Minggu 15 September 2019, 17:05 WIB

Pemerintah Didesak Gabungkan Batasan Produksi SPM dan SKM

Antara | Ekonomi
Pemerintah Didesak Gabungkan Batasan Produksi SPM dan SKM

ANTARA
Sejumlah buruh melinting rokok sigaret kretek tangan

 

ASOSIASI perusahaan rokok kecil yang tergabung dalam Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi) mendesak pemerintah melakukan percepatan penggabungan batasan produksi sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin.

"Kami masih berpijak pada usulan percepatan penggabungan (batasan produksi) sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM)," kata Ketua Harian Formasi Heri Susanto, dalam penjelasannya di Jakarta, Minggu (15/9).

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan tarif cukai rokok pada 2020 akan naik rata-rata sebesar 23%. Adapun harga jual eceran akan naik hingga 35%. Kebijakan ini akan mulai berlaku Januari 2020. Seluruh kenaikan tersebut akan dituangkan dalam revisi PMK 156 yang saat ini masih digodok pemerintah.

Menurut dia, saat ini, struktur tarif cukai hasil tembakau, khususnya untuk SKM dan SPM, masih memiliki celah yang dapat dimanfaatkan oleh beberapa pabrikan besar asing untuk melakukan penghindaran pajak.

Dia menyebut, siasat yang digunakan adalah membatasi volume produksi mereka agar tetap di bawah golongan satu, yakni tiga miliar batang, sehingga terhindar dari kewajiban membayar tarif cukai tertinggi.

Padahal, tarif cukai golongan dua SPM dan SKM lebih murah sekitar 50-60% ketimbang golongan satu.

Tuntutan Formasi untuk mempercepat penggabungan batas volume produksi SKM dan SPM menjadi tiga miliar batang per tahun itu juga didukung oleh sejumlah ekonom dan akademisi.

 

Baca juga: Ini Daftar Penerbangan yang Terdampak Akibat Kabut Asap

 

Mereka mendorong pemerintah segera melakukan penggabungan agar pabrikan besar yang secara kumulatif produksi telah mencapai tiga miliar, harus membayar tarif cukai tertinggi di masing-masing golongan.

Berdasarkan data Institute for Development of Economics and Finance (Indef), penggabungan batasan produksi SKM dan SPM dapat menambah pemasukan negara sebesar Rp1 triliun.

Selanjutnya, Formasi juga meminta agar persentase kenaikan tarif cukai antara golongan satu dan dua harus sama. 

"Kenaikan dalam batas kewajaran, sesuai pertumbuhan ekonomi dan inflasi," tegas Heri.

Sementara, di segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT), Formasi meminta adanya penggabungan tarif SKT golongan satu, serta mempertahankan besaran tarif dan batasan produksi pada golongan tiga yakni Rp100 per batang dan di bawah 500 juta batang per tahun.

Heri mengatakan, keempat tuntutan tersebut demi kepentingan semua pihak.

"Harapan kami, ekonomi terus tumbuh, khususnya penerimaan negara di bidang industri hasil tembakau meningkat, tanpa mengorbankan pabrikan dan penyerapan tenaga kerja tetap berlangsung," katanya.

Selain menuntut empat hal tersebut, Formasi juga mengapresiasi pemerintah yang telah mampu menurunkan peredaran rokok ilegal.

“Di sisi lain kami juga meminta perhatian pemerintah atas maraknya penjualan rokok murah (subsidi) dari grup pabrikan besar yang semakin mengabaikan etika dalam berusaha,” tegas Heri. (OL-1)

 

Baca Juga

MI/Ramdani

Kemenhub: Pengendalian Transportasi Hari Pertama Lebaran Kondusif

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 24 Mei 2020, 19:07 WIB
Pengawasan menyasar semua arus keluar dan masuk wilayah Jabodetabek, termasuk jalur darat, laut dan...
Antara/Muhammad Iqbal

70% Pesawat Grounded, Garuda Lakukan Prolong Inspection

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 24 Mei 2020, 14:32 WIB
Prolong inspection bertujuan menjaga kelayakan pesawat, karena rute berkurang akibat pandemi...
MI/PIUS ERLANGGA

Sri Mulyani: Tidak Ada Kesehatan, Tidak Ada Ekonomi

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 24 Mei 2020, 13:00 WIB
"Itu sebabnya, pada saat terjadi pandemi, langkah pertama pemerintah adalah mengunci terlebih dahulu dana Rp75 triliun khusus untuk...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya