Selasa 17 September 2019, 06:14 WIB

Ini Penjelasan Sri Mulyani Soal Kenaikan Cukai Rokok 23%

Suci Sedya Utami | Ekonomi
Ini Penjelasan Sri Mulyani Soal Kenaikan Cukai Rokok 23%

ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Menteri Keuangan Sri Mulyani

 

PEMERINTAH memutuskan menaikkan tarif cukai pada hasil tembakau atau rokok pada 2020. Kenaikan sebesar 23% itu merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan alasan pemerintah menaikkan cukai rokok dengan tarif yang besar.

Menurutnya, selama dua tahun terakhir sejak 2018, pemerintah memutuskan mempertahankan atau tidak menaikkan tarif cukai rokok.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan banyak aspek yang dipertimbangkan pemerintah saat memutuskan menaikkan cukai rokok tahun depan.

Pertama, dengan melihat jumlah perokok usia muda dan perempuan yang mengalami peningkatan, yang terparah yakni dikonsumsi masyarakat miskin.

Baca juga: Tahun Depan Ada Kebijakan Baru Cukai Rokok

Pemerintah berpandangan kenaikan cukai ditujukan untuk membatasi konsumsi rokok terutama pada konsumen tersebut.

Sebab rokok diangap tidak baik bagi kesehatan. Apalagi jika masyarakat miskin lebih memilih membelanjakan uang untuk membeli rokok dibanding kebutuhan prioritas lainnya seperti pangan.

Selain itu, kata Ani, pemerintah juga mempertimbangkan petani tembakau dan tenaga kerja pada perusahaan rokok kretek tangan.

Kemudian pemerintah juga berupaya mencegah kehadiran rokok ilegal agar tidak meningkat. Serta untuk menggenjot peneriman cukai yang ditargetkan Rp179,2 triliun tahun depan.

"Maka, keputusan yang disampaikan di dalam ratas, melihat berbagai aspek itu cukai (dinaikkan) 23% untuk 2020 yang semenjak 2018 enggak naik, jadi ini sudah dua tahun," kata Ani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (16/9).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan kenaikan tersebut dirapel atau sekaligus untuk waktu dua tahun sebelumnya yang tidak mengalami kenaikan.

"Naiknya kan rapelan. 2019 kan diputuskan enggak naik. Kenaikan sekarang dari tarif 2018. Naik rapelan dua tahun berarti," jelas Suahasil. (Medcom/OL-2)

Baca Juga

AGUS SUPARTO

Mitigasi Risiko dari Penerapan Kenormalan Baru

👤Despian Nurhidayat 🕔Kamis 28 Mei 2020, 06:15 WIB
Risiko bila terjadi gelombang kedua penyebaran covid-19 dapat menyebabkan pemulihan ekonomi berlangsung lebih...
ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Pertamina Jaga Produksi Hulu Migas

👤Iam/E-3 🕔Kamis 28 Mei 2020, 06:00 WIB
PRODUKSI migas Pertamina pada triwulan I 2020 cukup stabil dan terjaga dengan...
Antara

Wakili Sinarmas, Hotman Paris Somasi Agen Penjual Reksa Dana

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 27 Mei 2020, 23:40 WIB
Bibit merupakan salah satu agen penjual efek reksa dana produk kelolaan Sinarmas Asset...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya