Senin 16 September 2019, 11:05 WIB

Kerukunan Umat Beragama Kearifan Lokal Warga Banjarpanepen

Liliek Dharmawan | Nusantara
Kerukunan Umat Beragama Kearifan Lokal Warga Banjarpanepen

MI/Liliek Dharmawan
Warga Desa Banjarpanepen meski berbeda-beda agama, mereka tetap rukun dan mendukung saat acara tradisi Takiran di Watu Jonggol.

 

KABUT baru saja meninggalkan Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang memiliki ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (mdpl), seiring semakin terangnya matahari. Sejauh mata memandang dari pinggiran desa, Samudra Hindia terlihat begitu jelas dengan warna air yang biru. Banjarpanepen cukup terpencil, kalau dari Kota Purwokerto jaraknya 50 km dengan melewati jalan yang menanjak.

Warganya ramah seperti penduduk desa kebanyakan. Menariknya. di desa setempat tak hanya memiliki masjid dan musala saja, melainkan tempat ibadah lainnya seperti vihara dan gereja, bahkan tempat pemujaaan penghayat kepercayaan. Sebuah bukti jika desa setempat menjadi pemukiman yang majemuk warganya.

Pada Senin (2/9) lalu, di sebuah tempat yang dinamakan Watu Jonggol, desa menggelar sedekah bumi yang berbarengan dengan awalnya bulan Sura dalam kalender Jawa. Warga membawa takir yakni wadah makanan dari daun pisang. Di dalam takir ada nasi yang dicampur dengan sayuran dan lauk. Di bawah pohon besar yang rindang, mereka duduk rapi. Tak hanya umat Islam saja, tetapi juga dari umat lain seperti penghayat kepercayaan, Kristen, dan Budha. Bahkan ada tamu juga dari Hindu maupun dari Katolik.  Setelah didoakan, warga membagi-bagikan takir kepada seluruh tamu yang datang.

"Silakan mencicipi, ayo makan bersama. Ini adalah acara sedekah bumi atau takiran. Masing-masing warga, apapun agamanya datang ke sini. Kita bersatu, menyingkirkan perbedaan. Kita di sini satu, semuanya saudara, sama-sama warga Desa Banjarpanepen," ungkap Samun, 65, salah seorang tokoh adat desa setempat kepada Media Indonesia.

Sebagai tokoh adat, Samun terus mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan adat yang ada.

"Sedekah bumi menjadi salah satu sarana pertemuan penduduk meski beda iman. Mereka datang ke sini tanpa embel-embel keyakinan, datang dan menikmati makanan bersama-sama," ungkapnya.

Maryono, pendeta Budha yang lahir dan besar di Desa Banjarpanepen, mengaku belum pernah ada gesekan antaragama.

"Kalau di Kabupaten Banyumas, di sini paling banyak warga Budha bermukim. Ada sebanyak 160 keluarga atau 900 jiwa dengan jumlah vihara ada lima tempat. Di sini kami merasa nyaman, tidak dibeda-bedakan. Malah, saat menjelang Waisak, saudara-saudara dari Islam dan Kristen juga ikut bergotong-royong. Begitu juga dengan kegiatan sehari-hari, kita bersama-sama dalam kerja bakti," ujarnya.

Ketua Gereja Kerasulan Baru Banjarpanepen, Wagiman, mengatakan jumlah warga Kristen di desa setempat sebanyak 95 keluarga atau 372 jiwa.

"Meski tidak banyak, tetapi umat Kristiani di Banjarpanepen tidak pernah mendapat gangguan dan turut serta terus menjaga kerukunan. Di dalam keluarga kami sejak kecil telah diajarkan toleransi. Kakak saya ada yang muslim dan penghayat. Kami baik-baik saja. Yang penting adalah saling menjaga dan tidak termakan oleh isu-isu yang tidak jelas
kebenarannya," kata dia.

Sedangkan tokoh penghayat Banjarpanepen, Turimin, mengungkapkan jumlah penghayat di Banjarpenen hanya enam keluarga atau 14 jiwa.

"Kami tidak pernah diasingkan, walaupun jumlahnya paling sedikit. Kami tetap dirangkul sebagai keluarga besar Desa Banjarpanepen. Di keluarga saya ada yang Islam, ada pula yang Kristen. Kami tidak saling memengaruhi, tetapi menghormati. Biarlah kami meyakini kepercayaan masing-masing. Paling prinsip adalah bagaimana menjalankan agama dan kepercayaannya, tanpa harus memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Dengan sikap semacam itu, di Banjarpanepen tidak pernah ada konflik. Inilah yang terus kami jaga, saling menghormati dan bergotong-royong tanpa memandang perbedaan yang ada," jelasnya.

Tokoh agama dari muslim, yang juga kayim desa, Mitro menjelaskan  jumlah penduduk muslim masih tetap mendominasi, karena jumlahnya mencapai 80% dari 5.979 jiwa penduduk desa. Ia menegaskan kalau di Islam, dasarnya adalah Lakum Dinukum Waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Islam di sini ingin menunjukkan sebagai agama yang Rahmatan Lil'alamin. Itulah yang menjadi prinsip.

"Yang tidak kalah penting adalah ajaran dari para sesepuh untuk saling menjaga dan menghormati. Makanya, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah terdengar cerita mengenai gesekan atau pertengkaran karena persoalan agama. Kita di sini dipersatukan oleh adat dan kebudayaan yang telah turun temurun. Dalam menggelar kebudayaan, kami menyatu tanpa memandang perbedaan. Sehingga tradisi jangan sampai punah, sehingga warga tidak pecah. Banjarpenepen bisa dikatakan sebagai œDesa Pancasila Kecil, harus terus dipertahankan dan dijaga oleh seluruh komponen masyarakat," ujar Mitro.

Bahkan, seorang warga Hindu yang berasal dari desa lain, Made Subali, telah membuktikan bagaimana warga di desa setempat mampu menjaga toleransi secara baik. Kepala Desa Banjarpanepen Mujiono mengatakan meski secara kearifan lokal toleransi telah menjadi budaya masyarakat setempat, tetapi tetap perlu memupuk kebersamaan.

"Setiap bulan sekali, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat bertemu. Bagi pemerintahan desa, pertemuan dan silaturahmi ini sangat penting, untuk tetap menjaga komunikasi antartokoh. Jangan sampai kalau ada isu-isu yang tidak bertanggung jawab dari media sosial yang mengancam keberagaman tidak diantisipasi. Persatuan harus tetap diprioritaskan agar ketenangan warga tetap terjaga," ujarnya. .

Kades menambahkan, kegotongroyongan juga terus dipupuk. Kalau ada saudara beda agama yang tengah punya hajat, tetap gotong royong bersama.  Misalnya buat musala, maka yang Budha, Kristen dan penghayat ikut serta membantu.

"Ke depan, selain kami mengembangkan budaya alam yang asri di Banjarpanepen, kearifan lokal bakan dijadikan wisata kerukunan antarumat beriman. Mereka dapat melihat bagaimana warga di sini saling toleransi. Di sini ada masjid, musala, gereja, vihara dan tempat pemujaan penghayat," tegas Kades.

Bupati Banyumas Achmad Husein memuji guyub rukun warga Banjarpanepen ini.

"Banjarpanepen bisa menjadi contoh bagaimana masyarakat mempertahankan budaya untuk menyatukan seluruh warga. Saya kira inilah bentuk toleransi senyatanya," kata Bupati.

Menurutnya acara Takiran menjadi acara yang mempertemukan seluruh warga tanpa memandang latar belakang. Di sini saling menukar makanan dan berbagi makanan dengan siapa saja yang hadir. Banjarpanepen menjadi contoh nyata bagaimana mereka hidup bersama dalam perbedaan, tanpa ada konflik. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyumas menjadikannya sebagai desa sadar kerukunan.

Potret kerukunan umat beragama di Banjarpanepen ini juga mendapat pujian dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas Mohamad Roqib. Menurutnya Banjarpanepen merupakan potret warga berbeda iman bisa saling menyatu dan bertoleransi.

baca juga: BMKG Bandung Catat Dalam Seminggu Terjadi 31 Kali Gempa

"Banjarpanepen menjadi contoh desa sadar kerukunan. Mereka telah mempraktikkannya sejak nenek moyang mereka. Perbedaan itu sebuah keniscayaan dan rahmat Tuhan. Warga Banjarpanepen telah menunjukkan dengan saling menjaga keberagamanan," kata Roqib yang juga Rektor IAIN Purwokerto tersebut. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More