Senin 16 September 2019, 06:00 WIB

Empat Wakil Gubernur 

Mathias S. Brahmana Wartawan Media Indonesia  | Opini
Empat Wakil Gubernur 

MI
Mathias S. Brahmana Wartawan Media Indonesia 

MAMPUKAH Anies Baswedan memimpin Jakarta sendirian hingga tahun 2022? Ada yang meragukan, tentu banyak pula yang haqul yakin. Menjelang dua tahun mengomandani Jakarta sejak Oktober 2017, sudah setahun lebih sang mantan Mendikbud mengemudi tunggal karena copilot pindah pesawat.

Pesawat yang dipiloti Anies terbukti tidak turbulen sekalipun ada yang menyebut lajunya seperti Hercules, sedikit agak lamban dibandingkan CN-235 buatan mantan Presiden BJ Habibie. 

Pertanyaannya, kenapa buru-buru amat, emang mau kemana sehingga mendesak Anies Baswedan cepat-cepat lepas landas? Apa mau dipaksa naik kelas? Pemilihan presiden masih lima tahun lagi. Joko Widodo saja belum dilantik. 

Lagi pula belum tentu Anies ngebet terbang tinggi, bisa-bisa semakin betah melayang-layang sekitaran Balai Kota DKI, dengan menjalani periode kedua sebagai Jakarta Satu. 

Anies dan Joko Widodo sama-sama akan memperingati ulang tahun kepemimpinan pada Oktober 2019. Anies berulangtahun ke-2 sebagai Gubernur DKI Jakarta, sedangkan Joko Widodo yang juga mantan Gubernur DKI memasuki periode kedua sebagai Presiden Republik Indonesia hingga 2024. 

Bila Anies berniat menggantikan Joko Widodo, ada waktu tiga tahun untuk merangkai gabion menjadi monumen perjuangan. Tiga tahun tergolong cukup banyak bila dibandingkan persiapan Anies saat menjadi Gubernur DKI yang hanya satu tahun. 

Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat kata Gombloh. Bila garis tangan sudah berbicara, kemenangan tak akan lari kemana. Buktinya, Anies terpilih menjadi Gubernur DKI di tengah prestasi pendahulunya yang sedang membubung tinggi.   

Namun sejenak lupakan dulu ambisi, mari kita cari pasangan yang paling pas mengantar Anies ke jalur prestasi. Sekalipun secara zonasi sudah oke tapi tanpa prestasi bisa berakhir dengan gigit jari. 

Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan DKI Jakarta yang berjumlah 73 orang belum berhasil menderek Anies ke puncak kreatifitas. Dua calon wakil gubernur yang diusung PKS untuk menggantikan posisi Sandiaga Uno juga belum ditetapkan DPRD DKI Jakarta. Anies masih akan seorang diri, entahlah sampai berapa bulan lagi. 

Belakangan mencuat wacana menyandingkan Anies dengan empat wakil gubernur seperti pada era kepemimpinan Sutiyoso. Saat itu posisi Wagub Bidang Pemerintahan dijabat Abdul Kahfi, lalu Boedihardjo Soekmadi sebagai Wagub Bidang Pembangunan, Djailani menduduki kursi Wagub Kesejahteraan Masyarakat, serta Fauzi Alvi membidangi Ekonomi Keuangan. 

Keempatnya membantu Bang Yos memimpin Ibu Kota selama 10 tahun sejak 6 Oktober 1997-7 Oktober 2007 dengan gemilang. Memasuki era reformasi, aturan menyeragamkan provinsi hanya punya satu wagub. 

Sebenarnya bukan hanya pada era Bang Yos, Jakarta punya empat wagub. Pendahulunya, Henk Ngantung didampingi dua wagub, Soemarno Sosroatmodjo dikawal tiga wagub, Tjokropranolo empat wagub, R Soeprapto tiga, Wiyogo Atmodarminto juga empat, dan Soerjadi Soedirdja tiga wagub. 

Empat wagub kini tengah menjadi perdebatan di DPRD DKI. Bila usulan disetujui, menurut Ketua DPRD DKI (sementara) Pantas Nainggolan, pemerintah tinggal merevisi Undang-Undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemprov DKI sebagai Ibu Kota Negara. "Kalau disetujui kami akan ajukan ke Kemendagri," sebut Pantas. 

Satu wagub telah membuat Anies pincang. Empat wagub mungkin lebih melaju seperti mobil listrik. Apalagi bila wagubnya para entrepreuneur pemerintahan dengan kreatifitas tinggi, inovatif, serta jago eksekusi, nama mantan Rektor Paramadina ini berpeluang besar melambung. 

Berbeda jika wakilnya seorang politisi yang membawa amanat partai, malah akan menjadi beban sendiri. Mau tidak mau Anies harus berjuang sendiri untuk mendapatkan citra dirinya. 

Sebagai pembayar pajak di DKI Jakarta, warga berharap mendapat banyak selama kepemimpinan Anies. Dapat transportasi publik terpadu yang cepat dan aman serta bersih, dapat ruang terbuka hijau dan taman bermain ramah anak, punya jalur sepeda, trotoar lebar buat jalan kaki dan jogging, ada keran air siap minum setiap radius 200 meter di taman dan trotoar, bebas banjir dan macet, perpustakaan dekat ke permukiman, dapat rumah berderet, apalagi yang hak milik DP Rp0.

Satu hal lagi yang belakangan mulai mengendur, layanan masyarakat tetaplah diutamakan seramah-ramahnya dan secepat-cepatnya. Jika semua hak masyarakat ini diberikan, bolehlah Anies bermimpi setinggi-tingginya karena akan mendapat balasan setimpal dengan amal perbuatannya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More