Sabtu 14 September 2019, 21:50 WIB

Tiga Kloter Jemaah Haji Akhiri Layanan Eyab di Madinah

Sitria Hamid dari Arab Saudi | Haji
Tiga Kloter Jemaah Haji Akhiri Layanan Eyab di Madinah

Ilustrasi/ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Embarkasi Surabaya.

JALUR khusus kepulangan jemaah haji atau Eyab berakhir Sabtu (14/9). Pemerintah Indonesia berharap layanan tersebut bisa diberlakukan kembali pada musim haji 2020.

Jemaah haji Indonesia yang terakhir mendapatkan Eyab, sesuai data Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) adalah embarkasi SUB (Surabaya) 84, SUB 85 serta Jakarta (JKG) 65.

Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara Jeddah-Madinah, Arsyad Hidayat, menyampaikan hal itu, di Madinah, Sabtu (14/9).

"Alhamdulillah lancar ya, Eyab mendapatkan respons, sambutannya begitu bagus dari jemaah haji. Para jemaah bahkan mereka mungkin berharap program model seperti ini bisa berlanjut untuk tahun-tahun berikutnya," kata Arsyad seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia, Sitria Hamid, dari Madinah.

Dia berharap, jumlah jemaah haji yang mendapatkan layanan Eyab bisa bertambah. Pada 2019 ini, sebanyak 28 kloter jemaah haji Indonesia bisa menikmati layanan Eyab di Bandara Prince Mohammed bin Abdulaziz, Madinah.

Sementara di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah yang mendapatkan layanan Eyab sebanyak 16 kloter.

Eyab merupakan salah satu layanan yang diberikan oleh Pemerintah Arab Saudi untuk memberikan kenyamanan lebih bagi jemaah haji. Khusus di Bandara Madinah, hanya jemaah asal Indonesia dan Malaysia yang mendapatkannya.

Sementara di Bandara Jeddah, sebanyak 3 negara telah mendapatkan layanan kepulangan khusus atau Eyab tersebut, yakni Indonesia, Malaysia, dan India.

Jumlah layanan tersebut, lanjut Arsyad, diharapkan dapat diberikan lebih banyak lagi pada 2020.


Baca juga: Pemulangan Jemaah Haji Indonesia 2019 Berakhir Besok


"Jumlahnya pun kami harapkan lebih banyak daripada jumlah yang diberikan pemerintah Arab Saudi pada tahun. Ini artinya ya bisa lebih banyak 2 kali lipat," kata lagi.

Lebih lanjut, Arsyad mengatakan, bahwa penyelenggaraan ibadah haji 2019 dinilai berjalan baik. Meski, ada beberapa catatan dari pemerintah Indonesia, agar bisa ditingkatkan oleh pemerintah Saudi untuk pelayanan haji di 2020. Seperti, layanan cepat kedatangan (fast track). Serta, fasilitas di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzdna).

"Pertama kaitan dengan fast track yang sudah cukup bagus, membantu sekali artinya jemaah pada saat tiba di Tanah Suci tidak lagi berlama-lama melakukan proses migrasi. Harapannya kita bisa ditingkatkan jumlahnya tidak hanya dari JKS (Jakarta Bekasi) dan JKG (Jakarta Pondok Gede) tapi dari embarkasi lainnya," jelasnya.

Selain itu, lanjut Arsyad, juga terkait dengan proses bea dan cukai, untuk pemeriksaan barang jemaah haji. Sebaiknya, kata dia, pemeriksaan barang sudah berlangsung dengan ketat sejak dari Tanah Air. Langkah tersebut diperlukan demi menghindari pemeriksaan jemaah saat tiba di Arab Saudi.

Mengingat, proses pemeriksaan di Arab Saudi kerap memperlambat gerak jemaah haji yang baru tiba.

"Bila ada jemaah yang membawa barang yang dalam tanda kutip tidak boleh dibawa, semenjak dari Tanah Air barang tersebut bisa sudah ditahan. Jadi tidak lagi ketika sampai di Arab Saudi mereka ditahan," tegas Arsyad lagi.

Dia juga menyebutkan, yang perlu mendapatkan peningkatan yakni fasilitas bagi jemaah haji saat jemaah haji berada di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzdna).

Fasilitas di salah satu lokasi utama penyelenggaraan ibadah haji tersebut perlu peningkatan. Hal itu, untuk memberikan kenyamanan jemaah haji, sehingga lebih khusyuk dalam menjalankan ibadahnya. Seperti kemungkinan pembangunan tenda bertingkat di Mina.

"Karena titik krusial pelayanan di masyarakat itu adalah pelayanan di sini, baik infrastruktur ataupun terkait dengan lain-lainnya," jelasnya lagi. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More