Senin 16 September 2019, 02:10 WIB

Yovie Widianto Mengidolakan Presiden Soekarno

Fetry Wuryasti | Humaniora
Yovie Widianto Mengidolakan Presiden Soekarno

MI/Sumaryanto
Pianis sekaligus musikus, Yovie Widianto

 

PIANIS sekaligus musikus, Yovie Widianto, 51, telah melewati kepemimpinan enam presiden selama berkarya sejak zama Presiden Soeharto hingga Presiden Jokowi. Namun siapa sangka, sesungguhnya ia mengidolakan presiden pertama Indonesia, yakni Soekarno.

"Selama periode enam presiden memang saya membuat hit, tetapi saya sangat terpengaruh oleh presiden pertama kita yang memiliki semangat yang luar biasa," ungkap Yovie di Jakarta, Jumat (6/9).

Selain semangat, hal yang dikagumi Yovie dari sosok Soekarno ialah kecintaannya pada seni. "Dia sangat mencintai seni," tegas Yovie dengan kagum.

Presiden Soekarno dikenal gemar mengoleksi berbagai lukisan. Tak heran, karena presiden pertama ini sendiri juga gemar melukis. Dikutip dari berbagai sumber sejarah, Soekarno melukis untuk kali pertama ketika kuliah di di Technische Hogeschool Bandoeng, dibimbing pengajarnya, arsitek Belanda bernama Charles Prosper Wolff Schoemaker. Ketika diasingkan ke Ende, Flores, Soekarno juga kembali melukis untuk menjaga bara semangat meski diterpa malaria.

Yovie terjun ke dunia seni sebagai musikus dan mulai menciptakan lagi pada 1986 ketika membentuk band Kahitna dan bermain sebagai pianisnya. Ia mengenal musik pop melalui lagu-lagu karya David Foster yang memiliki keunikan, yakni melodi musikya sederhana, chord-nya susah, dan satu lagu bisa mempunyai nada dasar yang berbeda.

"Saya jadi tahu bahwa musik pop bisa dibuat berbobot berkat musik David Foster," ujar pria kelahiran 21 Januari 1968 itu. Sejak saat itu, Yovie yang juga mendirikan Yovie & Nuno melirik industri pop Indonesia dengan patokan karya 'pop bergizi' David Foster dan Quincy Jones.

Tidak sedikit musikus yang lahir dari lagu dan aransemen musik hasil tangan dingin Yovie, di antaranya Rio Febrian, Audy, Yana Julio, Pinkan Mambo, Delon, Astrid, Glenn Fredly, Dea Mirella, Rossa, Ressa Herlambang, Raisa, Bunga Citra Lestari, dan Marcell Siahaan.

Dengan karya ciptaannya, tak sedikit yang memandang Yovie sekaliber David Foster dalam hal kemiripan jenis musik dan rentang waktu yang panjang dalam berkarya.

Namun, menurut Yovie, musik yang dia lahirkan memiliki ciri khas yang tidak dimiliki karya-karya David Foster. Meskipun sama-sama berupa musik diatonik atau terdiri atas tujuh nada dalam satu oktaf, tetapi lagu-lagu Yovie yang menjadi hit sebenarnya menggunakan nada perpaduan diatonik dan pentatonik atau menggunakan 5 nada dalam satu oktafnya. Nada ini hanya akrab dalam musik Indonesia seperti gamelan Jawa.

"Nadanya do, si, sol, fa, mi, do. Di situ nadanya kalau musik Jawa dan Sunda. Nada-nada itu yang tidak tersentuh oleh Foster. Nada itu seperti ada pada lirik, Walau ke ujung dunia, pasti akan ku nanti. Nada seperti itu pasti punya Indonesia," ujar Yovie bangga.

 

Riset batik

Kecintaan Yovie pada seni juga tidak berbatas hanya sampai musik, tetapi juga batik. Dia mengaku telah lama melakukan riset akan batik.

"Saya meriset batik, mulai batik Aceh sampai batik Gorontalo dengan bermotif burung kakaktua sampai Papua dengan batiknya yang berbeda lagi. Semangatnya satu, tiap-tiap daerah memiliki batiknya. Itu adalah kekayaan Indonesia yang luar biasa," imbuhnya.

Selama 9 tahun Yovie menjadi host acara Idenesia, Mencintai Indonesia di Metro TV. Dia berkeliling, dari Aceh hingga Papua, dan mendatangi pelosok sentra batik, seperti Bangkalan dan Pamekasan Madura hingga Sengkang salah satu kota kecil yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan untuk mencari batik khas. "Jadi, kalau mau menanyakan ensiklopedia tentang kain Indonesia, saya cukup banyak pengalaman. Bukan berarti saya yang paling tau, melainkan saya sangat mencintai kain Indonesia," tukas Yovie. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More