Kamis 12 September 2019, 19:30 WIB

Ngebet Gabung Jakarta, Bekasi Bentuk Tim Khusus

Gana Buana | Megapolitan
Ngebet Gabung Jakarta, Bekasi Bentuk Tim Khusus

MI/Gana Buana
Wali kota bekasi Rahmat Effendi

 

WALI Kota Bekasi Rahmat Effendi mengaku telah menyiapkan tim khusus penggabungan wilayah Kota Bekasi dan DKI Jakarta. Saat ini, pihaknya sedang mengkaji regulasi yang ada.

“Rencana pembentukan tim khusus sudah ada, timnya sudah saya siapkan, tapi masih dalam kajian, sekaligus mengkaji regulasi yang ada," kata Rahmat, Kamis (12/9).

Rahmat mengatakan soal raferendum seperti yang didorong DPRD Kota Bekasi beberapa lalu, tidak lah diperlukan. Sebab, hal tersebut harus mengubah Undang-Undang Jawa Barat, Undang-Undang DKI dan Undang-Undang Nomor 9 tentang berdirinya Pemerintah Kota Bekasi 1996.

“Kan kita bukan mau bikin negara sendiri. Panjang ceritanya, tapi keinginannya kuat (gabungkan Kota Bekasi dengan DKI Jakarta),” imbuhnya.

Rahmat menjelaskan, dalam pembentukan tim khusus, nantinya akan ada beberapa wacana regulasi yang digulirkan. Contohnya, dengan tetap mengadakan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

“Jangan takut DPRD-nya hilang, ya nanti dibicarakan kalau bisa Pileg, sekarang pun dengan Jawa Barat kan bisa Pileg. Wali kotanya? kalau bisa pilkada nanti ketika masuk DKI,” ungkapnya sesumbar.

Baca juga: Pemkot Serahkan Pengelolaan TransBekasi ke BUMD

Rahmat juga meminta kepada para sejarawan agar tidak takut dengan kehilangan nama Bekasi. Sebab, ada beberapa opsi yang akan diajukan nanti jika bergabung dengan DKI Jakarta.

“Kan masih ada Kabupaten Bekasi. Ya, namanya kan tidak harus DKI Jakarta Tenggara, bisa jadi DKI Bekasi, DKI Kota Bekasi kan, lah semuanya kan disusun regulasinya,” ucapnya.

Rahmat pun meminta masyarakat tidak khawatir soal gabungnya Kota Bekasi ke Jakarta dengan pemindahan wilayah ibu kota Indonesia dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur. Sebab ada beberapa alasan Kota Bekasi masuk dalam wilayah pusat ekonomi di Indonesia itu. Salah satunya adalah pemasukan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Kota Bekasi ke Provinsi Jawa Barat, dana yang masuk kembali ke Kota Bekasi hanya 30%.

“Sekarang gini kalau kita berharap ekspektasinya dengan Jawa Barat kita sudah ngelewatin Jawa Barat, lewatin Bandung juga, kita lebih tinggi, inflasi kita lebih rendah, APBD-nya juga besar (di samping) kebutuhannya (Kota Bekasi) besar,” jelas dia.

Dengan demikian, dari segi ekonomi Kota Bekasi bisa masuk dalam pusat perekonomian di Indonesia. Selain sejalan dengan perekonomian, Kota Bekasi dan Jakarta juga mempunyai kesamaan dari segi kultur budaya, kuliner sampai sejarah dan dalam persepktif tata ruang.

Alasan ini yang membuat Rahmat memilih bergabung dengan DKI Jakarta kembali ketimbang gabung dari gagasan Wali Kota Bogor Bima Arya dan Bupati Bogor Ade Yasin yang ingin membentuk Provinsi Bogor Raya.

Rahmat menganggap, gagasan Bima Arya dan Ade Yasin hanya untuk melakukan pemekaran wilayah yang dimulai dari Kabupaten Bogor. Sebab saat ini, wilayah bogor yang kecil dan tak sebanding dengan ekspektasi kebutuhan masyarakatnya yang besar.

Sementara Kota Bekasi menolak bergabung lantaran mempunyai historis dengan DKI Jakarta. Sebelum menjadi Bekasi, kota tersebut merupakan bagian dari Jakarta, Karasidenan Jatinegara.

“Intinya secara sejarah kita dekat dengan Jakarta,” tandas dia.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More