Jumat 13 September 2019, 23:30 WIB

Kekeringan Ekstrem Landa Jawa Tengah

Lilik Darmawan | Nusantara
Kekeringan Ekstrem Landa Jawa Tengah

MI/Widjajadi
Warga berada di Waduk Gajah Mungkur yang mengering di Wonogiri, Jawa Tengah.

 

LEBIH dari separuh wilayah, atau sekitar 63% daerah di Jawa Tengah (Jateng) mengalami kekeringan ekstrem. Di wilayah tersebut lebih dari 60 hari tidak ada hujan.

“Di Jateng ada sejumlah wilayah yang sudah lebih dari 130 hari atau 4 bulan lebih tidak mengalami hujan, yakni Cokrotulung, Klaten, selama 138 hari, Pracimantoro, Wonogiri, 135 hari, Baturetno dan Giritontro, Wonogiri, serta Ngrajek, Magelang, tidak ada hujan selama 134 hari,” kata pengamat cuaca Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap Rendi Krisnawan, kemarin.

Dari pantauan yang dilakukan BMKG Semarang di seluruh wilayah Jateng, ujarnya, pada dasarian (10 hari) September hingga awal Oktober, curah hujan di 90% wilayah bahkan masih rendah, yakni di bawah 10 milimeter (mm). Artinya, kemarau masih akan terus terjadi hingga Oktober mendatang.

“Baru pada dasarian kedua Oktober, curah hujan diperkirakan agak naik sedikit, mencapai 0-20 mm,” ujar Rendi. Dengan kondisi tersebut, daerah harus bersiap melakukan antisipasi, salah satunya menghemat air bersih dan melanjutkan distribusi air bersih untuk wilayah yang kekeringan.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas telah menambah alokasi dana melalui APBD Perubahan 2019 untuk pengadaan air bersih. Dengan tambahan alikasi dana, stok air yang semula disediakan 1.000 tangki, kini menjadi 1.500 tangki.

Kepala Pelaksana Hari-an BPBD Banyumas Ariono Poerwanto mengatakan, pe-nambahan­ alokasi air bersih dilakukan karena kemarau tahun ini lebih panjang. “Dari prakiraan BMKG, baru pada pertengahan Oktober menda-tang musim hujan. Oleh karena itu, BPBD menambah alokasi hingga 1.500 tangki air bersih,” katanya.

Dana talangan

Kemarau panjang juga membuat desa yang mengalami krisis air bersih di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bertambah. BPBD setempat terus menyiapkan pasokan air bersih hingga berakhir musim kemarau.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon Eman Sulaeman, mengakui sudah memperoleh informasi dari BMKG tentang mundurnya musim hujan. “Berarti musim kemarau tahun ini akan lebih panjang,” katanya.

Menurutnya, pekan ini desa yang kekeringan bertambah dua sehingga total desa krisis air bersih di kabupaten itu menjadi 19 desa dengan penduduk yang terkena dampak kekeringan sebanyak 15 ribu keluarga. Setiap minggu, setiap desa yang krisis air bersih mendapatkan dua kali pasokan air dengan volume total 9.000 hingga 12 ribu liter.

Pendistribusian air bersih sebanyak itu dilakukan be-kerja­ sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Cirebon dengan menggunakan dana talangan. Selanjutnya, PDAM hanya tinggal mengklaim ke bagian keuangan Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Kesulitan memperoleh air bersih akibat kekeringan juga terjadi di wilayah lainnya, seperti di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Di kepulauan tersebut sebagian sumur warga mengering.

Hal serupa terjadi di Kabu-paten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Demikian halnya di Provinsi Jambi. Bahkan, jajaran Polda Jambi turun tangan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga di beberapa wilayah permukiman di Kabupaten Muaro Jambi.

Di provinsi itu kekeringan juga mengakibatkan lahan tanaman padi yang puso meluas dari semula 100 hektare (ha) menjadi 500 ha. (UL/YH/SL/FB/PT/AT/BB/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More