Kamis 12 September 2019, 20:20 WIB

Helikopter BNPB Mendarat Darurat Saat Padamkan Karhutla di Kalsel

Denny Susanto | Nusantara
Helikopter BNPB Mendarat Darurat Saat Padamkan Karhutla di Kalsel

MI/Denny Susanto
Helikopter water boombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

 

SEBUAH helikopter water boombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendarat darurat setelah bagian bodi pesawat jatuh saat melakukan pengeboman air di kawasan lahan terbakar Gunung Kupang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Kepala BPBD Kalsel, Wahyudin Ujud, Kamis (12/9) petang, mengatakan, peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah kunjungan Wakapolri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto bersama Tim Asistensi Karhutla ke Kalsel.

"Saat melakukan bombing ada bagjan pesawat yang jatuh sehingga pilot memutuskan untuk mendarat dan mengambilnya," tuturnya.

Pilot helikopter memutuskan untuk memarkir helikopter water boombing di lokasi pendaratan darurat karena untuk memasang kembali bagian bodi helikopter perlu waktu dan hari sudah petang.

Ditambahkan Wahyuddin, pihak BNPB dan pilot pesawat akan memberikan penjelasan terkait hal ini.


Baca juga: Tolak Pembangunan Wisata Awololong, Massa Demo DPRD Lembata


"Nanti akan ada penjelasan resmi. Tetapi bukan kru atau ban pesawat yang jatuh," ucap Wahyudin.

Saat ini, ada lima helikopter water boombing dan dua helikopter patroli yang dikerahkan BNPB untuk mengatasi karhutla di wilayah Kalsel. Diakui Wahyudin, operasi pemadaman karhutla ini mulai menemui kendala akibat kondisi kemarau yang menyebabkan sumber air semakin sulit diperoleh serta lokasi titik api sulit dijangkau.

"Hari ini saja ada 22 titik api yang terpantau, satgas darurat dan kemampuan helikopter terbatas ini menjadi kendala," ujarnya.

Pantauan Media Indonesia, sejumlah organisasi ramai membagikan masker kepada masyarakat pengguna jalan menyusul kondisi kabut asap yang semakin parah. BPBD dan Dinas Kesehatan Kalsel sejauh ini telah membagikan sedikitnya 10 ribu masker kepada masyarakat.

Kabut asap juga menyebabkan terganggunya jadwal penerbangan di Bandara Syamsudin Noor akibat jarak pandang pagi hari hanya 100 meter sementara jarak pandang minimal untuk penerbangan di atas 800 meter. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More