Kamis 19 September 2019, 14:52 WIB

Serangan Mematikan Taliban Menghancurkan Rumah Sakit

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Serangan Mematikan Taliban Menghancurkan Rumah Sakit

AFP
Serangan bom di sebuah rumah sakit di Kota Qalat, Afghanistan, Kamis (19/9).

 

SEDIKITNYA 10 orang tewas setelah sebuah truk berisi bahan peledak diledakkan oleh milisi Taliban di luar sebuah rumah sakit di Afghanistan selatan.

Bayak korban dalam serangan di Kota Qalat, Afghanistan itu adalah dokter dan pasien, menurut laporan media setempat, BBC melaporkan, Kamis (19/9).

Taliban mengatakan mereka menargetkan kantor intelijen pemerintah, di sebelah rumah sakit.

Jumlah korban tewas terbaru dari serangan Kamis (19/9) pagi di Provinsi Zabul masih belum jelas. Kepala Dewan Provinsi Zabul mengatakan dia meyakini sebanyak 20 dipastikan tewas, dengan hampir 100 orang terluka.

Orang-orang di tempat kejadian menggambarkan mereka melihat perempuan dan anak-anak ditarik dari reruntuhan.

"Itu mengerikan," kata mahasiswa universitas Atif Baloch, menurut kantor berita AFP.

Seorang pejabat senior kementerian pertahanan di ibu kota mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa bom 'besar' dibawa dengan 'truk mini'.

Penelitian BBC mengungkapkan awal pekan ini bahwa setidaknya 473 warga sipil telah tewas di Afghanistan selama Agustus.

Namun, Taliban telah menolak untuk bertanggung jawab atas korban sipil

Dalam sebuah wawancara dengan kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet, awal pekan ini, kepala perunding Taliban Sher Mohammad Abbas Stanikzai menyalahkan pejuang asing atas jatuhnya korban sipil.

Kelompok itu telah melakukan serangan hampir setiap hari di tengah perundingan damai yang memanas dan menjelang pemilu nasional.

Sebelumnya pada Selasa, kelompok itu menargetkan kegiatan kampanye pemilihan umum tempat Presiden Ashraf Ghani dijadwalkan akan berbicara, mengakibatkan 26 orang tewas.

Awal bulan ini Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengutip serangan Taliban di Kabul yang menewaskan seorang tentara AS dan 11 lainnya pada 6 September sebagai alasannya untuk menarik diri dari perundingan damai yang bertujuan mengakhiri konflik 18 tahun. (AFP/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More