Selasa 17 September 2019, 10:55 WIB

Proyeksi Defisit Neraca Dagang Mengecil

Mir/E-1 | Ekonomi
Proyeksi Defisit Neraca Dagang Mengecil

MI/PANCA SYURKANI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution

 

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memproyeksikan defisit neraca dagang akhir tahun ini hanya mencapai US$2 miliar. Proyeksi itu lebih rendah daripada tahun lalu yang US$8,57 miliar.

"Tahun lalu defisit kita jauh di atas US$8 miliar. Tahun ini baru US$1,8 miliar sehingga mungkin sepanjang tahun sekitar US$2 miliar defisitnya," ujar Darmin saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin.

Angka defisit neraca dagang RI tahun ini bakal lebih baik lantaran didorong penurunan impor solar sebesar 45% dari penggunaan biodiesel jenis B20. Apalagi pemerintah tahun depan meningkatkan penggunaan biodiesel menjadi B30.

Darmin tak memungkiri bahwa nilai ekspor masih anjlok akibat hantaman perlambatan ekonomi global dan eskalasi perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Pemerintah, katanya, sudah mempersiapkan berbagai kebijakan untuk mendongkrak pasar ekspor Indonesia, termasuk menghapus perizinan yang menghambat investasi.

Dalam rilis BPS kemarin tercatat bahwa penurunan impor yang jauh lebih dalam ketimbang ekspor menghasilkan surplus bagi neraca dagang Indonesia sebesar US$8,51 juta pada Agustus 2019. Total nilai ekspor mencapai US$14,28 miliar dan total nilai impor Agustus 2019 sebesar US$14,20 miliar.

"Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus mengalami surplus disebabkan surplus sektor nonmigas sebesar US$840,2 juta walaupun sektor migas defisit US$755,1 juta," terang Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto.

Tingkat ekspor nonmigas pada Agustus 2019 mencapai US$13,40 miliar atau turun 3,20% jika dibandingkan dengan Juli 2019. Penurunan ekspor nonmigas terbesar terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$157,9 juta atau 8,23%. Adapun impor nonmigas mencapai US$12,56 miliar atau turun 8,76% ketimbang Juli 2019. (Mir/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More