yang kemudian menolong Rambo, dan penceritaannya yang sambil lalu mengenai adiknya yang juga jadi korban Martinez bersaudara.

Dengan membatasi ruang yang memang berfokus pada masa pensiun Rambo, beberapa intrik yang mengacu pada relevansi isu kontemporer hanya sekadar subplot. Padahal, tentu akan punya nilai lebih ketika Rambo secara mendalam kemudian terlibat pada konteks isu.

Salah satu yang memuaskan tentunya sensasi gory di film ini. Sifat barbarian dalam diri Rambo yang terpantik dan lantas membantai para kelompok kriminal, jadi hidangan utama yang impresif secara visual.

Mulai dari pemenggalan kepala, tebaran ranjau dan pembantaian yang intens, membuat kita tercekat di beberapa titik. Terlebih sensor tampaknya cukup minim. Intensitas kekerasan dalam Last Blood menjadi salah satu daya film yang berjalan secara linear ini. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More