Jumat 13 September 2019, 19:50 WIB

Seluruh Pegiat Pendidikan Diminta Bersiap Hadapi Era Society 5.0

Denny Susanto | Humaniora
Seluruh Pegiat Pendidikan Diminta Bersiap Hadapi Era Society 5.0

Ist
Direktur HAFECS, Zulfikar Alimuddin.

 

SETELAH era revolusi industri 4.0 saat ini, Indonesia akan menghadapi era society 5.0 yang akan lebih membuka kesempatan namun juga menjadi tantangan berat apabila sumber daya manusia Indonesia tidak dipersiapkan dengan matang.

Diselenggarakan di Gedung Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, gelaran Teaching and Learning Festival 2019 merupakan ajang yang sayang untuk dilewatkan oleh para pegiat pendidikan, terutama kepala sekolah, guru, maupun calon guru.

Acara ini merupakan kolaborasi apik dari berbagai institusi dan organisasi pendidikan yang bertujuan untuk mewujudkan transformasi pendidikan nasional melalui peningkatan metode pengajaran dan pembelajaran dalam rangka mempersiapkan siswa menyongsong era society 5.0.

Festival ini disemarakkan oleh para pembicara profesional dan berdedikasi di bidang pendidikan dan telah dihadri lebih dari 450 peserta dari berbagai latar belakang.

Teaching and Learning Festival 2019 ini diadakan atas inisiasi Highly Functioning Education Consulting Services (HAFECS) sebagai bentuk kontribusi nyata memajukan pendidikan Indonesia melalui peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran oleh guru.

Era society 5.0 ini akan menambahkan pekerjaan rumah bagi setiap praktisi pendidikan untuk membekali siswa mereka dengan keterampilan yang tidak hanya meliputi keterampilan bertahan hidup tapi juga keterampilan berpikir kritis, konstruktif, dan inovatif.

"Era society 5.0 menuntut siswa dan masyarakat secara umum untuk mampu berpikir kritis dan konstruktif. Dapat kita lihat secara umum guru-guru kita belum mampu melakukan pengajaran dengan metode tersebut. Ini juga berarti siswanya banyak yang belum memiliki cara berpikir yang kritis dan konstruktif. Indonesia bisa dikatakan belum siap menghadapi era Society 5.0. Tetapi ini bukan hanya soal siap dan tidak siap. Indonesia harus mengambil ancang-ancang untuk lebih siap menghadapi era society 5.0 sebagai tuntutan zaman. Kita harus
lakukan" ujar Zulfikar Alimuddin, Direktur HAFECS saat ditemui di Jakarta, Jumat (13/9).

Gelaran festival ini dikemas ke berbagai sesi menarik yang mencerahkan berupa Seminar Pendidikan Nasional dengan tema 'Sketsa Pendidikan Nasional: Membangun Paradigma Guru Inovatif' yang dihadiri oleh Zulfikar Alimuddin, Direktur HAFECS, Unifah Rosyidi, Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, dan Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia sebagai narasumber.

Para pembicara memaparkan perspektif mereka mengenai penyempurnaan pendidikan. Terkhusus dalam perspektif HAFECS, ada 3 area utama dalam upaya tersebut yakni cara guru mengajar, cara guru belajar, dan cara guru dinilai di mana aspek yang ketiga menggantikan pilar ketiga HAFECS yakni kurikulum inovatif.

Menurut Zulfikar, poin penting dalam hal ini adalah apakah ada perubahan signifikan dalam cara guru mengajar ketika dunia semakin berkembang dan berubah dengan cepat. Ini krusial karena berkaitan dengan pembentukan dasar manusia yang prosesnya terjadi di sekolah.

 

Baca juga: BPPT Diminta Cari Teknologi Cocok Tanam di Lahan Gambut


Proses pembentukan pola pikir siswa sangat bergantung pada pola interaksi yang diciptakan oleh guru di ruang kelas. Inilah yang harus selalu diupayakan dalam tiap kelas di semua sekolah di seluruh Indonesia agar siswa Indonesia menjadi individu yang kritis, inovatif, dan konstruktif.

Kemudian juga terdapat sesi talkshow mengangkat tema 'Educational Transformation on Global Culture' yang dihadiri oleh Jemi Ngadiono, Founder 1000 guru Foundation, Bambang Eko Nugroho (Direktur AKademik Sekolah Insan Cendikia Madani), dan Rizqy Rahmat Hani (Koor
Pengetahuan Kampus Guru CIkal) sebagai pembicara.

Metode-metode yang dikembangkan oleh HAFECS dalam kurun waktu empat tahun terakhir di Global Islamic Boarding School yang telah teakreditasi A ini juga disajikan dalam beberapa buku seperti Cara Mengajar Efektif Menggunakan PCK dan juga Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang semuanya diterbitkan dalam dua spesifikasi yakni untuk Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam serta metode dan contoh yang dikhususkan untuk Ilmu Sosial.

Ini ditujukan agar guru Indonesia yang berhadir di TLF 2019 ataupun tidak tetap mendapatkan tuntunan serta contoh praktis yang bisa mereka terapkan dalam pengajaran. Selain dari buku dan seminar ini, siapa pun yang ingin mengenal dan mempelajari topik-topik pengajaran ini dapat juga mengakses pelatihan daring yang juga disediakan oleh HAFECS.

Teaching and Learning Festival 2019 merupakan satu dari rangkaian acara Teaching and Learning Summit 2019 yang akan diadakan pada 26-27 November 2019 mendatang yang akan menjadi konferensi belajar mengajar pertama dan terbesar di Indonesia di mana TLF serupa akan diadakan di tiga kota lainnya yakni Yogyakarta (5 Oktober 2019), Surabaya (26 Oktober 2019), dan Banjarmasin (15-17 November 2019).

Even besar ini diharapkan dapat mendorong dan menumbuhkembangkan kesadaran dan kepedulian setiap pegiat pendidikan terhadap dunia pendidikan Indonesia. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More