Senin 16 September 2019, 01:50 WIB

Pesan Edukasi Habibie

Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma | Opini
Pesan Edukasi Habibie

Dok. Pribadi
Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma

PROF Dr Ing H BJ Habibie, Presiden ketiga Republik Indonesia, telah berpulang ke rahmatullah pada Rabu (11/9), meninggalkan pesan penting bagi pendidik di negara ini; pentingnya menyandingkan 'iptek dan imtak' dalam pendidikan anak bangsa. Ungkapan yang merepresentasikan sosok diri penuh perhatian dan komitmen akan generasi mendatang yang hidup dalam era global penuh dengan tantangan nan kompleks.

Dari perspektif agama (Islam), ungkapan Habibie--terkait tugas pendidik dalam menyiapkan generasi ke depan--dinyatakan dengan tegas dalam Alquran; "setiap orang hendaknya berhati-hati (jangan sampai) meninggalkan anak-anak (generasi berikutnya) dalam keadaan lemah di belakangan mereka (di kemudian hari), yang dikhawatirkan akan kesejahteraan mereka," (An Nisa ayat 9). Kelemahan menyangkut berbagai dimensi, seperti keyakinan, ilmu, dan teknologi. Iptek dan imtak juga sejalan dengan harapan akan generasi yang baik (saleh)--mengikuti doa para nabi, yaitu Nabi Ibrahim; "Ya Allah anugerahi kami seorang anak saleh," (Ash Shaffat ayat 100) dan doa Nabi Zakaria "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik," (Ali Imran ayat 38).

 

Generasi masa depan

Konsep anak dalam pendidikan, tidak dibatasi dalam pengertian anak biologis (anak kandung), tapi juga sosiologis; yaitu anak-anak warga masyarakat/bangsa, termasuk anak didik di berbagai jenjang pendidikan. Lalu, siapakah generasi ke depan yang baik (saleh)? Paling tidak terdapat empat kriteria utama anak baik (saleh) dari beberapa tafsir yang dikenal; pertama, taat terhadap perintah atau ajaran agama (Al Khaliq), yang dalam agama (Islam) bersumber kepada kitab suci (Alquran) dan As sunnah.

Keduanya sebagai dasar dalam melaksanakan relasi manusia dengan khalik (hablun minallah) yang diwujudkan dalam ibadah makhdlah atau ritual (seperti salat, puasa, zakat, haji) dan hubungan sesama manusia, makhluk, dan bahkan alam semesta atau sering diungkapkan dengan istilah hablun minannas, hablum ma'a makhluk, dan hablun ma'a alam, seperti kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan menjadi warga dunia, termasuk berbuat baik terhadap makhluk Allah lainnya, yaitu hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Kedua, taat kepada Allah diwujudkan tidak melanggar aturan yang berkaitan dengan hablun minallah dan hablun minanass, misalnya, bersikap dan bertindak tidak adil atau zalim/aniaya terhadap orang lain dan fasad (membuat kerusakan) terhadap ciptaan Allah lainnya seperti perusakan lingkungan hidup.

Ketiga, berbuat baik (amal saleh) dalam kehidupan dunia dalam berbagai bentuk. Seorang anak yang baik (saleh) akan memanfaatkan rezeki yang dianugerahkan Allah berupa harta benda, ilmu atau keahlian, dan kekuasaan untuk kemaslahatan umat (masyarakat). Ciri ketiga ini mempunyai kaitan dengan konsep khairu ummah (umat yang baik) sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 110. Salah satu pengertian khairu ummah ialah orang memiliki akhlak baik--tutur kata, perilaku, sikap, dan tindakan yang baik terhadap sesama manusia dengan memanfaatkan harta, ilmu, kekuasan yang dianugerahkan Allah menurut ketentuan syari (Ath-Thabari; Sayyid Ath-Thanthawy, As-Sa'di) untuk kemaslahatan masyarakat. Dengan kata lain, ia menjadi seseorang yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Keempat, tidak melakukan kerusakan dalam kehidupan. Kerusakan mengandung pengertian segala bentuk dan jenis yang dapat merusak tatanan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, moral, dan kerusakan alam/sumber daya alam). Salah satu pengertian fasad (kerusakan) mempunyai kaitan dengan ciri kedua sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Ath-Thabari berkaitan dengan surat Al Baqarah ayat 11, yaitu tidak berbuat yang merusak moralitas diri dan lingkungan/masyarakat.

 

Upaya edukasi

Berdasar perspektif pendidikan (agama) pesan pentingnya memiliki kemampuan 'imtek dan imtak' Habibie dapat dielaborasi dalam upaya edukasi sebagai berikut; pertama, menanamkan dan memperkuat akidah atau tauhid, yaitu keyakinan bahwa beribadah dan mohon pertolongan hanya kepada dan karena Allah (ikhlas) dan tidak mengharap selain rida Allah, taat menjalankan perintah, dan menjauhi larangan-Nya (sebagai satu bentuk pewujudan sikap sabar) (Luqman ayat 12, 13, 16, dan 17).

Kedua, menanamkan akhlak terpuji atau menjadi orang baik (muhsin), yakni baik untuk dirinya, sesama manusia (hamba Allah), yaitu orangtua (birrul waalidain) seperti tercantum dalam surah Luqman ayat 14 dan 15, bermanfaat bagi orang lain yakni berbuat baik terhadap orang lain (teman, tetangga, masyarakat), bertutur kata baik, tidak anani (egois), tidak pongah atau sombong, hilm atau menahan diri untuk menyampaikan ucapan atau melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan atau kemudaratan bagi orang banyak (masyarakat) (Luqman ayat 17, 18, dan 19). Akhlak baik merupakan buah dari ketakwaan yang muncul dalam relasi dengan sesama manusia atau makhluk.

Ketiga, memberi bekal ilmu bukan gelar semata kepada anak-anak, termasuk teknologi. Agama (Islam) telah menegaskan pentingnya ilmu sebagaimana disebutkan, antara lain dalam surah Al Mujadalah ayat 11, juga beberapa hadis, antara lain; "Siapa ingin memperoleh kebahagian dunia hendaknya ia memiliki ilmu, siapa ingin mendapatkan kebahagiaan akhirat hendaklah memilki ilmu, dan barang siapa ingin mendapatkan kebahagian kedua-duanya, ia hendaknya menguasai ilmunya." Juga "ulama ialah pewaris nabi, para nabi tidak mewariskan harta benda, tapi mewariskan ilmu. Siapa memilih ilmu, maka ia telah mendapat atau mengambil bagian yang besar," (hadis riwayat Abu Dawud No 2641, 2642; Turmudzi No 2683; Ibnu Majah No 223; Ahmad dalam Al Musnad No 196/5). Ilmu menjadi syarat dari perbuatan baik. Dalil-dalil tersebut menjadi landasan untuk mengkaji ilmu pengetahuan dan membekali anak-anak kita dengan pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan nilai yang diperlukan dalam kehidupan kini dan mendatang yang selalu dinamis dan melahirkan tantangan.

Semoga generasi mendatang memiliki ilmu luas dan menguasai teknologi yang tinggi yang didasari dengan iman dan takwa. Mereka menjadi penyejuk hati yang berbakti kepada Al Khaliq, berbuat baik terhadap orangtua dan sesama manusia serta tidak membawa petaka atau kerusakan (Ath-Thabary) dalam kehidupan, terhadap dirinya, keluarga, dan masyarakat. Mereka menjadi panutan dan pelopor kebaikan bagi masyarakat (umat) (As Samarqindi, Al Maaturidy, Al Qurtubi). Mereka gemar mengkaji ilmu dan menjadikannya sebagai dasar dalam melakukan amaliah kehidupan untuk dirinya dan masyarakat.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More