Selasa 17 September 2019, 18:04 WIB

Siswa Diajak Mengenal Tiga Pendekar Perempuan dari Jepara

Haryanto | Nusantara
Siswa Diajak Mengenal Tiga Pendekar Perempuan dari Jepara

MI/Haryanto
Peserta sosialisasi Rumah Peradaban Kalinyamat diajak ziarah kubur ke Makam Ratu Kalinyamat, Selasa (17/9/2019)

 

UNTUK  terus menggelorakan perjuangan Ratu Kalinyamat di kalangan generasi muda, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar sosialisasi Rumah Peradaban Kalinyamat pada Selasa (17/9) di Jepara.

Agus Nur Slamet, selaku perwakilan Dinas Pariwisata dan Kabupaten Jepara mengatakan pihaknya terus berupaya mengenalkan peninggalan khususnya peradaban di zaman Ratu Kalinyamat kepada masyarakat.

"Jepara mempunyai 40 situs peninggalan. Tetapi itu tidak banyak diketahui oleh masyarakat terutama generasi muda saat ini," tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Agus, Jepara telah memiliki ikon nasional, yakni tiga pendekar perempuan, yakni Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA Kartini. "Ratu Kalinyamat tengah diusulkan sebagai pahlawan nasional. Beliau adalah pemimpin yang membawa Jepara menjadi kerajaan maritim," tambah Agus.

Pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari, Lestari Moerdijat, menjelaskan sosialisasi ini dimaksudkan untuk  berupaya membantu pemerintah setempat dalam mewujudkan keinginan rakyat Jepara untuk menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional.

Baca juga: Pusat Kajian Kalinyamat Didirikan di Unisnu

Melalui Yayasan Dharma Bakti Lestari, pusat kajian Ratu Kalinyamat didirikan bekerja sama dengan Unisnu. Penelitian secara ilmiah dan mendalam juga dilakukan, selain itu forum diskusi digelar untuk memperkuat bukti-bukti ketokohan Ratu Kalinyamat. Bahwa Ratu Kalinyamat adalah tokoh nyata dan perjuangannya sebagai perempuan telah melampaui zamannya.

Arkeolog dari Pusat Arkeogi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bambang Budi Utomo menjelaskan mengenai alasan Ratu Kalinyamat gagal diusulkan sebagai pahlawan nasional. "Ini adalah ketiga kalinya Ratu Kalinyamat diusulkan sebagai pahlawan nasional. Sebelumnya gagal, dikarenakan persoalan tapa wuda Ratu Kalinyamat yang dimaknai secara harafiah," ujar Bambang.

Tapa Wuda Ratu Kalinyamat di sini harus diartikan secara simbolis, yang mana berarti proses pensucian diri dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat keduniawian.

Selain itu menurut Kepala Pusat Arkeogi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bambang Soelistyanto, Ratu Kalinyamat adalah putri dari Sultan Trenggana penguasa ketiga Kerajaan Demak.

"Dari sini dapat diketahui, Ratu Kalinyamat tidak mungkin melanggar nilai-nilai moralitas tradisi Jawa. Ratu Kalinyamat sosok yang religius. Sebab beliau adalah murid dari Sunan Kalijaga," jelasnya.

Sejarah Ratu Kalinyamat telah tercatat di beberapa catatan baik dari dalam maupun luar negeri. Perjuangan Ratu Kalinyamat dalam melawan Portugis tidak bisa dianggap enteng, meskipun dua ekpedisinya mengalami kekalahan. Namun, semangat, dedikasi dan gagasan Ratu Kalinyamat itulah yang luar biasa.

Sebanyak 50 siswa dan siswi dari beberapa sekolah di Jepara hadir dalam kegiatan sosialisasi. Setelah menggelar sosialisasi mengenai pemaparan Ratu Kalinyamat, seluruh peserta diajak napak tilas sekaligus ziarah kubur ke Makam Ratu Kalinyamat di Kompleks Masjid Mantingan. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More