Kamis 12 September 2019, 06:00 WIB

Surut, Waduk Gajah Mungkur Perlihatkan Jejak Masa Lalu

(WJ/N-1) | Humaniora
 Surut, Waduk Gajah Mungkur Perlihatkan Jejak Masa Lalu

MI/widjajadi
Banyak Peninggalan Lama Bermunculan Kembali Tatkala Waduk GajahMungkur Mengering

 

PUNCAK kemarau panjang di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, selalu memunculkan pemandangan unik pada Waduk Gajah Mungkur, waduk raksasa yang dibangun dengan menenggelamkan ratusan desa di tujuh kecamatan itu. Sejak awal September, kala air surut, sisa-sisa bangunan di bekas ratusan desa itu pun bermunculan.

Sisa-sisa permukiman, sumur, permakaman dengan puluhan batu nisan, jalan, hingga beton bekas penopang rel kereta api yang pernah ada di lokasi terlihat jelas. Membawa kenangan pada pemandangan ketika desa-desa belum ditenggelamkan sebelum tahun 1982.

Berdasarkan pandangan mata, saat air waduk seluas 88 ribu hektare tinggal sedikit, kemarin, puluhan batu nisan antara lain terlihat di eks Desa Keteng, Kecamatan Wuryantoro. Selain itu, juga tampak jalan membentang di pinggir waduk. Padahal, saat volume air waduk maksimal, jalan itu tenggelam.

Munculnya kembali bekas perdesaan lengkap dengan infrastrukturnya dimanfaatkan oleh para pengendara sepeda motor dan mobil untuk melintas. Sebagian dasar waduk lainnya yang masih basah dimanfaatkan oleh warga untuk menanam padi sehingga di sepanjang bibir waduk terlihat hamparan tanaman padi menghijau.

Data yang diperoleh dari Kantor Perum Jasa Tirta I menyebutkan, meski air waduk surut, kondisinya masih aman untuk mengairi pertanian di wilayah hilir Bengawan Solo, khususnya petani yang memanfaatkan Dam Colo dengan air bersumber dari Gajah Mungkur.

"Kondisinya (volume air) masih cukup aman dan jauh dari ambang batas bawah. Waduk gajah mungkur masih berfungsi untuk irigasi, air baku, dan juga menghidupkan turbin PLTA," kata salah satu pejabat Perum Jasa Tirta I, yang mengelola waduk tersebut. (WJ/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More