Jumat 13 September 2019, 20:30 WIB

Butuh Puluhan Tahun Restorasi Jutaan Hektare Lahan Gambut Rusak

Indriyani Astuti | Humaniora
Butuh Puluhan Tahun Restorasi Jutaan Hektare Lahan Gambut Rusak

Antara
Kepulan asap muncul dari lahan yang diduga sengaja dibakar untuk dijadikan lahan perkebunan di Desa Bagan Tanjung, Rokan Hilir, Riau

 

KEPALA Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead menuturkan Indonesia membutuhkan puluhan tahun untuk merestorasi lahan gambut yang rusak. Hal itu ia sampaikan menanggapi target yang harus dikejar BRG untuk memulihkan 2,67 juta hektare lahan gambut yang rusak terbakar pada 2015.

Nazir membandingkan dengan Jepang. Negara itu, kata dia, membutuhkan waktu 10 tahun untuk merestorasi 300 ribu hektare lahan gambut yang rusak. Sementara itu, kerja BRG akan berakhir pada 2020.

" Area yang sudah terbakar butuh waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan," ujarnya, dalam acara temu media terkait kebakaran hutan dan lahan di Jakarta, pada Jumat (13/9).

Dalam merestorasi lahan gambut yang rusak, terang Nazir, idealnya tidak hanya pemulihan tetapi juga menghitung keekonomiannya. Ia menjelaskan pada gambut yang berada di kawasan masyarakat, pemerintah harus memikirkan model bisnis yang cocok.  Salah satunya memilih tanaman yang sesuai dengan ekosistem gambut serta punya nilai ekonomi. Pada lahan gambut yang ada di kawasan konsesi perusahaan, restorasi dilakukan oleh sektor swasta pemegang izin. Sedangkan pada kawasan konservasi, restorasi bisa menggunakan dana pemerintah ataupun hibah.

nazir menuturkan, pihaknya tengah membuat kajian ekonomi mengenai model pengembangan bisnis yang cocok di lahan gambut dan selaras dengan fungsi restorasi. Kawasan gambut di setiap daerah, tutur Nazir, memiliki karakteristik berbeda-beda. Pun kapasitas masyarakat yang berada dalam kawasan ekosistem gambut.

Selama ini, terangnya, banyak yang memanfaatkan lahan gambut untuk perkebunan dengan cara membakar. Metode membakar, kata dia, selama ini dianggap paling murah dan cepat. Tetapi dampak terhadap lingkungan yakni kebakaran di lahan gambut, sangat merugikan masyarakat.

"Abu hasil pembakaran memang bisa menambah PH (derajat keasaman) pada lahan gambut. PH pada lahan gambut 3,5. Untuk bisa ditanami PH-nya harus 5,5. Abu hasil pembakaran bisa menaikan PH sehingga lahan bisa ditanami," terang Nazir.

Namun, Nazir menyebut metode tersebut tidak tepat. Ada metode lain, untuk menaikkan kadar PH pada lahan gambut, yakni menaburkan kapur. Tetapi cara itu juga tidak direkomendasikan karena tidak efisien dari segi biaya dan memberatkan petani. BRG, imbuhnya, kini tengah mengembangkan mikroba bakteri dalam jamur yang bisa menaikkan PH tanah gambut. Namun, pemilihan mikroba harus pas. Metode itu, kata dia, sudah pernah diujicobakan di Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
"Sudah diimplementasikan. Untuk petani tidak mudah mencoba itu," ucapnya. (A-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More