Rabu 11 September 2019, 20:31 WIB

Habibie: Jangan Bedakan Suku, Agama, dan Ras dalam Pendidikan

adiyanto | Humaniora
Habibie: Jangan Bedakan Suku, Agama, dan Ras dalam Pendidikan

MI/MOHAMAD IRFAN
Presiden RI ke-3 B.J. Habibie didampingi keluarga merayakan ulang tahun seusai Orasi Ilmiah di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Juni 2019.

 

MANTAN Menteri Riset dan Teknologi di era Orde Baru dan Presiden Republik Indonesia ke-3, Baharuddin Jusuf Habibie, Rabu (11/9) sekira pukul 18.00 WIB, tutup usia. Beliau wafat setelah menjalani perawatan di Rumas Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto.

Semasa hidupnya, Habibie selaku teknokrat dan pemimpin amat menaruh perhatian besar terhadap pendidikan. Menurut dia, Pemerintah harus memberi kebebasan bagi anak bangsa dalam berkiprah baik di Tanah Air maupun manca negara.

"Beri kesempatan beasiswa bagi semua yang berbakat, tanpa pandang bulu, tanpa memandang suku, agama maupun ras," ujarnya saat diwawancarai Deutsche Welle (DW), di sela acara Global Media Forum yang mengambil tajuk Budaya, Pendidikan dan Media di Bonn, Juni 2012.

Deutsche Welle (DW) adalah layanan stasiun televisi dan radio untuk warga Jerman maupun luar Jerman. DW juga menyediakan berita di internet. Rabu (11/9), DW kembali menurunkan laporan wawancara tersebut di situs mereka untuk mengenang Habibie yang memang pernah lama bermukim dan menempuh pendidikan di Jerman.

Dalam wawancara itu, Habibie antara lain ditanya soal bantuan Jerman di bidang pendidikan di Indonesia. Menurut Habibie, pembangunan yang akan mengandalkan sumber daya manusia tak boleh dibatasi hanya untuk pegawai negeri. Semua rakyat Indonesia, kata Habibie, berhak merasakan jatah itu. "Jadi kendala yang mengharuskan syarat kandidatnya sebagai pegawai negeri, harus dihilangkan. Yang penting mengutamakan, siapa yang berbakat. Kita tidak boleh membedakan suku, agama, dan ras. Kalau berbakat, ya memang orang itu berbakat. Itu pertama hal yang harus diamankan dahulu. Dalam proses seleksi, maupun segalanya."

Menurut Habibie dia pun tidak pernah membedakan-bedakan ketika memberi beasiswa untuk industri strategis. "Saya tidak pandang bulu, Anda dari mana, agamanya apa. Masa bodoh. Hanya satu..Anda kalau sudah tamat, tak boleh kerja dimana-mana kecuali di Tanah Air. Dan kalau sudah bekerja di tempat saya, ternyata bagus, dan mendapat tawaran dari tempat lain, baik dia yang saya beri beasiswa hingga S2, S3 atau tidak ber-S (sarjana), pokoknya yang penting terampil dan mendapat tawaran kerja di tempat lain, silahkan saja.

Menurut Habibie siapa saja yang pintar dan memenuhi syarat serta mampu menciptakan lapangan kerja di Indonesia, silakan beri kesempatan (diberi beasiswa). Selain itu, kata habibie, jangan tagih dari orang itu karena itu adalah investasi ke depan. Pemerintah, kata Habibie,  harus kasih insentif kepada perusahaan-perusahaan.

"Harus begitu. Jangan seperti yang saya alami. Kita kirim orang-orang ke luar negeri, ketika mempersiapkan pesawat terbang 1995, tiba-tiba tahun 1998 ditutup semuanya, tidak dilanjutkan, tak diberikan dana lagi, untuk mengembangkan N250, sedangkan itu dibutuhkan untuk masuk ke pasar tahun 2000." (A-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More