Rabu 11 September 2019, 23:00 WIB

Resesi Mulai Hantam Toko Daring

M Ilham RA | Ekonomi
Resesi Mulai Hantam Toko Daring

Ilustrasi
Toko Daring

 

PENELITI Center of Innovation and Digital Economy dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut pemangkasan jumlah pegawai yang dilakukan toko daring Bukalapak mematahkan teori pergeseran (shifting) cara konsumen berbelanja, dari konvensional ke dalam jejaring (daring).

Faktanya, sambung dia, toko konvensional dan toko daring saat ini sama-sama tengah mengalami tekanan berat akibat lesunya perekonomian.

"Faktanya kondisi ekonomi saat ini sama-sama berat, baik bagi pemain konvensional maupun online, termasuk startup marketplace," tutur Bhima, kemarin.

Hal itu, kata Bhima, disebabkan rendahnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang hanya bisa di kisaran 5%. Kelas menengah dan atas yang sejatinya diharapkan jadi andalan untuk mendorong konsumsi pun justru menahan konsumsi belanja mereka.

"Konsumen sedang khawatir akan isu resesi ekonomi global, perang dagang, dan rendahnya harga komoditas," ujarnya.

Alhasil, menurut Bhima, perluas-an bisnis digital pun tidak akan berjalan mulus. Pihak luar yang selama ini ikut menyutikkan modal ventura juga tidak bisa terus-menerus memberi dana segar kepada perusahaan e-commerce tersebut.

Dalam pandangannya, hal itu yang selama ini diabaikan pelaku usaha daring. Sisi valuasi selalu dijadikan fokus utama, sementara profit yang didapat belum tentu besar.

"Kalau tidak hati-hati, kan bisa bikin bubble (gelembung). Kita belajar dari dotcom crisis tahun 2000 di AS. Saat itu suntikan besar-besaran ke startup tidak semua berakhir bahagia," jelas Bhima.

Persaingan antarperusahaan e-commerce saat ini juga dinilainya tidak sehat. Pemberian promo dan potongan harga yang gila-gilaan bertujuan saling mematikan.

"Di persaingan transportasi daring, misalnya, kini tinggal menyisakan dua pemain saja," ucapnya.

 

Penataan internal

Sebelumnya, Head of Corporate Communication Bukalapak Intan Wibisono mengatakan pemangkasan karyawan yang jumlahnya mencapai ratusan terpaksa dilakukan perusahaannya guna menjaga sustainable e-commerce (perusahaan dagang daring yang menghasilkan).

"Kami melakukan berbagai penataan internal, mulai dari sisi struktur organisasi. Dari sistem, kami upgrade juga. Ada beberapa yang kami upgrade supaya lebih aman dan cepat. Ada banyak SOP dan kebijakan yang kami terapkan juga. Jadi, sebenarnya banyak sekali yang kami lakukan," jelas Intan.

Ia menambahkan, jumlah pegawai yang dipangkas tersebut tidak akan memengaruhi pelayanan Bukalapak kepada penggunanya sebab jumlah pegawai yang diberhentikan tidak banyak.

"Total jumlah karyawan kita itu kan ada di 2.500-an. Itu memang kita masih ada di angka segitu. Jadi, sebenarnya tidak signifikan sama sekali dan tidak ada impak sama sekali," tuturnya.

Penataan internal tersebut juga dilakukan untuk menyelaraskan strategi jangka panjang Bukalapak. (E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More