Rabu 11 September 2019, 19:15 WIB

Genius Pembuat Pesawat Terbang itu Berpulang

Antara | Humaniora
Genius Pembuat Pesawat Terbang itu Berpulang

MI/ROMMY PUJIANTO
Presiden ketiga BJ Habibie

 

PRESIDEN ketiga Republik Indonesia BJ Habibie mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (11/9) pukul 18.05 WIB setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta sejak Minggu 1 September 2019.

Sebelumnya, putra kedua Habibie, Thareq Kemal Habibie pada Selasa (10/9) mengatakan kondisi Habibie mulai stabil. Ia dirawat karena mengalami kelelahan disebabkan aktivitasnya yang padat.

Seperti diberitakan pada awal Maret 2018 lalu Habibie juga sempat menjalani perawatan di Muenchen Jerman karena mengalami kebocoran katup jantung.   

BJ Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Pemilik nama lengkap Baharuddin Jusuf Habibie itu merupakan anak ke empat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan Tuti Marini Puspowadjojo.  

Habibie berasal dari keluarga dengan latar belakang agama yang kuat karena kakeknya merupakan seorang pemuka agama. Habibie pernah bersekolah di SMA Kristen Dago di Bandung, Jawa Barat. Lalu ia melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada 1954.    

Kemudian pada 1955 hingga 1965, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang di RWTH
Aachen, Jerman Barat. Ia berhasil mendapatkan gelar diploma ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cumlaude.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Habibie menetap di Hamburg dan bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Boumllkow-Blohm.    
Meski berada di luar negeri dan mendapat hak istimewa sebagai warga kehormatan Jerman atas hasil karyanya di dunia penerbangan, kecintaannya terhadap Indonesia tidak pernah pudar.   

Suami dari almarhumah Hasri Ainun Besari itu akhirnya pulang ke Tanah Air atas permintaan Presiden Soeharto pada 1973.
Kariernya dimulai di perusahaan minyak negara Pertamina, lalu pada 1976, Habibie menjadi pimpinan pertama dari PT Dirgantara Indonesia.


Baca juga: BJ Habibie Wafat


Pada 1978, Habibie ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jabatan tersebut secara berturut-turut ia pegang hingga 1997.   
Selama menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, Habibie menginisiasi pembuatan pesawat perintis yang diberi nama CN 25 Gatot Kaca. Pesawat nasional tersebut dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia, menjadi kebanggaan yang menunjukkan bahwa Indonesia mampu melompat dari negara agraris menjadi negara industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.  

Kariernya terus melesat mulai dari menjabat Wakil Presiden ke-7 RI, lalu menjadi Presiden RI menggantikan Suharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998.  

Jabatan yang diembannya sebagai Presiden RI cukup singkat yaitu hanya selama satu tahun lima bulan, karena kondisi bangsa yang diterpa krisis saat itu. Namun di masa kepemimpinannya, Habibie menghasilkan berbagai kebijakan yang populer seperti diresmikannya UU
Otonomi Daerah. Pada masa pemerintahannya pula, lahir banyak partai politik karena Habibie memberikan kemerdekaan berpendapat bagi rakyat.    

Salah satu yang paling dikenang adalah kisah cintanya dengan Hasri Ainun Besari yang diabadikan di buku dan layar kaca dengan judul Habibie dan Ainun. Meski tidak lagi menjabat di pemerintahan, pemikiran Habibie masih terus dibutuhkan bagi bangsa dan negara terutama untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selamat berpulang, genius pembuat pesawat terbang. Habibie kembali bersatu dengan sang kekasih hati, Ainun. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More