Rabu 11 September 2019, 23:20 WIB

Prediksi Resesi Terlalu Jauh

MI | Ekonomi
Prediksi Resesi Terlalu Jauh

twitter
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus

 

PENELITI Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus meyakini gejolak dan ketidakpastian ekonomi di tingkat global tidak akan membawa Indonesia ke jurang resesi.

Dalam penilaiannya, Indonesia akan mampu bertahan karena separuh lebih pertumbuhan ekonomi di Tanah Air ditopang faktor domestik, yakni konsumsi rumah tangga. Adapun andil faktor eksternal seperti ekspor, impor, dan investasi berada di peringkat dua dan tiga.

"Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta berbagai gangguan dari luar lainnya, tidak akan terlalu memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional ecara signifikan. Indonesia negara terbuka, tetapi tidak terlalu bergantung pada asing," ujar Heri, kemarin.

Hal itu disampaikannya menanggapi laporan Global Economic Risks and Implications for Indonesia yang dirilis Bank Dunia, awal September 2019. Dalam laporan itu Bank Dunia memprediksi Indonesia akan masuk ke jurang resesi pada 2020 lantaran pertumbuhan ekonomi di bawah 5% akibat pengaruh situasi ekonomi global.

Namun, menurut Heri, kondisi Indonesia berbeda dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia. Kedua negara itu begitu bergantung pada keterbukaan perdagangan. "Jadi, begitu perdagangan luar negeri terganggu, mereka akan sangat kesulitan," tuturnya.

Ia mengungkapkan, dengan pertumbuhan di atas 5% pada periode ini, Indonesia masih dapat dibilang aman. Pertumbuhan ekonomi memang melambat, tetapi tidak sampai mengalami resesi.

Ia mencontohkan resesi ekonomi dunia pada 2008. Di tengah anjloknya perekonomian dunia kala itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level 4,63% karena faktor domestik.

Senada dengannya, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir menyatakan kemungkinan Indonesia mengalami resesi sangat kecil karena aliran modal keluar (capital outflow) yang sangat kecil pula.

"Itu kajian World Bank kan memaparkan down side risk atau prediksi paling jelek. Indonesia bahkan pernah di triwulan II 2014, current account deficit (CAD)-nya sebesar -4,26%, tapi kita aman-aman saja," kata Iskandar. (Pra/Mir/E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More