Rabu 18 September 2019, 16:32 WIB

Cegah Pemadaman Listrik, MRT Audit Perangkat di Stasiun

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Cegah Pemadaman Listrik, MRT Audit Perangkat di Stasiun

MI/SUMARYANTO BRONTO
ilustrasi -- suasana Stasiun MRT Jakarta saat listrik padam.

 

PT MRT Jakarta akan melakukan audit terhadap komponen-komponen yang rentan terhadap gangguan listrik termasuk sistem Automatic Fare Collection (AFC). 

Audit ini dilakukan guna mempercepat pengalihan sumber daya listrik ke gardu listrik cadagan ketika terjadi gangguan terhadap pasokan listrik dari gardu induk.

PT MRT Jakarta juga berkomitmen mempercepat pemulihan terhadap gangguan pasokan listrik.

Hal ini sebagai tindak lanjut adanya padam listrik di 11 stasiun MRT Selasa (17/9) pada pukul 05.10 WIB. Sebelumnya, padam listrik itu terjadi akibat adanya gangguan di salah satu gardu induk yang memasok listrik ke MRT yakni gardu induk CSW.

"PT MRT Jakarta (Perseroda) berkomitmen untuk melakukan audit terhadap komponen-komponen yang rentan terhadap gangguan listrik termasuk sistem Automatic Fare Collection (AFC) dan mempercepat pemulihan terhadap gangguan pasokan listrik," kata Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/9).

Akibat padam listrik tersebut ada 11 stasiun yang ditutup dari total 13 stasiun MRT di antaranya Stasiun Lebak Bulus, Istora, Senayan, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI. 

Meski demikian kereta ratangga tetap beroperasi karena masih ada pasokan listrik dari gardu induk Pondok Indah yang menyuplai listrik dan tidak berpengaruh pada gangguan di gardu induk CSW.

Baca juga: Pagi Tadi, Listrik di Stasiun MRT Sempat Padam

MRT Jakarta membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit guna mengalihkan pasokam listrik dari gardu induk CSW ke gardu listrik cadangan. Pada pukul 05.51 WIB barulah seluruh stasiun yang sempat ditutup dibuka kembali dan melayani masyarakat.

"Berdasarkan hasil investigasi awal, ditemukan bahwa terjadi kerdipan untuk sumber listrik yang berasal dari line 2 (CSW). Berdasarkan keterangan dari PLN, kondisi kerdipan untuk listrik 150 kv belum diatur dalam regulasi dan bersifat uncontrollable," ungkapnya.

Kerdipan tersebut tidak berdampak pada pasokan listrik untuk operasi Ratangga sehingga tetap berjalan normal tanpa gangguan. 

Untuk meningkatkan respon MRT Jakarta atas potensi gangguan pasokan listrik, baik dalam bentuk kerdipan dan/atau hal-hal serupa yang belum diatur dalam regulasi PLN dan/atau bersifat uncontrollable maupun kondisi lainnya, dilakukan pemutakhiran Standard Operating Procedure (SOP). 

Hal ini khususnya untuk penanganan perpindahan jalur sumber listrik (antar line) dan perpindahan ke generator sebagai cadangan untuk menjamin pasokan listrik yang tidak terputus (seamless).

"Selain pemutakhiran SOP, juga dilakukan upaya peningkatan kemampuan SDM Operasi dan pemeliharaan dalam penanganan gangguan pasokan listrik sehingga diharapkan dapat mempercepat respon terhadap kejadian gangguan operasional, baik dalam bentuk serupa maupun bentuk gangguan lainnya," tandasnya. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More