Senin 16 September 2019, 23:30 WIB

Demonstrasi dan Perpecahan Keluarga

Demonstrasi dan Perpecahan Keluarga

AFP
Demonstrasi antipemerintah di Hong Kong

 

DEMONSTRASI antipemerintah di Hong Kong yang telah berlangsung tiga bulan tidak hanya membuat pusat kota terguncang, tapi juga pergolakan tersebut hingga menimbulkan jurang dan perpecahan bagi banyak keluarga di Hong Kong.

Jane, nama samaran perempuan berusia 24 tahun yang ikut dalam aksi unjuk rasa mengaku berbohong selama berminggu-minggu kepada ibunya untuk dapat bergabung dengan barisan pengunjuk rasa. Ia kerap mengelabui dengan pergi keluar rumah membawa tas ransel yang dipenuhi dengan buku.

Lambat laun, jurang yang tidak dapat diatasi tumbuh di antara Jane dan ibunya sehingga Jane pun terpaksa meninggalkan kediaman yang ia tinggali bersama ibunya.

"Setelah setiap habis berkelahi, ibu tidak akan berbicara dengan saya selama seminggu. Flat Hong Kong kecil. Kami hanya dipisahkan oleh satu dinding. Jadi, saya harus pergi," ungkap Jane.

Tak hanya Jane, pemuda yang menyebut dirinya Chris juga mengaku mendapati jurang dengan keluarganya akibat keputusannya bergabung dalam aksi unjuk rasa menentang RUU ekstradisi yang meluas menjadi gerakan menuntut reformasi demokrasi tersebut. Ia mengaku hubungan dengan orangtuanya kini menjadi dingin. Bahkan, ia merasa lelah dan putus asa menghadapi pertentangan-pertentangan dengan orangtuanya.

"Pada mulanya, saat makan kita akan diam-diaman. Itu sangat menyedihkan sehingga sekarang saya tidak akan pulang sampai saya tahu orangtua saya sudah di tempat tidur," imbuh Chris, yang baru saja menjadi sarjana dan memulai pekerjaan di sebuah bank terkemuka.

Penelitian yang telah dilakukan para akademisi menunjukkan bahwa 50% dari mereka yang berunjuk rasa berusia antara 20 dan 30 tahun, sebanyak 77% di antaranya mengenyam pendidikan tinggi. Sementara itu, jajak pendapat oleh University of Hong Kong, jumlah penduduk Hong Kong yang bangga menyebut diri mereka sebagai warga negara Tiongkok tercatat rendah, yakni hanya 27%. Di antara jumlah tersebut, hanya 10% penduduk Hong Kong berusia 18-29 tahun bangga menyebut sebagai warga negara Tiongkok. (AFP/Uca/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More