Rabu 18 September 2019, 11:05 WIB

Manusia, Jangan Terlena Kemudahan AI

Fetry Wuryasti | Weekend
Manusia, Jangan Terlena Kemudahan AI

AFP/Fred Duvour
Seorang pemilik Iphone di Tiongkok tengah menyetel fitur pengenalan wajah di ponselnya tersebut.

Tanpa disadari, mau tidak mau, manusia dalam keseharian hidupnya telah berinteraksi dengan artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Namun, tidak semua siap untuk masuk beriringan terus menerus. Perlu pula menggali potensi diri agar tidak tergantikan oleh kemampuan para robot cerdas ini.

Diterangkan oleh CEO GDP Labs Artificial Intelligence Research (GLAIR) Michell Setyawati Handaka, dalam sehari setidaknya seseorang berinteraksi lebih dari 10 kali dengan kecerdasan buatan, dalam berbagai bentuk.

Dimulai dari smart alarm yang mendeteksi durasi tidur, dan kapan harus bangun. Begitu bangun tidur, saat seseorang mengecek ponsel yang membuka kunci dengan deteksi wajah (face recognition). Di dalam ponsel, saat pengguna mengecek email, terdapat spam filter , dan email prioritas.

Sepanjang perjalanan ke kantor, AI kembali digunakan untuk memesan transportasi online, dan mencocokan antara driver dan penumpang. AI akan memprediksi berapa jauh dan lama kedatangan kendaraan yang dipesan, harga yang harus dibayar. Di jalan, pengemudi dan pengguna menggunakan google maps untuk menentukan jalan terbaik yang minim hambatan.

Bila google melakukan kesalahan, dan berakibat ditilang, kamera cctv di sekitar sudah merekam dan menganalisis, baik terkait jumlah pelanggaran atau jenis hal yang dilanggar.

Sesampainya di kantor, pekerja membuka komputer dan berselancar di dunia maya pada mesin peramba. Saat itu, ada pula AI mendeteksi berbagai iklan digital yang disesuaikan dengan kata kunci yang sering dicari pengguna.

Ketika bertemu klien, kamera ponsel bisa merekam kartu nama yang dikonversi menjadi data kontak. Ketika istirahat, pekerja menyetel musik menggunakan platform digital dengan daftar musik yang muncul sesuai mood.

AI juga bisa menganalisis atau scoring klien untuk menentukan model pendekatan seperti apa yang bisa dilakukan manusia,melalui chat bot. Ketika dalam perjalanan dan lupa harus menyetel agenda, pengguna ponsel akan meminta chatbot pada ponsel pintar untuk mengingatkan membuatkan agenda tertentu.

Terakhir, ketika sampai rumah dan bosan, seseorang menyetel film di Netflix yang akan memberikan rekomendasi.

"Dalam hari-hari manusia sebenarnya berinteraksi dengan minimal 10-20 AI. Tetapi mungkin kita tidak sadar. Sebab itu merupakan teknologi yang telah bercampur dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa sampai tidak merasakan keberadaannya," ujar Michell dalam Youth Dialogue 2019, di Jakarta, Selasa (17/9).

Tanpa disadari AI menjadi sesuatu yang hype di masa kini. Dalam lima tahun ke depan, dia yakini perusahaan-perusahaan yang tadinya memanfaatkan AI hanya untuk tuntutan pekerjaan akan berkurang.

Di sisi lain. juga akan banyak perusahaan yang bisa menciptakan aplikasi-aplikasi untuk dipakai sehari-hari tanpa manusia berpikir lagi itu AI atau bukan. Sehingga penggunaannya sudah menjadi kebutuhan tanpa sadar dan manusia hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan ini.

"Itu dari sisi bisnis. Kalau dari sisi teknologi, algoritma akan menjadi komoditas. Kami sebagai start up yang mengembangkan AI, tidak bisa lagi berkompetisi di sisi algoritma. Yang harus kami jadikan sell point adalah data eksternal atau aplikasi data, yang tentu harus kami perhatikan dari sisi privasi."

CEO dan Founder Qlue Rama Aditya melihat dalam lima tahun ke depan penggunaan AI akan terus berkembang. Dia meyakini fungsi manusia tidak akan tergantikan, namun akan lebih mengarah peningkatan aktivitas hidup.

"Manusia akan lebih memikirkan hal-hal yang strategis," ujar Rama. Alasannya karena beberapa pelaksanaan hal lain sudah dilakukan oleh perangkat dengan kecerdasan buatan tersebut.

Perlindungan

Data, kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, adalah 'minyak' baru. Di dunia, negara-negara G20 sepakat dengan dengan data free flow with trust. Antar lintas data tidak lagi bisa dihindari.

Pemerintah pun kini tengah menyiapkan RUU Perlindungan Data Pribadi. "Saya sudah dua kali tanda tangan, sekarang sudah dikoordinir oleh Mensesneg untuk kemudian dibawa ke DPR dan dibahas. Karena bagaimanapun harus ada perlindungan data pribadi," terang Rudiantara.

Menariknya antar lintas data tersebut kini menciptakan bisnis baru. Dia mencontohkan, seperti bisnis penerbangan memiliki maintenance facilities yang berdasarkan jam terbang. Namun sekarang pesawat saat landing ataupun lepas landas telah menggunakan Automated Optical Inspection (AOI). Bila mesin berasal dari Roll Royce atau GE, data akan dikirim ke manufaktur tersebut.

"Sehingga saat pesawat masuk ke maintenance itu bukan hanya dibuka mesin tapi seluruhnya," ujar Rudiantara.

Tantangannya bagi pemuda Indonesia bagaimana berpikir membuat bisnis proses baru, membuat aplikasi yang bisa dibawa ke global. Rudiantara menyadari perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Namun, manusia akan tetap memiliki peran lebih dan kegiatan-kegiatan struktur yang berulang akan diserahkan kepada AI, sebab robot-robot cerdas ini pasti akan disetting untuk melaksanakan hal yang berulang.

"Manusia menjadi operatornya. Pekerjaan untuk manusia tetap ada. Caranya saja yang akan baru," pungkas Rudiantara. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More