Rabu 11 September 2019, 16:46 WIB

Water Bombing Terus Dilakukan di Wilayah Titik Panas

Sri Utami | Humaniora
Water Bombing Terus Dilakukan di Wilayah Titik Panas

ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid
Helikopter Super Puma AS332L1 milik Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas Forestry bersiap melakukan pengeboman air (water bombing)

 

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis jumlah titik panas terbanyak berada di Kalimantan Tengah yakni 1.220 dan Kalimantan Barat berjumlah 923 titik panas serta Jambi 636 titik panas.

Plt Kapusdatinmas BNPB Agus Wibowo menerangkan jumlah tersebut terpantau pada Rabu (11/9) di daerah yang memiliki titik panas terbanyak. Kondisi tersebut mengakibatkan buruknya kualitas udara sehingga tim terus melakukan upaya pemadaman dengan melakukan water bombing. 

"Water bombing terus dilakukan. Di masing-masing daerah ini helikopter siap, ada yang berjumlah 2-7 unit termasuk untuk patroli," kata Agus Wibowo, Rabu (11/9).

Baca juga:  TNI Instruksikan Water Bombing untuk Atasi Karhutla Riau

Dia merinci di Kalimantan Tengah lebih dari 26 juta liter air digunakan untuk memadamkan titik panas. Sedangkan di Kalimantan Barat lebih dari 48 juta liter air telah ditumpahkan di titik panas. 

"Personel tetap bersiaga, patroli terus dilakukan," imbuhnya. 

Bencana Kekeringan

Di sisi lain, pulau Jawa menjadi daerah yang hampir seluruhnya mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperlihatkan 11 provinsi, 109 kabupaten/kota, 844 kecamatan dan 2945 desa terdampak kekeringan. Empat kabupaten berstatus tanggap darurat dan 31 kabupaten/kota siaga darurat.

"Iya kekeringan paling banyak terjadi di pulau Jawa dan jumlahnya semakin meluas," ungkapnya. 

Perekayasa Ahli Utama di BPPT F Heru Widodo menuturkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan sangat efektif dalam menghilangkan asap sedangkan water bombing hanya berfungsi memadamkan titik panas.

"Kalau keberadaan awan ada, maka TMC sangat efektif karena asap hanya akan hilang karena ada hujan dan air hujan yang jatuh sangat besar. Kalau keberadaan awan kosong maka water bombing dilakukan untuk mematikan hotspot saja," tutur Heru.

Dalam melakukan hujan buatan dibutuhkan awan yang sudah siap. Proses tersebut berdampak pada hilangnya asap dalam waktu cukup lama serta dengan biaya yang lebih kecil dibandingkan water bombing. 

"Selama ini biaya untuk TMC sangat kecil dibandingkan biaya water bombing," tukasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More