Selasa 10 September 2019, 22:47 WIB

Menteri LHK Siti Nurbaya : Malaysia Harus Objektif Melihat Kabut

mediaindonesia.com | Humaniora
Menteri LHK  Siti Nurbaya : Malaysia Harus Objektif Melihat Kabut

Istimewa/Kementerian LHK
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya.

 

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar meminta pihak Malaysia lebih objektif dalam melihat soal kabut asap kebakaran hutan dan lahan dan pemerintah 'negeri jiran' diminta jangan asal protes serta menutupi informasi.

Terkait sikap Malaysia tersebut, Menteri Siti Nurbaya akan mengirimkan nota protes kepada pemerintah Malaysia dan menyampaikan protesnya kepada Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta terkait kabut asap yang terjadi di Serawak, Malaysia, yang dituduh asap berasal dari kebakaran hutan di Kalimantan.

Padahal, Menteri LHK Indonesia menegaskan bahwa tidak semua kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan berasal dari wilayah Indonesia.

"Saya akan menulis surat kepada Duta Besar Malaysia di Jakarta  untuk diteruskan kepada menterinya. Jadi, saya kira supaya yang betul datanya. Karena apa? karena pemerintah Indonesia betul-betul secara sistematis mencoba menyelesaikan ini dengan sebaik-baiknya," jelas Siti Nurbaya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/9).

Menteri LHK meminta pemerintah Malaysia membuka informasi yang sebenar-benarnya terkait kabut asap ini.

"Ada informasi yang dia tidak buka. Karena sebetulnya asap yang masuk ke Malaysia, ke Kuala Lumpur, itu dari Serawak kemudian dari Semenanjung Malaya, dan juga mungkin sebagian dari Kalimantan Barat. Oleh karena itu seharusnya obyektif menjelaskannya," tutur Siti. 

Terkait asap ini, Siti juga menyayangkan sikap Singapura bahwa ada asap dari Riau menuju Singapura. Padahal, jumlah titik api atau hotspots di wilayah Riau sudah berkurang.

"Engga benar, ada asap dari Riau menyeberang ke Singapura. Itu ngga benar. Kenapa? di Riau sudah turun (hotspots). Kita mempunyai 46 helikopter yang bekerja di lapangan," papar Menteri LHK.

Dalam kesempatan itu, Siti Nurbaya mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada transboundary haze (asap lintas negara). Ia menegaskan bahwa puncak asap tertinggi terjadi pada 8 September pagi, namun hal itu hanya terjadi satu jam karena angin bergerak ke arah barat laut. 

"Dari Kalimantan dan Serawak, Kalimantan Barat, Serawak dan Semenanjung Malaysia. Jadi jangan bilang hanya dari Indonesia gitu lho. Barangkali Kalimantan Barat kan sudah kelihatan seperti apa," kata Siti Nurbaya seraya memperlihatkan gambar dari Badan Meteorologi Kilmatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait sebaran asap.

Siti Nurbaya menjelaskan, bahwa dirinya sudah melaporkan kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM Wiranto terkait kebakaran hutan dan lahan. Bahkan, pihak Kementerian LHK telah melakukan pertemuan dengan BMKG.

"Kita sudah punya pola sistematis. Monitoring dilakukan. Pemadaman oleh Manggala Agni, Polri, TNI, masyarakat semua dilakukan. Terus pesawat ada 46 unit sekarang. Sebanyak 17 pesawat  di Riau dan 11 pesawat di Sumsel, dan 7 pesawat masing-masing di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Sebetulnya langkah dilakukan terus. Memang fluktuatif. Tidak mudah, mudah-mudahan makin baik," tutup Siti

Berasal dari local hot Spots

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Dwikorita Karnawati menegaskan, berdasarkan pengamatan citra satelit Himawari-8 dan Geohotspot BMKG, asap yang terdeteksi di Semenjung Malaysia pada 5–7 September 2019 berasal dari local hotspots.

“Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel yang didukung dengan satelit Himawari-8, akumulasi CO (gas karbon monoksida) perairan Laut Cina Selatan, diperkirakan berasal dari hotspot di Serawak, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan Barat,” kata Dwikorita dalam keterangan pers di Kantor Kementerian LHK, Selasa (10/9)

Dalam penjelasnnya, Dwikorita  menjelaskan, berdasarkan pengamatan Citra Satelit Himawari, teridentifikasi adanya peningkatan jumlah titik-titik panas secara mencolok di beberapa wilayah ASEAN, terutama di wilayah Semenanjung Malaysia dan sebagian Vietnam pada 4-5 September 2019. 

Menurut Dwikorita, terlihat terjadi penurunan jumlah titik-titik panas pada tanggal tersebut di wilayah Riau (dekat perbatasan Malaysia) dikarenakan terjadi hujan di Riau dengan curah hujan sebesar 23 milimeter. Arah angin pada saat itu di wilayah perbatasan Riau dengan Semenanjung Malaysia dari Tenggara ke Barat Laut dengan kecepatan 5 hingga 10 knots. 

Ia memaparkan bahwa berdasarkan pengamatan BMKG, terjadi lonjakan jumlah titik-titik panas pada 6 September 2019 di wilayah Riau, Semenanjung Malaysia dan Vietnam.

Lonjakan jumlah hotspot semakin terlihat hampir merata di wilayah Semenanjung Malaysia pada 7 September 2019, meningkat secara signifikan dari 1038 titik panas pada 6 September menjadi 1.423 titik panas pada tanggal 7 September 2019.

Sementara itu, di wilayah Riau dan perbatasan Sumatera Timur dengan Malaysia terjadi penurunan jumlah titik panas secara signifikan, dari 860 titik panas pada 6 September menjadi 544 titik panas pada 7 September 2019.

“Asap di Sumatra (Riau) tidak terdeteksi melintasi Selat Malaka karena terhalang oleh angina kencang dan dominan di Selat Malaka yang bergerak dari arah Tenggara ke Barat Laut,” kata Dwikorita. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More