Kamis 12 September 2019, 17:15 WIB

Lelaki Suku Lamahewe Peragakan Ketangkasan Memanah Tradisional

Alexander P Taum | Nusantara
Lelaki Suku Lamahewe Peragakan Ketangkasan Memanah Tradisional

MI/Alexander P Taum
Atraksi tradisi Masyarakat Lamatou, Desa Painapang yakni Leo Tanada

 

HARI kedua Festival Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, NTT, menghadirkan atraksi memanah dalam tradisi Masyarakat Lamatou, Desa Painapang, Kecamatan Lewolema. Dalam terminologi Lamaholot, memanah disebut Leo Tenada. Leo berarti memanah, Tenada berarti padu atau objek yang menjadi sasaran.

Dalam komunitas adat Lewolema, Leo Tenada menjadi ritual wajib yang dilaksanakan usai membangun rumah adat. Leo Tenada sebagai ungkapan rasa syukur akan proses pembangunan Koko Padak Bale atau rumah adat. Atraksi ini juga sebagai ajang menguji ketangkasan bagi anak suku terutama laki-laki dalam menghadapi perang.

Disaksikan Media Indonesia, Kamis (12/9), puluhan lelaki dalam komunitas Lewolema mengenakan pakaian adat, bersarung, lengkap dengan penutup kepala tradisional. Di tangan mereka terdapat busur dan anak panah. Sekitar 5 meter di bagian depan kumpulan para lelaki itu, berdiri tegak sebuah padu atau tenada berupa sebuah kayu yang berdiri tegak.

Konon, kayu atau padu yang dipasang bukan lah kayu yang asal pilih tetapi sudah ditentukan oleh leluhur melalui permenungan mendalam. Selain menjadi media uji ketangkasan memanah, Padu atau Tenada juga menjadi harga diri seorang anak suku yang memasang padu atau objek. Semakin sering terkena panah, semakin jatuh pula harga diri sang pemasang.

Satu per satu peserta atraksi mulai memanah (Leo). Ada yang tepat mengenai sasaran (Tenada), ada pula yang meleset. Namun suasana yang tercipta riang gembira.

Baca juga: Seratusan Hektare Sawah Kekeringan di Flotim

Atraksi Leo Tenada atau memanah dalam tradisi masyarakat Lamatou Desa Painapang, Kecamatan Lewolema, memakau. Sejumlah atraksi dan tarian seni budaya dari komunitas-komunitas seni yang ada di masyarakat Lewolema ikut memeriahkan Festival Lamaholot, Kabupaten Flores Timur, di Desa Bantala Kecamatan Lewolema, Kamis (12/9).

“Sebelum proses Leo Tenada terjadi terlebih dahulu dilakukan tarian gedung oleh peserta yang diiringi bunyi gong dan gendang, pesertanya dari suku Lamahewe sebagai Jutera, yang dinobatkan untuk memanah terlebih dahulu diikuti anak-anak suku lain yang terlibat dalam proses Leo Tenada,” ujar Yosep Tana Ruron.

Ia juga menjelaskan sebelum Leo Tenada dijalankan, orangtua Lewotanah dalam kesepakatan bersama menentukan salah satu anak suku, untuk memasang Padu atau objek yang menjadi sasaran untuk memanah.

“Padu diibaratkan seorang musuh yang dimanifestasikan dalam sebuah kayu. Kayu atau padu yang dipasang bukan lah kayu yang asal dipilih namun melalui perenungan mendalam, juga merupakan harga diri seorang anak suku yang memasang padu atau objek, dilihat dari cepat atau lambatnya anak panah dari peserta yang sudah mengenai, baik bagian atas, tengah atau bawah padu. Prosesnya berakhir dengan kata lain musuh sudah dilumpuhkan," ungkapnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More