Senin 16 September 2019, 21:53 WIB

 Pemakai Vape Meninggal di AS Disebabkan THC Oil

Kisar Rajagukguk | Ekonomi
 Pemakai Vape Meninggal di AS Disebabkan THC Oil

MI/Kisar Rajagukguk
Aryo Andrianto (tengah), Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) jumpa pers di Jakarta, Senin (16/9).

 

ASOSIASI Personal Vaporizer Indonesia (APVI) yang menaungi sekitar hampir 1.000 lebih anggota pengusaha vape atau rokok elektrik, mengklarifikasi kepada semua pihak termasuk kepada pemerintah mengenai berita bahayanya vape yang tidak berdasar.

“Kami selama ini telah menjalin hubungan yang baik duduk bersama pemerintah dalam membuat kebijakan khusus bagi industri vape," jelas Aryo Andrianto Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) kepada wartawan, di Jakarta, Senin (16/9).

"Kami merasa berkewajiban untuk membuat klarifikasi terhadap beberapa pemeberitaan yang menyatakan bahwa kegiatan vaping ini telah menelan korban meninggal dan beberapa pemberitaan negatif mengenai vape, sehingga publik berhak mendapatkan pemberitaan yang adil,”ujar Aryo.

Berita miring kematian soal pengisap vape tersebut, lanjut Aryo, sebenarnya sudah diketahui sejak beberapa minggu lalu. Berasal dari pemberitaan soal kematian tersebut terjadi di Amerika Serikat.

“Pemberitaan itu kami konfirmasikan kepada asosiasi vape di seluruh dunia. Dan kami sekali lagi mendapatkan penjelasan bahwa kasus itu terjadi di Amerika dan benar adanya tetapi bukan karena liquid vape yang normal, legal yang biasa digunakan oleh umumnya pengguna vape atau vapers,” kata Aryo.

Terkait pemberitaan adanya yang tewas akibat mengisap vape di AS, ungkap Aryo, dikarena korban mengkonsumsi vape yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC) oil atau konsentrat ganja yang berkadar tinggi yang dijual secara illegal atau di black market di 'Negeri Paman Sam'.

“THC oil adalah unsur utama psikoaktif yang terdapat di dalam tanaman ganja. Zat ini yang disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan ada juga ditemukan kandunganya terdiri dari muatan minyak Vitamin E dosis tinggi dengan menggunakan media yang sama dengan alat alat vape yang biasa di gunakan. Artinya ini kasuistis,” imbuh Aryo.

Pihaknya mendapat info bahwa Wisconsin Brother, kakak beradik yang mengedarkan THC oil di Amerika Serikat sudah ditengkap pihak berwajib.

Aryo menegaskan, selama ini vape yang legal di Indonesia, belum ada ditemukan kasus yang meninggal karena kegiatan vaping legal. Padahal industri vape indonesia sudah ada sejak tahun 2012.

"Kalaupun disinyalir ada, itu adalah oknum bandar narkoba yang mencari kesempatan menggunakan media vape sebagai cara menjual produk narkoba yang jelas dilarang di Indonesia," ujarnya.

Menurut Aryo, efek kecanduan nikotin dalam kandungan cairan vape tidak lebih sama dengan efek kecanduan teh atau kopi yang selama ini dikonsumsi orang banyak. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More