Senin 16 September 2019, 06:10 WIB

Startup Indonesia semakin Matang

Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi
Startup Indonesia semakin Matang

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama.
GERAKAN NASIONAL 1000 STARTUP DIGITAL SATU INDONESIA:

 

PERKEMBANGAN perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup) yang masif di Indonesia mencapai titik matang. Artinya, startup lokal tidak lagi mengekor pada tren dunia, tetapi sudah berani mencari solusi dari problem yang ada di sekitar.

Sebagai contoh, harga rumah yang mahal memunculkan startup yang membuat sejumlah inovasi seperti cicilan tanpa agunan. Ini sangat menarik karena ingin menjawab persoalan yang langsung dihadapi.

"Pendekatan ini jauh lebih baik karena para startup memulai dari melihat persoalan dan berupaya mencari penyelesaian. Dulu membuat solusi, baru mencari problem," tutur Accelerator Director GK Plug and Play Indonesia, Aaron Nio, saat ditemui di Tangerang, Rabu (11/9).

Independensi tersebut tecermin dari startup seperti Gojek. Ini menunjukkan Indonesia mampu membuat startup berdasarkan problem yang ada.

Senada dengan itu, Head of Developer Relations and Startup Ecosystem for Asia, Africa and the Middle East Google, Sebastian Trzcinski-Clement, menilai pertumbuhan startup yang masif tidak akan memberikan kontribusi signifikan jika tidak memahami pasar. Apalagi, biaya membangun startup cenderung murah sehingga sangat mudah membentuknya.

"Keberadaan startup seperti Gojek yang sudah dikenal secara global sangat menarik. Karena itulah, startup perlu membentuk produk yang cocok untuk pasar yang mereka inginkan secara spesifik," jelas Sebastian.

Selain itu, terdapat tantangan memperoleh sumber daya manusia dengan talenta dan berkualitas. Bahkan, imbuhnya, sekelas Google dan Gojek pun kesulitan untuk mendapatkan hal tersebut.

Peran swasta

Karena itu, peran pihak swasta dibutuhkan dalam rangka percepatan dan menciptakan ekosistem yang berkesinambungan dalam pengembangan startup. Salah satu upaya tersebut dilakukan Sinarmas Land dengan menggandeng GK Plug and Play Indonesia dan Digitaraya dalam mengembangkan BSD Innovation Labs.

"Kami mengembangkan BSD Innovation Labs sebagai startup accelerator. Melalui kerja sama ini, kami berharap keberadaan BSD Innovation Labs berguna bagi talenta berbakat di bidang digital sehingga kita dapat menyaksikan berbagai inovasi digital yang dikerjakan para tim startup lahir di Digital Hub BSD City," ujar Digital Hub Project Leader Sinarmas Land, Irwan Harahap, di tempat yang sama.

Diketahui, Sinar Mas Land mengalokasikan investasi sebesar Rp7 triliun dalam 10 tahun untuk mengembangkan digital hub seluas 26 hektare. Dalam pelaksanaannya, Digital Hub memiliki tiga model bisnis yang berbeda, mulai menjual lahan, membangun dan menyewakan gedung, serta menyediakan ekosistem digital bagi startup, seperti membangun akselerator, yakni BSD Innovation Labs.

Pengembang startup nanti memperoleh pembinaan berdasarkan kurikulum, jaringan mentor, serta menghubungkan dengan mitra korporasi dan investor potensial. Karena sistemnya berkesinambungan, solusi yang dihasilkan startup lulusan BSD Innovations Labs memiliki potensi untuk diintegrasikan ke bisnis Sinar Mas Land.

"Kami menyiapkan tempat serta mengundang vendor dan supplier untuk menjadi mitra korporasi. Kelebihannya nanti kalau menemukan startup yang cocok, kami dapat bantu dari awal sebelum valuasinya meningkat," ungkapnya. (S-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More