Selasa 17 September 2019, 08:57 WIB

Opera Untuk Ayunda Menandai Haul RA Kartini ke-115

Haryanto | Nusantara
Opera Untuk Ayunda Menandai Haul RA Kartini ke-115

MI/Haryanto
Opera Untuk Ayunda yang dipersembahkan oleh Opera Lirik pada Haul RA Kartini ke-115 di Jepara, Senin (16/9).

 

SEMANGAT R.A. Kartini sebagai salah satu sumber inspirasi dalam memperkuat pembangunan karakter bangsa,telah membangkitkan semangat Yayasan Kartini Indonesia untuk mengadakan Haul R.A. Kartini ke-115. Haul itu ditandai dengan menggelar Opera Lirik bertajuk Untuk Ayunda di Pendopo Sosroningrat di Kawasan Pendopo Kabupaten Jepara, Senin (16/9) malam.

Opera Lirik mengisahkan tentang kehidupan R.A. Kartini semasa muda hingga tutup usia. Kartini merupakan keturunan ningrat, ayahnya Raden Ario Sosroningrat adalah Bupati Kabupaten Jepara. Ibunya Ngasirah adalah rakyat biasa. Kartini kecil sempat bersekolah sampai usianya 12 tahun. Setelah itu, Kartini harus hidup ditengah-tengah adat
Jawa yang membelenggu selama berabad-abad. Ia pun harus menjalani pingitan, padahal Kartini ingin sekali melanjutkan sekolah.

Namun, Kartini tak pernah menyerah. Sebagai gadis muda, jiwa dan semangatnya menggebu-gebu. Kartini terus belajar membaca maupun menulis. Ia bahkan menuliskan ide, gagasan, cita-cita bahkan perlawanan terhadap ketidakadilan perempuan hasil dari pengetahuan dari buku-buku yang ia baca. Tidak hanya itu, Kartini juga mendirikan Sekolah Gadis untuk mengajarkan membaca dan menulis bagi perempuan-perempuan di lingkungannya.

Setelah dewasa dan menikah, Kartini juga mendirikan Yayasan Kartini di berbagai tempat seperti di Semarang, Rembang, Bogor dan kota-kota lainnya. Ketua Yayasan Kartini Indonesia, Hadi Priyanto mengatakan, R.A. Kartini tidak hanya sosok pejuang atau emansipasi wanita. Kartini adalah penggagas.

Teman-temannya di STOVIA bahkan menjulukinya sebagai Ayunda atas pemikirannya yang kritis terhadap ketidakadilan yang membelenggu perempuan dan Bumi Putera.

"Kartini adalah pencetus spirit Jong Java pada tahun 1903. Kemudian spirit itu diteruskan oleh Bung Tomo pada tahun 1915," lanjut Hadi.

Lebih lanjut Plt Bupati Jepara Mulyaji menyebut, Jepara mempunyai tiga ikon nasional.

"Pertama Ratu Sima, Ratu Kalinyamat dan R.A. Kartini. Semuanya adalah perempuan. Perempuan-perempuan hebat dengan ide, gagasan dan semangat luar biasa bagi kemajuan kaumnya. Terutama kaum sesamanya, perempuan," ujarnya.

baca juga: BNPB Datangkan Dua Pesawat Tambahan Untuk Hujan Buatan

Sebelumnya, tim panitia juga telah menyelenggarakan pengajian untuk memperingati 115 tahun wafatnya R.A. Kartini. Haul ke-115 R.A. Kartini turut dihadiri oleh beberapa tokoh penting, di antaranya adalah cicit dari R.A. Kartini yang bernama Rukmini dan Hanif, Plt Bupati Jepara, Wakapolres dan Kodim 017, Plt Dinas Kepariwisataan dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, perwakilan Yayasan Dharma Bakti Lestari dan masyarakat setempat.(OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More