Jumat 13 September 2019, 06:15 WIB

Obsesi yang Terbawa di Keabadian

Jusman Syafii Djamal Menteri Perhubungan Periode 2007-2009 | Opini
Obsesi yang Terbawa di Keabadian

Antara
Mantan Presiden BJ Habibie menunjukkan foto dirinya bersama pesawat hasil karyanya N-250 Gatotkaca

MENGUASAI teknologi itu harus seperti membaca Alquran, dari kanan ke kiri. Bermula dari akhir dan kemudian berakhir pada awal mula (beginning at the end and the end at the beginning.

Itulah kutipan dari Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) yang begitu mengena dalam diri saya. Bahkan, hal yang masih terngiang sampai sekarang terkait dengan teknologi ialah bagaimana kesabaran beliau dalam mentransfer teknologi dan pengetahuannya kepada anak-anak muda. Itu yang saya rasakan saat mengenal beliau pada 1983 ketika pertama sekali lulus ITB.

Kesabaran beliau dalam mentransfer teknologi dan pengetahuannya kepada anak muda ialah sesuatu yang paling berharga. Kebetulan saya punya profesor dari bidang aerodinamika yang merupakan teman sekolah Habibie di Belanda. Pada tahun itu beliau memanggil saya, dan mengatakan akan mendidik menjadi orang yang mumpuni di bidang pesawat terbang. Hanya, saat itu saya diberi dua pilihan, jalan yang mudah atau relatif sukar.

Habibie menegaskan akan mendidik saya menjadi orang yang mumpuni di bidang pesawat terbang. Kalau memilih jalan sukar, saya akan dicemplungkan di pabrik pesawat terbang dan bekerja dari bawah sampai ke atas. Sementara itu, bila memilih jalan mudah, saya harus belajar mengambil S-1 hingga S-3 dan kemudian guru besar. Saya pun mengatakan ingin memilih jalan pragmatis dan sukar.

Beliau pun lalu mengirim saya selama tujuh tahun bekerja di Casa, Spanyol. Pindah ke NLR Belanda, lalu di Hamburg. Semuanya berada di bawah bimbingannya. Pada 1989 merupakan pertemuan kedua saya. Suatu hari ketika saya tengah bekerja di dalam ruangan, ada orang yang menepuk pundak saya. Dialah Pak Habibie dan langsung mengatakan, bahwa ia punya buku, saya diminta untuk pelajari buku itu lalu datang ke beliau, untuk membuktikan apakah saya sudah pintar atau belum.

Dengan menetapkan standar yang tinggi, beliau selalu menyusun program. Setiap orang yang ada di bawah bimbingannya by design di program oleh beliau. Pak Habibie yang menentukan dan tidak akan melepas begitu saja. Membimbing seperti guru besar, hanya ini langsung dalam program nyata, dalam kegiatan-kegiatannya. Akibatnya orang seperti kita selalu tertantang.

Intinya kalau belajar di kolam renang kita juga harus belajar nyemplung di situ. Kalau di samudra ada hiu, ya harus menghadapinya. Kita Harus punya perencanaan dan perspektif tentang masa depan. Beliau selalu membayangkan, andai saja ada 2% dari manusia Indonesia yang terdidik mengeluarkan kepintarannya, kita bisa jadi pusat keunggulan penguasaan teknologi dan sains.

Akan jauh lebih unggul dari bangsa di dunia. Beliau selalu percaya itu. Sebagai generasi yang merasa mendapatkan kesempatan dari generasi sebelumnya, seperti Soekarno, beliau merasa harus mendampingi generasi muda saat ini.

Kenangan IPTN

Ada satu hal yang sempat membuat Habibie galau ialah ketika Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) termasuk yang dibidik Dana Moneter Internasional (IMF) untuk tak diberikan subsidi lagi. Padahal, kalau saja kebutuhan US$100 juta terpenuhi, niscaya IPTN akan berkembang lebih besar.

Habibie mengatakan pada saya bahwa krisis ekonomi di Indonesia bukan karena persoalan ekonomi semata, bahkan terbilang aneh. Masa hanya masalah baht (mata uang Thailand), langsung menerpa Indonesia dengan hebat. Padahal, fundamental ekonomi kita terbilang kuat. Ada negara lain yang tak ingin Indonesia maju dalam industri penerbangan.

Saat diperintahkan memimpin IPTN, salah satu tugas saya adalah merestrukturisasi karyawan dari 16 ribu menjadi 7.000 saja dalam tempo dua tahun. Habibie mengatakan, harmoni itu bisa tercipta kalau kita bisa bekerja secara sempurna.

Habibie adalah tipikal orang yang keras dalam bersikap. Beliau selalu menetapkan standar tinggi hasil dari yang ditugaskan. Bapak tidak ingin orang lain bekerja asal-asalan. Beliau percaya, terutama generasi muda Indonesia jauh lebih pintar dan ingin orang mengeluarkan kepintarannya.

Ketika proyek N-250 dihentikan proyeknya, yang saya amati sedih yang dirasakannya sangat mendalam. Hanya beliau tidak mengeksposenya. Itu karena N-250 dianggap sebagai puncak penguasaan teknologi yang beliau desain dari 1976. Perencaan yang dilakukan berjalan 10 tahun ke depan. Dari 1976 saat itu sampai 1984, saat itu harusnya kita menguasai teknologi dari yang sangat sederhana. Dan ketika proyek IPTN mendapat ganjalan, beliau mengatakan bahwa kita harus bisa membuktikan kemampuan dengan berdikari. Beliau memang selalu bekerja secara kerja tim. Menurutnya, percaya itu bagus but check is more better. Ia tidak pernah andalkan satu orang, pasti selalu punya orang lain dan second opinion.

Sering kali kita bekerja sampai jam 3 pagi. Di tengah-tengah bekerja sayup-sayup terdengar Ibu Ainun membaca Alquran, dan kita terkadang takjim mendengarkan di tengah bekerja. Dalam konteks spiritual ini saya ingat ketika didapuk jadi ketua Masjid Habiburahman. Saya tadinya menolak, tapi beliau bilang, Jusman, kamu ditunjukan jalan menuju surga kok menolak.

Yang mengagumkan, rasanya belum ada orang dunia ketiga yang bisa mendekati teknologi penerbangan di Jerman, kecuali Habibie. Hampir semua guru besar soal penerbangan kenal dan dekat dengan beliau. Satu lagi, ilmu matematika Habibie luar biasa, dan itu ditunjukan dengan hafal semua rumus yang ada di buku matematika.

Kekuatan beliau yang sangat hebat adalah photographic memory (hafal berbagai hal, termasuk ketika bertemu seseorang sampai hafal warna baju, jam pertemuan, dsb). Salah satu yang terbukti bahwa Habibie luar biasa, selain crack theory, adalah teori zig-zag yang terbukti bisa membuat kondisi rupiah secara perlahan mulai menemukan keseimbangannya.

Beliau selalu membuat simulasi terhadap berbagai hal. Tugas kami adalah mengumpulkan berbagai data dari berbagai sumber. Setelah itu beliau membuat berbagai perencanaan, sekaligus berdiskusi sebelum keputusan diambil.

Belahan jiwa

Berpulangnya Ibu Ainun harus diakui memberikan dampak besar buat beliau. Bahkan, dalam berbagai kesempatan kami yang dekat dengan beliau mulai memperhatikan bahwa ada perubahan besar dalam diri Habibie. Saya pernah dipanggil beliau dan kemudian duduk di perpustakaan rumahnya. Kemudian lampu-lampu dimatikan dan beliau mulai bicara soal keabadian dan filsafat. Satu hal yang belum pernah dibicarakan selama ini.

Seperti ada satu penyesalan yang tak sadar diakuinya, karena kecintaan terhadap Ibu Ainun membuat beliau memaksakan operasi berkali-kali untuk menyembuhkan penyakit istrinya. Sampai akhirnya Ibu Ainun mengatakan agar Habibie berhenti berusaha karena dirinya sudah ikhlas. Di situlah Habibie seolah merasakan bahwa kepintarannya seperti tak bisa memenuhi keinginannya untuk menyembuhkan sang istri.

Beliau sudah meninggalkan kita semua dengan segala kebaikan yang dimilikinya. Warisan terbesar bagi bangsa ini menurut saya adalah IPTN dan N-250. Obsesinya untuk menjadikan Indonesia terdepan dunia penerbangan akan terbawa ke alam keabadian seperti yang kerap beliau katakan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More