Jumat 13 September 2019, 08:57 WIB

Santri Tahfizh Darul Quran Belajar Jurnalistik

Sumantri | Megapolitan
Santri Tahfizh Darul Quran Belajar Jurnalistik

MI/SUMANTRI
Para santri Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran berfoto bersama dengan para mentor dari Metro TV saat pelatihan jurnalistik

 

PROGRAM Metro TV Berbagi, yang digagas Metro TV dan Media Indonesia, kemarin (Kamis, 12/9/2019), diikuti sedikitnya 70 satri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfizh Darul Quran, di Jalan Ketapang Poncol, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Banten. Para santri antusias mengikuti Pelatihan Jurnalis bertema Teknik produk berita itu.

Menurut  Finance & Technical Support Director Metro TV, Mirdal Akib, pembelajaran dan pelatihan yang berkaitan dengan junalistik wajib diberikan kepada mereka. Tujuannya, kata dia, agar apa yang mereka tulis memenuhi kaidah-kaidah yang sudah ditentukan di dalam ilmu junalistik. Sebab, apa yang mereka tuangkan di dalam berita, harus dipertanggungjawabkan.

“Kami konsen memberikan pelatihan ini, karena belakangan banyak media masa yang menyajikan berita tidak sesuai dengan kaidah junalistik,” kata dia.

Lantaran itu, Akib berharap, para santri tidak melakukan kesalahan yang sama. Sejak dini mereka sudah diberi pelatihan terkait jurnalistik. Termasuk hak dan tanggung jawab yang melekat pada seorag jurnalis.

Salah seorang jurnalis senior Metro TV yang menjadi narasumber di acara itu, Andi Setya Gunawan, mengingatkan bahwa di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini para santri harus waspada atas informasi yang diterima. Sebab semua orang bisa menyebarkan suatu berita. Apakah berita tersebut benar atau tidak (hoaks). Untuk melakukan hal tersebut, santri harus memahami aturan atau kaidah dari jurnalistik.

Baca juga: Ratusan Siswa Sekolah Sukma Bangsa Salat Jenazah untuk BJ Habibie

Jangan sampai, begitu melihat orang kecelakaan yang berdarah-darah direkam atau diberitakan tanpa adanya konfirmasi. Karena bila orang tersebut tidak senang, bisa dilaporkan ke polisi.

“Ingatkah dengan kasus ikan asin? Karena direkam dan tidak dimintai konfirmasi, orang yang menggunggah hasil rekaman itu dilaporkan,” tanya dia yang dijawab lupa sebagian santri.

Beda dengan hasil berita yang memenuhi kaidah jurnalistik. Narasumber tidak bisa lansung melaporkan kepada polisi dan hanya dapat melaporkan ke dewan pers lantaran apa yang sudah diberitakan sudah dikonfirmasi atau diklarifikasi terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

Pembina Ponpes Tahfizh Darul Quran, Syaiful Bachri mengucapkan terima kasihnya atas terselenggaranya pelatihan ini. Kerena dengan pelatihan ini, santri menyadari ada rambu-rambu yang harus dipenuhi.

“Apalagi mayoritas santri yang ikut pelatih-an ini merupakan wartawan majalah internal ponpes,” kata dia. (SM/J-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More