Rabu 11 September 2019, 06:20 WIB

Maut di Balik Asap Vape

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Maut di Balik Asap Vape

Grafis Seno
Dampak Rokok Elektrik

 

LAGI, lima warga di Amerika Serikat dilaporkan tewas karena penyakit paru-paru akibat mengisap rokok elektrik atau vape. Kematian mereka menambah daftar panjang jatuhnya korban rokok elektrik di 'Negeri Paman Sam' itu.

Hingga awal September 2019, The Center for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat ada 450 kasus penyakit paru-paru yang terkait erat dengan pemakaian rokok elektrik di AS yang saat ini masih dalam penyelidikan.

Pejabat kesehatan Oregon Ann Thomas menyatakan, masih belum diketahui secara pasti senyawa atau bahan kimia penyebab timbulnya penyakit pada korban yang kemudian berujung pada kematian itu.

Thomas menyebutkan, salah satu korban yang meninggal pada Juli lalu, sebelumnya dilarikan ke rumah sakit dan harus menggunakan ventilator atau alat bantu pernapasan.

"Awalnya, mereka baik-baik saja, tapi dalam waktu yang singkat menjadi sakit parah," katanya, seperti yang dilansir dari BBC News, kemarin.

Dikutip dari New York Post, ahli paru NYU Winthrop Hospital dr Melodi Pirzada mengaku telah mendapati beberapa kasus serupa dalam delapan minggu terakhir. "Kami menyebutnya chemical pneumonitis, yakni peradangan paru karena inhalasi racun kimia. Cedera paru yang terkait dengan vaping. Ini merupakan kasus yang sangat baru," cetus Melodi Pirzada.

Dengan banyaknya korban yang tumbang, salah satu negara bagian di AS, Michigan, telah melarang penjualan vape beraroma. Pemerintah setempat beralasan, keamanan konsumsi vape masih sangat dipertanyakan karena proses vape memanaskan cairan hingga menjadi uap. Proses itu membuat zat kimia di dalamnya berubah dan bisa saja berbahaya.

Chemical pneumonitis

Apa sebenarnya chemical pneumonitis itu? Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dr Agus Dwi Susanto SpP(K) menjelaskan, istilah pneumonitis berasal dari kata pneumo yang berarti paru-paru dan itis atau peradangan. Sementara itu, chemical berarti bahan kimia.

Pada prinsipnya, jelas dr Agus, kelainan itu terjadi pada parenkim paru yang menyebabkan terjadinya peradangan yang luas di kedua parunya. "Salah satunya adalah pneumonitis karena bahan kimia yang terinhalasi atau terhirup," urai dr Agus kepada Media Indonesia, kemarin.

Menurutnya, kasus chemical pneumonitis paling sering terjadi di daerah industri yang menggunakan bahan kimia bersifat iritatif sehingga saat terhirup ke saluran napas sampai ke paru-paru dapat menyebabkan terjadinya peradangan yang luas.

Pneumonitis pada paru bersifat akut, dapat terjadi hanya dalam hitungan jam jika bahan kimia yang terhirup bersifat sangat merusak.

"Dalam beberapa kasus kalau bahan kimianya sangat bersifat merusak terhadap jaringan dan terhirup dalam dosis yang cukup besar, itu (pneumonitis) dapat terjadi secara cepat," terang dr Agus lagi.

Paru berfungsi sebagai alat pernapasan, yaitu melakukan pertukaran udara (ventilasi). Udara dari atmosfer akan dihirup masuk ke paru-paru (inspirasi) dan keluar dari alveolar ke luar tubuh (ekspirasi).

Untuk melakukan tugas pertukaran udara, organ pernapasan disusun beberapa komponen penting, antara lain parenkim paru yang terdiri atas saluran napas, alveoli, dan pembuluh darah. Parenkim paru-paru ialah bagian dari paru-paru yang terlibat dalam hematosis atau transfer gas.

Pada umumnya, seseorang yang terserang pneumonitis dapat mengalami gejala, seperti batuk, nyeri dada, sesak napas ringan hingga berat. Bahkan, apabila sesak napas yang dialami terlalu berat, penderita dapat terserang acute respiratory distress syndrome atau sindrom gagal pernapasan sehingga perlu dibantu dengan alat bantu napas atau ventilator. "CDC Amerika, Organisasi Dokter Ahli Paru dan Torak di Amerika membuat pernyataan bahwa vaping ini berbahaya dan harus menjadi perhatian," sebut Agus.

Meski sampai saat ini di Indonesia belum ada laporan resmi terkait dengan kasus peradangan paru-paru akibat mengisap vape, tidak menutup kemungkinan kejadian serupa dapat terjadi di Tanah Air. "Kalau CDC menyatakan sebagai epidemik baru yang kemungkinan bisa saja terjadi di negara lain," tuturnya.

Sayangnya, menurut Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Rita Endang, saat ini kewenangan Badan POM tidak mengatur peredaran rokok elektrik. "Hanya rokok biasa. Meskipun belum ada kewenangan, Badan POM sudah mengambil sampel rokok elektronik untuk diteliti," katanya.

Namun, dengan banyaknya korban yang berjatuhan, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Padjadjaran dr Ardini Raksanagara menyatakan, perlu segera dibuat regulasi rokok elektrik. "Kita dengan mudah melihat sejumlah remaja dengan mudahnya mendapatkan rokok elektrik," kata Ardini. (Ant/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More