Rabu 18 September 2019, 09:55 WIB

Peran Ratu Kalinyamat Terus Digelorakan

HT/AS/N-2 | Nusantara
Peran Ratu Kalinyamat Terus Digelorakan

MI/Haryanto Mega
YDBL Sosialisasikan Rumah Peradaban Kalinyamat pada Selasa (17/09/2019) di Jepara.

 

YAYASAN Dharma Bakti Lestari terus menggelorakan perjuangan Ratu Kalinyamat di kalangan generasi muda. Bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Arkeologi Nasional, kemarin, mereka menggelar sosialisasi Rumah Peradaban Kalinyamat, di Jepara, Jawa Tengah.

"Sosialiasi ini dilakukan untuk membantu pemerintah mewujudkan keinginan rakyat Jepara untuk menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional. Yayasan Dharma Bakti Lestari mendirikan Pusat Kajian Ratu Kalinyamat bekerja sama dengan Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara untuk menggelorakan keinginan itu," tutur Pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari, Lestari Moerdijat, kemarin.

Kerja sama itu dilakukan untuk melakukan penelitian secara ilmiah dan mendalam. Selain itu, mereka juga menggelar forum diskusi untuk memperkuat bukti-bukti ketokohan Ratu Kalinyamat. Pemimpin di Jepara pada masa lampau itu merupakan tokoh nyata dan perjuangannya sebagai perempuan telah melampaui zamannya.

Pada kesempatan itu, pejabat Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara mengaku pihaknya terus berupaya mengenalkan peninggalan masa lalu, khususnya peradaban di zaman Ratu Kalinyamat. "Jepara mempunyai 40 situs peninggalan. Tetapi, itu tidak banyak diketahui masyarakat terutama generasi muda saat ini."

Saat ini, Jepara telah memiliki ikon nasional berupa tiga pendekar, yakni Shima, Ratu Kalinyamat dan RA Kartini. "Ratu Kalinyamat tengah diusulkan sebagai pahlawan nasional. Beliau ialah pemimpin yang membawa Jepara berjaya sebagai kerajaan maritim."

Budayawan Jepara, Bambang Budi Utomo mengakui pengajuan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional sudah dua kali gagal. "Ini ketiga kalinya."

Masih di Jepara, panggung pementasan Opera Lirik untuk Ayunda digelar di pendopo belakang rumah dinas bupati, Senin (16/9) malam. Kisah Kartini kembali disuarakan.

Opera yang ditulis dan disutradarai Iskak Wijaya itu membuka tabir perlawanan RA Kartini sejak masih muda yang selama ini hanya dikenal lewat surat yang dibukukan. Padahal, jauh sebelumnya, Kartini telah memulai perlawanan terhadap pasung yang dialami perempuan Jawa. (HT/AS/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More